KONSEP DASAR AKUNTANSI

Entitas dan Kegiatan Usaha

Pada dasarnya, seluruh manusia di dunia ini hidup untuk bertahan hidup (life to survive). Untuk tujuan inilah manusia melakukan kegiatan usaha, yaitu mengolah sumber daya yang tersedia menjadi sumber daya lainnya. Karena manusia tidak dapat menciptakan dan mengolah sumber daya sendiri, terjadilah transaksi pertukaran sumber daya. Pertukaran ini dapat menjadi adil, jika seluruh sumber daya diukur menggunakan alat ukur yang sama. Manusia modern menggunakan uang untuk tujuan ini.

Namun, terbatasnya sumber daya dan kemampuan untuk menguasainya membuat manusia tidak dapat melakukan kegiatan bertahan hidup secara sendiri-sendiri. Oleh karena itu, manusia modern menciptakan subsistem-subsistem untuk melakukan kegiatan usaha. Subsistem-subsistem ini memiliki fungsi masing-masing yang saling terintegrasi membentuk sistem ‘kehidupan’. Subsistem ini disebut sebagai entitas usaha. Contoh dari entitas usaha adalah, universitas, lembaga penelitian, perusahaan, koperasi, pemerintah, BUMN, lembaga sosial masyarakat (LSM), partai politik, organisasi keagamaan, dan lain sebagainya. Disebut entitas usaha karena entitas tersebut melakukan kegiatan usaha apapun bentuk dan tujuan usahanya.

Uang merupakan alat pertukaran dan suatu ukuran sumber daya dari suatu entitas. Dalam melakukan kegiatan usaha, setiap entitas pasti menggunakan uang. Apapun jenis entitasnya, baik entitas non-profit seperti pemerintahan dan LSM, maupun entitas bisnis seperti perusahaan dan BUMN.

Entitas dalam melakukan kegiatan usaha memiliki saling keterkaitan. Tidak ada entitas yang secara sendiri dapat melakukan kegiatan usaha dan menguasai seluruh sumber daya. Oleh karena itu, setiap entitas perlu untuk melaporkan penggunaan uang sebagai sumber daya yang digunakan dalam kegiatan usahanya kepada entitas lain yang berkepentingan. Jika pencatatan dan pelaporan penggunaan uang tidak dilakukan dengan benar, pengolahan sumber daya yang tersedia oleh entitas-entitas yang saling berkaitan ini tidak akan menjadi efektif dan efisien. Akibatnya, keseimbangan sistem ‘kehidupan’ dapat terganggu. Atau dalam kata lain, kesejahteraan bersama umat manusia tidak akan tercapai.

Disinilah peran akuntansi, yaitu untuk mencatat dan melaporkan kegiatan usaha dalam bentuk laporan keuangan. Tujuannya secara makro, agar setiap entitas yang saling terintegrasi dalam sistem kehidupan dapat mengendalikan penggunaan sumber daya yang ada.

Akuntansi

Selama berabad-abad akuntansi telah digunakan sebagai alat pelaporan keuangan suatu entitas kepada pihak yang berkepentingan. Dalam hal ini, akuntansi dapat dikatakan sebagai bahasa bisnis yang digunakan oleh pelapor (entitas pelapor) untuk ’menceritakan’ kegiatan usahanya terkait dengan penggunaan uang ke pihak-pihak yang berkepentingan. Sebagai contoh, pemilik menyerahkan Rp1.000.000 ke entitas. Pada akhir periode, entitas telah mengolah Rp1.000.000 tadi menjadi Rp2.000.000. Tanpa diberi ’cerita’ mengenai apa yang telah entitas lakukan atas Rp1.000.000 yang diserahkan pemilik pada awal periode, pemilik tidak akan tahu perubahan Rp1.000.000 menjadi Rp2.000.000 asalnya dari mana.

Hingga saat ini, para teoris akuntansi masih belum sepakat mengenai definisi akuntansi. Beberapa dari mereka mendefinisi akuntansi sebagai seni, beberapa mendefinsi akuntansi sebagai sains terapan, dan beberapa mendefinisi akuntansi sebagai teknologi. Akuntansi dapat dikatakan sebagai kerajinan (art) karena orang yang akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan akuntansi harus terjun langsung dalam dunia praktik dan mengerjakan magang (apprenticeship) pada praktisi (Suwardjono, 2005). Sedangkan akuntansi disebut sebagai sains dengan penjelasan berikut ini (Stanley, 2007):

Accounting is comprised of general principles pertaining to the environment from which it draws and serves. It is an administrative information science [Salvary 1979;1985;1989;1992]. “A science often is described as a systematic body of knowledge; a complete array of essential principles or facts, arranged in a rational dependence or connection; a complex of ideas, principles, laws forming a coherent whole. . .” [Johnson; Kast; and Rosenzweig 1967:4]. Consistent with the foregoing description, accounting emerges as an empirical science. Specifically, it is concerned with events and measures relevant to efficient organizational control and planning.

Selain didefinisikan sebagai seni dan sains, akuntansi juga didefinisikan sebagai teknologi.  Dalam buku ini, penulis mendefinisikan akuntansi sebagai:

suatu teknologi yang digunakan oleh entitas untuk merekacipta data-data keuangan sehingga menjadi informasi yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan sebagai dasar pengambilan keputusan.

Dari definisi ini dapat ditarik empat kata kunci yaitu,

  • teknologi
  • perekaciptaan informasi keuangan
  • pengambilan keputusan
  • pihak-pihak yang berkepentingan

Teknologi berasal dari Bahasa Yunani technología (τεχνολογία) yang memiliki dua kata dasar yaitu téchnē (τέχνη), suatu ‘seni’ atau ‘keterampilan’ dan -logía (-λογία), ilmu yang mempelajari sesuatu atau cabang suatu pengetahuan. Organisation for Economic Cooperation and Development (2001) mendefinisikan teknologi secara luas sebagai,

“The currently known ways of converting resources into outputs desired by the economy” (Griliches, 1987) and appears either in its disembodied form (such as new blueprints, scientific results, new organizational techniques) or embodied in new products (advances in the design and quality of new vintages of capital goods and intermediate inputs).

Dalam definisi ini, teknologi adalah suatu cara untuk mengubah sumber daya menjadi hasil. Teknologi tidak harus dalam bentuk berwujud tetapi dapat juga dalam bentuk takberwujud. Akuntansi dapat dikatakan sebagai teknologi yang merupakan penerapan pengetahuan dan ketrampilan yang melibatkan proses perekaciptaan (engineering), dan digunakan untuk membantu manusia dalam mengolah data-data transaksi menjadi informasi keuangan yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan.

Kata kunci kedua dari definisi akuntansi adalah perekaciptaan informasi keuangan. Saat ini, definisi perekaciptaan informasi keuangan telah bergeser menjadi lebih luas. Dahulu, definisi akuntansi terbatas pada perekaciptaan informasi keuangan kuantitatif, yaitu sistem yang mencatat dan mengolah data-data transaksi sehingga menjadi informasi keuangan kuantitatif. Sistem pengolahan transaksi ini diawali dari penjurnalan (pencatatan data transaksi), pemindahbukuan (posting), dan diakhiri dengan dihasikannya laporan keuangan kuantitatif. Namun, perkembangan bisnis yang semakin kompleks membuat persyaratan pengungkapan informasi kualitatif yang mendukung informasi keuangan kuantitatif menjadi lebih penting dan mendetail. Pengungkapan informasi kualitatif ini merupakan bagian takterpisahkan dari laporan keuangan, yang bertujuan untuk menyediakan informasi keuangan yang jujur dan wajar, agar pengambilan keputusan dapat dilakukan atas dasar informasi yang cukup, andal, dan menyeluruh.

Kata kunci ketiga yaitu pengambilan keputusan, merupakan tujuan utama dari penggunaan informasi keuangan. Pengambilan keputusan dalam akuntansi dibagi menjadi dua, pengambilan keputusan internal dan pengambilan keputusan eksternal. Pengambilan keputusan internal adalah pengambilan keputusan bagi pihak internal yaitu manajemen, untuk kepentingan terkait pengendalian sumber daya (input) dan hasil (output) yang dikelola, pertanggungjawaban, dan perancangan strategi. Sedangkan pengambilan keputusan eksternal adalah pengambilan keputusan bagi pihak eksternal seperti kreditur dan pemilik, untuk kepentingan terkait pemberian pinjaman, analisis kinerja, atau penambahan modal. Selain itu, pihak eksternal lain seperti pemerintah, akan membutuhkan informasi keuangan untuk pengambilan keputusan terkait dengan pengelolaan pajak dan sumber daya ekonomi.

Kata kunci terakhir, yaitu pihak-pihak berkepentingan (stakeholders), adalah seluruh pihak yang memiliki kepentingan atas entitas, termasuk di dalamnya adalah pihak-pihak berelasi (related parties). Entitas perlu melaporkan laporan keuangan bagi pihak-pihak berkepentingan sebagai bentuk akuntabilitas (pertanggungjelasan) dan transparansi atas kegiatan entitas dalam menggunakan uang. Namun, tujuan utama penyediaan informasi keuangan entitas adalah memberikan dasar bagi pihak-pihak berkepentingan dalam pengambilan keputusan, terutama terkait dengan keputusan-keputusan ekonomik. Berikut ini merupakan contoh beberapa pihak-pihak berkepentingan dan kaitannya dengan kebutuhan informasi untuk pengambilan keputusan.

Pihak-Pihak Berkepentingan Pengambilan Keputusan Terkait
Manajemen (internal) Pengendalian, perancangan strategi
Pemilik (eksternal) Terkait kinerja manajemen, penambahan modal
Kreditor (eksternal) Pemberian pinjaman
Pemerintah (eksternal) Perpajakan, strategi ekonomi makro
Pelanggan (eksternal) Loyalitas
Pemasok (eksternal) Kerjasama pemasokan barang dagangan

Tabel 1.1 Pihak Berkepentingan dan Pengambilan Keputusan

Berdasarkan pihak-pihak berkepentingan dan tujuan pengambilan keputusan, laporan keuangan dibedakan menjadi dua. Laporan keuangan yang tujuan penyajiannya untuk seluruh pihak berkepentingan disebut dengan laporan keuangan bertujuan umum (general purpose financial statements), sedangkan laporan keuangan yang tujuan penyajiannya untuk pihak-pihak tertentu disebut dengan laporan keuangan bertujuan khusus (specific purpose financial statements).

Laporan keuangan bertujuan umum dan khusus muncul karena setiap stakeholder memiliki kepentingan yang berbeda-beda atas entitas. Perbedaan kepentingan ini menimbulkan bentrokan kepentingan (conflict of interest). Sebagai contoh, investor ingin melihat laba yang tinggi, namun manajemen ingin menyajikan laba yang rendah sehingga pajak yang dibayar rendah (padahal pemerintah juga ingin melihat laba yang tinggi agar pembayaran pajak tinggi) dan agar karyawan tidak menuntut kenaikan gaji atau bonus. Perbedaan kepentingan semacam ini diatasi menggunakan laporan keuangan bertujuan umum. Tentu saja pembuatan laporan keuangan bertujuan umum diatur dalam standar akuntansi sedemikian rupa sehingga manajemen tidak dapat melakukan kecurangan-kecurangan didalamnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa lingkup pengaturan standar akuntansi adalah untuk laporan keuangan bertujuan umum.

Selain laporan keuangan bertujuan umum, entitas juga menyiapkan laporan keuangan bertujuan khusus untuk pihak-pihak tertentu yang berkepentingan atas entitas. Laporan keuangan bertujuan khusus ini menyajikan informasi yang lebih banyak dan lebih detail, tergantung dari kebutuhan informasi pihak tertentu tersebut. Contoh dari laporan keuangan bertujuan khusus adalah laporan pajak dan laporan prospektus.

Berikut ini definisi laporan keuangan bertujuan umum dalam PSAK 1 (revisi 2009): Penyajian Laporan Keuangan,

Laporan keuangan bertujuan umum (selanjutnya disebut sebagai ‘laporan keuangan’) adalah laporan keuangan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pengguna laporan.

SAK Syariah menjelaskan laporan keuangan bertujuan umum dalam kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan syariah sebagai berikut,

Kerangka dasar ini membahas laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statements), yang selanjutnya hanya disebut “laporan keuangan”, termasuk laporan keuangan konsolidasi. Laporan keuangan disusun dan disajikan sekurang-kurangnya setahun sekali untuk memenuhi kebutuhan sejumlah besar pengguna. Beberapa di antara pengguna ini memerlukan dan berhak untuk memperoleh informasi tambahan di samping yang tercakup dalam laporan keuangan. Namun demikian, banyak pengguna sangat bergantung pada laporan keuangan sebagai sumber utama informasi keuangan dan karena itu laporan keuangan tersebut seharusnya disusun dan disajikan dengan mempertimbangkan kebutuhan mereka. Laporan keuangan dengan tujuan khusus seperti prospektus dan perhitungan yang dilakukan untuk tujuan perpajakan tidak termasuk dalam kerangka dasar ini.

 

Prinsip

Teknologi bekerja berdasarkan prinsip. Sebagai contoh, sistem hidraulik bekerja berdasarkan prinsip jika suatu zat cair dikenakan tekanan, maka tekanan itu akan merambat ke segala arah dengan tidak bertambah atau berkurang kekuatannya (Hukum Pascal). Prinsip kaitannya dengan teknologi adalah, suatu aturan atau hukum yang mendasari operasi atau kerja teknologi.

Sebagai teknologi, akuntansi juga bekerja berdasarkan prinsip. Prinsip akuntansi adalah segala ideologi, gagasan, asumsi, konsep, postulat, kaidah, prosedur, metoda, dan teknik akuntansi yang tersedia baik secara teoretis maupun praktis yang berfungsi sebagai pengetahuan (Suwardjono, 2005). Prinsip akuntansi yang dijadikan dasar untuk menerapkan akuntansi disebut dengan Prinsip Akuntansi Berterima Umum (PABU)[1]. PABU dapat berupa standar akuntansi yang dikeluarkan oleh badan autoritatif maupun pedoman-pedoman akuntansi yang telah dipraktikkan (diterima oleh umum). Berikut ini beberapa PABU yang digunakan dalam menerapkan akuntansi.

  1. Kesatuan Usaha

Konsep dari prinsip ini adalah, entitas berdiri sendiri dan terpisah dari pemilik. Oleh karena itu, entitas harus melaporkan kegiatan usahanya pada pemilik. Selain itu, modal yang disetorkan pemilik pada entitas, dari sisi entitas merupakan utang entitas ke pemilik.

Dalam dunia bisnis, entitas bisnis dapat memiliki entitas lain melalui kepemilikan saham. Namun, untuk dapat disebut sebagai satu kesatuan usaha, entitas induk (yang memiliki entitas anak) harus memiliki pengendalian secara ekonomik atas entitas anak. Oleh karena itu, pengendalian secara ekonomik menjadi prinsip dalam menentukan bahwa beberapa entitas ada dalam satu kesatuan usaha.

  1. Kelangsungan Usaha (Going Concern)

Dalam prinsip ini, entitas didirikan untuk terus menerus melakukan usaha sampai waktu yang taktentu (bukan takterbatas). Oleh karena itu, entitas diasumsikan tidak akan menghentikan atau mengurangi skala usahanya di masa depan. Jika maksud yang seperti ini muncul, maka entitas harus melaporkan laporan keuangannya menggunakan basis yang berbeda. Prinsip kelangsungan usaha ini menjadi dasar bahwa laporan keuangan disusun atas dasar periode waktu (periodisasi/periodicity). Konsep ini akan dijelaskan lebih lanjut dalam siklus akuntansi.

  1. Konsep Pengukuran

Akuntansi berfungsi untuk mencatat data-data transaksi (pertukaran), dan mengukur besarnya transaksi dalam satuan moneter (Rp, $, ¥, dll). Jumlah uang dari transaksi inilah yang kemudian dilaporkan dalam laporan keuangan. Jika entitas hanya mencatat transaksi ke dalam akun, tanpa mengukur besarnya transaksi, maka informasi yang disajikan tidak akan berguna. Informasi keuangan akan berguna jika transaksi diukur besarannya. Sehingga, besarnya transaksi ini dapat diperbandingkan dalam satu entitas antar periode, maupun antar entitas antar periode. Saat ini terdapat beberapa dasar pengukuran transaksi.

Namun, pengukur yang paling sering digunakan adalah kos[2] (cost). Sebagai contoh, Wayne Enterprise menawarkan bangunannya seharga Rp2.000.000. Stark Industries tertarik untuk membeli, dan setelah melakukan negosiasi, pada akhirnya kedua pihak sepakat menghargai bangunan itu Rp1.000.000. Setelah itu, Stark Industries membeli bangunan Wayne Enterprise sesuai harga kesepakatan, yaitu Rp1.000.000. Bagi Stark Industries, Rp1.000.000 adalah kos bangunan. Dari contoh ini, maka kos dalam sudut pandang entitas pelapor, dapat didefinisikan sebagai pengukur atas transaksi (pertukaran). Penjelasan mengenai pengukuran transaksi akan dibahas lebih lanjut dalam bagian siklus akuntansi dan pembahasan setiap akun dalam bab-bab selanjutnya.

  1. Substansi Mengungguli Bentuk (Substance Over Form)

Dalam akuntansi, suatu transaksi atau peristiwa lain dicatat atas dasar substansi ekonomiknya, bukan hanya bentuk hukumnya. Sebagai contoh, Queen Industries memiliki sebuah bangunan yang disewakan ke Pym Technologies atas dasar sewa guna usaha. Dalam sewa menyewa ini, Pym Technologies mengendalikan manfaat ekonomik dari bangunan, selain itu Pym Technologies juga mengendalikan risiko ekonomik atas bangunan. Walaupun secara hukum bangunan dimiliki oleh Queen Industries, namun yang mencatat bangunan adalah Pym Industries. Hal ini dikarenakan akuntansi lebih mementingkan substansi ekonomik yang tercermin dari pengendalian manfaat dan risiko ekonomik dari bangunan.

  1. Asas Akrual

Asas akrual adalah, suatu transaksi atau peristiwa ekonomik diakui pada saat terjadinya (bukan pada saat kas dan setara kas diterima/dibayar) dan dicatat pada periode terjadinya. Asas akrual ini membuat laporan keuangan tidak hanya menyajikan informasi mengenai kas dan setara kas yang diterima atau dibayarkan, namun juga menyajikan informasi mengenai kewajiban untuk membayarkan kas di masa depan dan sumber daya yang merepresentasikan kas yang akan diterima di masa depan. Contoh dari penerapan asas akrual ini salah satunya adalah adanya akun piutang (pendapatan yang belum diterima kasnya) dan akun utang (kewajiban untuk membayarkan kas di masa depan).

  1. Biaya dan Manfaat

Akuntansi menggunakan prinsip bahwa dalam menyediakan informasi keuangan, biaya penyediaan informasi harus lebih kecil dari manfaatnya. Hal ini berimplikasi pada konsep materialitas. Dalam konsep materialitas, suatu informasi disebut material jika informasi tersebut dapat mempengaruhi pengambilan keputusan. Sebagai contoh, jika pada saat audit ditemukan bahwa entitas melakukan kesalahan pembukuan atas transaksi pada tahun sebelumnya senilai Rp1.000. Pendapatan rata-rata bulanan entitas adalah sekitar 3 Milyar Rupiah. Untuk melakukan koreksi, bukti-bukti transaksi harus dicari kembali dalam gudang dokumentasi. Berdasarkan konsep materialitas dan prinsip biaya dan manfaat, kesalahan pembukuan senilai Rp1.000 ini tidak harus (tetapi boleh) dikoreksi dalam laporan keuangan, karena Rp1.000 jumlahnya tidak material dan tidak akan mempengaruhi pengambilan keputusan. Selain itu, upaya untuk mencari dokumen pendukung transaksi tersebut bisa jadi cukup besar dan tidak sebanding dengan manfaatnya.

Dalam mencatat data, mengolah data, dan menyajikan informasi, biaya dalam melakukan semua hal ini harus lebih kecil dari manfaatnya. Sebagai contoh, perusahaan perseorangan yang melaporkan laporan keuangannya hanya kepada seorang pemilik tidak perlu menggunakan nilai wajar untuk menilai aset dan liabilitasnya, karena biaya penilaian aset dan liabilitas cukup mahal dan tidak akan sebanding dengan manfaat dilaporkannya laporan keuangan ke pemilik.

Standar Akuntansi

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, salah satu dari PABU adalah standar akuntansi. Standar akuntansi merupakan prinsip untuk menyajikan laporan keuangan yang diterima oleh umum karena dibuat oleh badan autoritatif melalui due process procedure. Sebagai gambaran, jika pelaporan keuangan diibaratkan sebagai kegiatan bercerita, maka standar akuntansi merupakan bahasa. Dalam contoh suatu entitas membeli sebuah mobil dan harus menceritakannya, maka standar akuntansi mengatur mengenai harus dicatat sebagai apakah mobil itu, dengan metode apa transaksi pembelian mobil itu diukur, dan informasi lain apa yang harus diungkapkan terkait dengan pembelian mobil itu. Oleh karena itu, si pencerita (entitas pelapor) dan pihak yang diberi cerita (pihak-pihak berkepentingan), akan memiliki pemahaman yang sama atas cerita dan kegiatan nyata yang terjadi.

Saat ini Indonesia memiliki empat pilar standar akuntansi yaitu, Standar Akuntansi Keuangan (SAK), Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP), Standar Akuntansi Keuangan Syariah (SAK Syariah), dan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP).

SAK adalah standar akuntansi yang digunakan oleh entitas bisnis yang berakuntabilitas publik. Suatu entitas disebut berakuntabilitas publik jika entitas tersebut memiliki fungsi fidusia (memegang kepentingan orang banyak). Contoh entitas bisnis yang memiliki fungsi fidusia adalah bank dan perusahaan yang go public. SAK terdiri dari Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK), Intepretasi atas Standar Akuntansi Keuangan (ISAK), Pencabutan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PPSAK) dan Panduan Implementasi. Badan autoritatif yang mengeluarkan SAK adalah Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK). Saat ini, SAK masih terus dikonvergensikan dengan International Financial Reporting Standards (IFRS). Hal ini merupakan hasil dari kesepakatan negara-negara anggota G-20 dengan tujuan untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan keterbandingan laporan keuangan antar entitas di negara-negara G-20. Salah satu keuntungan dari konvergensi IFRS ini adalah penurunan kos modal (cost of capital). Ibaratkan SAK sebagai bahasa. Suatu ketika, entitas pelapor di Indonesia ingin meningkatkan modalnya dengan mencari investor dari luar negeri. Karena bahasa akuntansi yang digunakan oleh entitas pelapor (SAK) sudah sama dengan bahasa akuntansi yang digunakan oleh investor dari luar negeri (IFRS), investor dari luar negeri akan memiliki pemahaman yang sama atas laporan keuangan yang disajikan oleh entitas pelapor. Hal ini akan membantu investor untuk lebih percaya dalam menginvestasikan dananya ke entitas pelapor. Dalam hal ini, penurunan kos modal telah terjadi. Selain itu, dengan bahasa yang sama, laporan keuangan antar entitas akan lebih mudah untuk saling diperbandingkan.

SAK ETAP adalah standar akuntansi untuk entitas tanpa akuntabilitas publik. Hal ini berarti, entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik, seperti contohnya perusahaan perseorangan dan small medium enterprise (SME), menggunakan standar akuntansi ini untuk menyajikan laporan keuangan. Prinsip dan persyaratan yang digunakan dalam SAK ETAP lebih mudah daripada SAK. Hal ini dikarenakan prinsip bahwa manfaat penyajian laporan keuangan harus lebih besar daripada kos penyajiannya. Jika entitas tanpa akuntabilitas publik menggunakan prinsip dan persyaratan yang ada dalam SAK, kos penyajian laporan keuangan akan lebih tinggi daripada manfaatnya.

SAK Syariah adalah standar akuntansi untuk melaporkan transaksi syariah. Jadi, jika suatu entitas memiliki produk syariah, maka transaksinya dicatat menggunakan SAK Syariah. Hal ini berarti, jika ada suatu entitas berakuntabilitas publik (misalnya bank), dan entitas tersebut memiliki transaksi syariah, maka laporan keuangannya akan menggunakan dua standar akuntansi yaitu, SAK dan SAK Syariah. Badan autoritatif yang mengeluarkan SAK Syariah adalah Dewan Standar Akuntansi Syariah (DSAS).

SAP adalah standar akuntansi yang digunakan untuk sektor pemerintahan. SAP ada dalam yurisdiksi pemerintah dan disusun oleh Komite Standar Akuntansi Pemerintahan (KSAP). Hingga saat ini, SAP merupakan standar akuntansi yang masih belum memiliki prinsip akuntansi yang kuat dan belum diterapkan dengan sempurna.

Di luar negeri, sektor pemerintahan masuk dalam sektor publik, sama seperti organisasi non-profit. Salah satu standar akuntansi sektor publik adalah International Public Sector Accounting Standards (IPSAS). Sebagai sektor publik, pemerintahan maupun organisasi non-profit memiliki karakteristik yang sama, yaitu tidak mengenal konsep laba dan berakuntabilitas ke publik. Karena tidak mengenal konsep laba, akuntansi yang digunakan oleh sektor publik adalah akuntansi dana. Dalam akuntansi dana, laporan keuangan menyajikan penerimaan dan penggunaan dana. Di Indonesia, akuntansi pemerintahan terpisah dari organisasi non-profit, walaupun sama-sama sektor publik. Saat ini, akuntansi untuk organisasi non-profit diatur dalam PSAK 45: Pelaporan Keuangan Organisasi Nirlaba. Jadi, organisasi non-profit seperti yayasan atau lembaga sosial masyarakat melaporkan aliran dananya menggunakan PSAK 45 ini. Ke depan, DSAK berencana untuk membuat pilar tersendiri bagi organisasi non-profit. Hal ini dikarenakan standar akuntansi untuk organisasi non-profit memiliki prinsip akuntansi yang berbeda dengan SAK.

Karakteristik Kualitatif

Suatu laporan keuangan harus memenuhi kualitas tertentu agar bermanfaat bagi penggunanya. Di dalam SAK, bagian Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK), disebutkan beberapa karakteristik kualitatif dari laporan keuangan. Berikut ini karakteristik kualitatif informasi akuntansi yang secara umum digunakan:

  • Dapat dipahami (Understandability): Suatu informasi akuntansi harus dapat dipahami oleh semua penggunanya. Diasumsikan pengguna dari informasi akuntansi adalah pihak-pihakyang memiliki pengetahuan di bidang akuntansi. Namun, karakteristik ini tidak membatasi penyajian informasi yang kompleks dan sulit untuk dipahami, namun bermanfaat untuk pengambilan keputusan.
  • Keandalan (Reliability): Suatu informasi akuntansi harus dapat diandalkan oleh pengguna. Disebut sebagai andal jika informasi tersebut bebas dari informasi yang menyesatkan dan kesalahan material.
  • Relevansi (Relevance): Suatu informasi akuntansi harus relevan untuk pengambilan keputusan. Lebih jelasnya, informasi akuntansi ini harus relevan untuk pengambilan keputusan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
  • Keterbadingan (Comparability): Suatu informasi akuntansi harus dapat diperbandingkan, baik dalam satu entitas antar periode pelaporan, maupun antar entitas, dan antar entitas antar periode.
  • Penyajian yang Jujur dan Wajar (True and Fair Presentation): Suatu informasi akuntansi harus disajikan dengan jujur dan wajar. Penyajian jujur artinya tidak ada informasi yang disembunyikan atau dimanipulasi (jujur), sedangkan penyajian wajar artinya menyajikan informasi keuangan sebagaimana adanya (wajar).

Persamaan Akuntansi dan Debit Kredit

Dasar dari akuntansi adalah persamaan akuntansi. Persamaan akuntansi dibuat untuk menunjukkan sumber dari aset yang dikelola entitas, dan mencerminkan prinsip kesatuan usaha. Pemahaman dalam persamaan akuntansi akan menentukan pemahaman mengenai penjurnalan debit kredit. Oleh karena itu, bagian ini merupakan bagian krusial yang benar-benar harus dipahami dalam mempelajari akuntansi. Berikut ini persamaan dasar akuntansi[3]:

Aset = Liabilitas + Ekuitas

 

Persamaan di atas menunjukkan kondisi awal ketika entitas belum melakukan kegiatan usaha, dan dapat dibaca bahwa, aset (sumber daya) yang dikelola entitas asalnya dari; liabilitas (kewajiban kepada kreditur) dan ekuitas (kewajiban kepada pemilik). Dengan kata lain, dari sisi kreditur, liabilitas adalah hak kreditur atas aset entitas, sedangkan dari sisi pemilik, ekuitas adalah hak pemilik atas aset entitas. Persamaan ini menggunakan urutan liabilitas lebih dahulu daripada ekuitas, karena dalam konsep bisnis, kreditur memiliki hak untuk menagih miliknya lebih dulu daripada pemilik. Sebagai contoh, dalam kebangkrutan, entitas harus mengembalikan hak milik kreditur terlebih dahulu. Konsep ini membuat ekuitas juga dapat didefinisikan sebagai hak residual pemilik, atau disebut juga hak pemilik atas aset bersih (Aset – Liabilitas = Ekuitas). Selain itu, ekuitas dalam persamaan dasar ini sama dengan modal yang disetorkan oleh pemilik (Ekuitas = Modal).

Dalam akuntansi, ruas kiri dari persamaan disebut sebagai debit dan ruas kanan persamaan disebut sebagai kredit. Istilah debit berasal dari Bahasa Latin dẽbẽre (kata kerja) yang artinya adalah ‘mengutang’ atau meminjam. Sedangkan istilah kredit berasal dari Bahasa Latin crẽdere (kata kerja) yang artinya adalah mempercayai.

 

Aset Liabilitas + Ekuitas
Dr (Dẽbẽre) – Debit Cr (Crẽdere) – Kredit
Meminjam Mempercayai

 

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa aset yang dikuasai entitas asalnya dari meminjam, sedangkan liabilitas dan ekuitas menunjukkan bahwa kreditur dan pemilik mempercayai entitas untuk mengelola hak miliknya (liabilitas/hak milik kreditur dan ekuitas/hak milik pemilik). Oleh karena itu, jelas sekali bahwa debit kredit bukan merupakan suatu konsensus dan tidak dapat dibolak-balik.

Berdasarkan konsep bisnis, suatu entitas bisnis didirikan untuk melakukan usaha, yang mana hasil usaha dari entitas ini adalah milik dari pemilik. Dalam melakukan usaha, entitas mengeluarkan upaya untuk mendapatkan hasil. Dalam akuntansi, upaya ini disebut

sebagai biaya (dalam standar akuntansi disebut sebagai beban[4]), sedangkan hasil disebut sebagai pendapatan. Kinerja entitas bisnis (atau dapat disebut juga kinerja manajemen karena entitas bisnis dikelola oleh manajemen) dapat dilihat dari seberapa efektif dan efisien entitas tersebut mengeluarkan biaya untuk mendapatkan pendapatan. Efisiensi dan efektifitas ini dapat dilihat dari laba (selisih positif dari pendapatan dikurangi biaya) atau rugi (selisih negatif dari pendapatan dikurangi biaya). Setelah adanya kinerja, maka persamaan akuntansi dasar berubah menjadi persamaan ekstensi:

 

Aset = Liabilitas + Ekuitas

≈ Aset = Liabilitas + (Ekuitas + (Laba/-Rugi))

≈ Aset = Liabilitas + (Ekuitas + (Pendapatan – Biaya))

 

Baris pertama persamaan ekstensi di atas menunjukkan bahwa sebelum entitas melakukan kinerja, aset berasal dari liabilitas dan ekuitas (dalam hal ini ekuitas sama dengan modal). Baris kedua menunjukkan bahwa setelah entitas melakukan kinerja, aset yang dikelola entitas sekarang asalnya berubah karena penambahan karena laba atau pengurangan karena rugi. Berdasarkan prinsip kesatuan usaha, entitas bekerja untuk pemilik. Oleh karena itu, hasil kinerja positif entitas (laba) adalah hak dari pemilik dan hasil kinerja negatif dari entitas (rugi) adalah tanggung jawab pemilik, sehingga laba/rugi merupakan komponen yang menambah/mengurangi ekuitas. Jadi, ekuitas dalam persamaan ekstensi tidak lagi sama dengan modal (ekuitas = modal + laba/-rugi). Tanda kurung dalam persamaan ekstensi di atas hanya menunjukkan bahwa kinerja entitas merupakan hak/tanggung jawab pemilik. Sehingga peningkatan/penurunan aset yang dikelola entitas dalam ruas kiri berubah karena peningkatan/penurunan kinerja entitas yang merupakan hak/tanggung jawab pemilik dalam ruas kanan.

Selanjutnya, persamaan ekstensi akuntansi dijabarkan lagi:

 

Aset = Liabilitas + (Ekuitas + (Pendapatan – Biaya))

≈ Aset + Biaya = Liabilitas + Ekuitas + Pendapatan

 

Penjabaran persamaan di atas adalah penjabaran secara matematis. Secara matematis, jika suatu variabel negatif di ruas kanan dipindah ke ruas kiri, maka variabel tersebut akan menjadi positif. Persamaan di atas menunjukkan bahwa biaya yang merupakan variabel negatif di ruas kanan telah dipindah ke ruas kiri, sehingga dalam kedua ruas persamaan, seluruh variabel yang ada adalah positif. Dalam akuntansi, kelima variabel ini disebut sebagai elemen laporan keuangan.

Sekarang, jika ruas kiri adalah debit (Dr) dan ruas kanan adalah kredit (Cr), maka:

  • Aset dan biaya berada di sisi debit jika bertambah, dan
  • Liabilitas, ekuitas, dan pendapatan berada di sisi kredit jika bertambah.

Jika elemen-elemen persamaan akuntansi ini berkurang (negatif), maka agar menjadi positif, elemen-elemen ini harus dipindah ruaskan. Hal ini yang menjadi dasar bahwa dalam penjurnalan, tidak ada angka negatif, baik dalam debit maupun dalam kredit. Oleh karena itu, sebagai contoh, jika aset berkurang maka aset akan berada di sisi kredit (bukan negatif di sisi debit).

Konsep di atas ini mendasari penjurnalan dan pelaporan keuangan. Dalam penjurnalan, terdapat postulat yang merupakan representasi dari konsep persamaan akuntansi dan debit kredit yaitu,

  • Jurnal selalu dibuat berpasangan (double entry).
  • Setiap transaksi yang terjadi direpresentasikan dalam minimal satu elemen di ruas kiri (debit) dan satu elemen di ruas kanan persamaan (kredit).
  • Jumlah yang disajikan dalam ruas kiri selalu sama dengan ruas kanan.
  • Tidak ada jurnal yang menunjukkan angka negatif.

Berikut ini penggambaran penjurnalan berdasarkan konsep persamaan akuntansi dan debit kredit yang telah dijabarkan di atas,

  1. Suatu entitas mendapat pendapatan dari penjualan bangunan senilai Rp100.000.000
Jurnal Penjelasan Konsep
Dr Aset (kas)               Rp100.000.000

Cr     Aset (bangunan)           Rp100.000.000

Dalam penjualan bangunan, entitas menjual bangunan (aset berkurang) oleh karena itu aset (bangunan) ada di sisi kanan (kredit), bukan negatif di sisi debit. Selain itu, entitas menerima kas (aset bertambah) oleh karena itu aset (kas) ada di sisi kiri (debit).
  1. Suatu entitas membeli mobil secara mencicil75.000.000, dan telah membayar tunai Rp5.000.000
Jurnal Penjelasan Konsep
Dr Aset (mobil)                       Rp75.000.000

Cr        Aset (kas)                    Rp5.000.000

Cr        Liabilitas (utang)          Rp70.000.000

 

Dalam pembelian mobil secara mencicil, entitas memperoleh mobil (aset bertambah) oleh karena itu aset ada di sisi kiri (debit). Pembelian mobil ini dilakukan secara mencicil namun entitas telah membayar tunai sebagian. Dalam pembayaran tunai, kas (aset) berkurang, oleh karena itu ada di sisi kanan (kredit). Selain itu, entitas harus mencatat utang dari pembelian mobil yang masih belum lunas (liabilitas bertambah), oleh karena itu ada di sisi kanan (kredit).

Akuntansi menyajikan informasi dalam bentuk laporan keuangan, karena pengguna akan lebih mudah membaca informasi keuangan dalam bentuk laporan, bukan dalam bentuk persamaan akuntansi. Oleh karena itu, persamaan akuntansi direpresentasikan dalam laporan keuangan sebagai berikut,

  • Neraca (Laporan Posisi Keuangan) merupakan representasi dari persamaan dasar, Aset = Liabilitas + Ekuitas.
  • Laporan Perubahan Ekuitas, menunjukkan perubahan ekuitas karena entitas melakukan kinerja yaitu, Ekuitas = Modal + Laba atau -Rugi
  • Laporan Laba/Rugi, menunjukkan kinerja entitas yaitu, Laba/Rugi = Pendapatan – Biaya

Ketiga laporan keuangan di atas saling berartikulasi merepresentasi persamaan ekstensi akuntansi seperti yang dapat dilihat dalam ilustrasi berikut,

Ilustrasi di atas juga menggambarkan aliran perhitungan laporan keuangan (dari kanan ke kiri) yang dimulai dari menghitung total laba/rugi, kemudian laba/rugi ini digunakan untuk menghitung perubahan ekuitas, dan hasil ekuitas akhir ini ditampilkan di Neraca untuk menunjukkan sumber dari aset sesuai dengan persamaan akuntansi.

Laporan keuangan di atas hanya merupakan penggambaran logika akuntansi dari persamaan akuntansi. Laporan keuangan dan komponen-komponennya akan dijelaskan lebih lanjut dalam pembahasan di bab-bab selanjutnya.

Elemen dan Akun Laporan Keuangan

Elemen-elemen laporan keuangan memiliki komponen penyusun yang lebih kecil dan tidak dapat dipecah lagi yang disebut dengan akun (kadang juga disebut sebagai pos, dalam IFRS disebut sebagai item). Tujuan dari pemecahan elemen-elemen ke dalam akun-akun adalah, agar laporan keuangan lebih informatif dan merepresentasi transaksi secara detail. Sebagai contoh, akan tidak informatif jika entitas menyajikan kenaikan aset (Dr) pada penurunan aset (Cr) untuk merepresentasi penjualan gedung. Oleh karena itu, penjualan gedung dicatat dalam jurnal, kas (Dr) pada gedung (Cr).

Jadi, jika terdapat transaksi keuangan, transaksi tersebut dicatat dalam bentuk jurnal ke dalam akun-akun menggunakan postulat penjurnalan yang sudah dikemukakan sebelumnya. Kemudian pada akhir periode, akun-akun tadi dikelompokkan dalam masing-masing elemen dan disajikan di laporan keuangan untuk merepresentasi persamaan akuntansi.

Transaksi dicatat dalam akun-akun dan dikelompokkan dalam elemen-elemen sesuai dengan cakupan dalam definisi elemen. Berikut ini disajikan tabel yang berisi penjelasan kelima elemen laporan keuangan dan contoh akun-akunnya (disesuaikan dengan Standar Akuntansi Keuangan).

Elemen Penjelasan Contoh Akun
Aset Definisi: Sumber daya yang dikuasai secara substansi ekonomik oleh entitas, berasal dari transaksi di masa lalu, dan manfaat ekonomik di masa depan diharapkan akan mengalir ke entitas.

 

Penyajian akun dalam Laporan Neraca: diklasifikasi dan diurutkan berdasarkan kelancaran (tingkat kemudahan aset untuk dikonversikan menjadi kas atau setara kas). Aset tidak lancar dibagi menjadi investasi, aset berwujud, dan aset takberwujud.

Kategori aset lancar:

Kas, Surat Berharga, Piutang, Perlengkapan Kantor, Biaya Dibayar di Muka, Persediaan

Kategori aset tidak lancar:

Investasi: Investasi Jangka Panjang.

Berwujud: Aset Tetap, Properti Investasi, Tanah, Sewa Pembiayaan, Biaya Tangguhan, Aset dimiliki untuk dijual.

Takberwujud: Merk Dagang, lisensi, paten

Liabilitas Definisi: Kewajiban entitas masa kini, berasal dari transaksi di masa lalu, dan penyelesaiannya akan mengakibatkan aliran keluar sumber daya yang mengandung manfaat ekonomik.

 

Penyajian akun dalam Laporan Neraca: diklasifikasi dan diurutkan berdasarkan jangka waktunya. Liabilitas yang jangka waktunya kurang dari 1 tahun masuk dalam kategori liabilitas jangka pendek. Liabilitas jangka panjang yang sudah memasuki tahun terakhir, dipindahkan (reklasifikasi) ke liabilitas jangka pendek.

Kategori Liabilitas Jangka Pendek:

Utang Usaha, Utang Bank, Pendapatan Diterima di Muka, Provisi Jangka Pendek

Kategori Liabilitas Jangka Panjang: Utang Obligasi, Utang Jangka Panjang, Provisi Jangka Panjang
Ekuitas Definisi: Hak residual atas aset setelah dikurangi liabilitas.

 

Penyajian akun dalam Laporan Neraca: disajikan di bawah liabilitas.

Modal yang telah Disetor, Saldo Laba
Pendapatan Definisi: Hasil dari usaha entitas berupa aliran masuk manfaat ekonomik yang

 

Penyajian akun dalam Laporan Laba/Rugi: diklasifikasikan berdasarkan pendapatan rutin (operasi dan non operasi) dan pendapatan tidak rutin (untung/gain).

Kategori Pendapatan Operasi: Pendapatan Usaha

Kategori Pendapatan Non Operasi: Pendapatan Bunga, Pendapatan

Kategori Untung: Untung Penjualan Aset Tetap, Untung Revaluasi Aset, Untung Selisih Kurs

Biaya Definisi: Usaha entitas untuk mendapatkan pendapatan berupa aliran keluar manfaat ekonomik yang

 

Penyajian akun dalam Laporan Laba/Rugi: diklasifikasikan berdasarkan biaya rutin (operasi dan non operasi) dan biaya tidak rutin (rugi/loss).

Kategori Biaya Operasi:

Kategori Biaya Non Operasi:

Kategori Rugi: Rugi Penjualan Aset Tetap, Rugi Revaluasi Aset, Rugi Selisih Kurs

Tabel 1.2 Elemen dan Akun

 

Daftar Akun dan Sistem Informasi Akuntansi

Hingga bagian ini, dapat disimpulkan bahwa akuntansi pada dasarnya adalah mencatat transaksi dalam akun-akun, kemudian menyajikannya dalam bentuk persamaan akuntansi. Oleh karena itu, dapat digambarkan hubungan elemen dan akun sebagai berikut:

1* Aset = 2* Liabilitas + 3* Ekuitas + 4* Pendapatan – 5* Biaya  
11* Aset Lancar 21* Liabilitas Jangka Pendek 3101 Setoran Pemilik

3102 Distribusi ke Pemilik

41* Pendapatan Operasi 51* Biaya Operasi
1101 Kas

1102 Surat Berharga

1103 Piutang

1104 Perlengkapan kantor

1105Biaya dibayar di muka

1106 Persediaan

2101 Utang usaha 2102 Utang bank 4101 Pendapatan usaha 5101 Biaya listrik

5102 Biaya air

5103 Biaya gaji pegawai

22* Liabilitas jangka panjang 42* Pendapatan Non Operasi
2201Utang Obligasi

2202 Utang jangka panjang

4201 Pendapatan bunga 52* Biaya Non Operasi
5201 Biaya bunga

5202 Biaya pos

43* Untung
53* Rugi
4301 Untung penjualan aset tetap

4302 Keuntungan atas selisih kurs

5301 Kerugian penjualan aset tetap

5302 Kerugian atas selisih kurs

12* Aset Tidak Lancar
1201 Investasi Jangka Panjang

1301Aset tetap

1302 Properti investasi

1303 Tanah

1304 Aset dimiliki untuk dijual

13* Aset Takberwujud
1301 Merk dagang

1302 Paten

1303 Lisensi

Tabel 1.3 Ilustrasi Daftar Akun dalam Persamaan Akuntansi

Pada era teknologi informasi mobile sekarang ini, sangat tidak masuk akal jika akuntansi masih dilakukan secara manual dan disebut sebagai ‘pembukuan’. Oleh karena itu, komputerisasi akuntansi merupakan sebuah konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi. Karena akuntansi memiliki prinsip dasar matematika, maka akuntansi pasti dapat dikomputerisasikan. Berikut ini penjelasan mengenai dasar pemrograman basis data (database) untuk Sistem Informasi Akuntansi (SIA).

Kita ambil sebuah contoh. Sebuah entitas mendapat penerimaan kas yang asalnya dari jasa konsultasi akuntansi. Maka, dari transaksi ini dapat dibuat jurnal kas (Dr) pada pendapatan jasa (Cr) à untuk menunjukkan bahwa peningkatan aset (kas) asalnya dari pendapatan (pendapatan jasa). Dari penjurnalan transaksi ini, kita sebagai manusia dapat dengan mudah mengelompokkan kas ke dalam aset dan pendapatan jasa ke dalam pendapatan. Namun, komputer tidak dapat membaca apa yang membuat kas bisa menjadi bagian dari aset. Untuk dapat melakukan sesuatu, komputer harus diberi program yang terstruktur dan terpola, termasuk mengelompokkan akun-akun ke dalam elemen-elemennya. Disinilah peran dari daftar akun (chart of account).

Daftar akun merupakan sebuah daftar yang berisi akun-akun yang dimiliki oleh perusahaan. Jadi, segala transaksi yang terjadi dalam perusahaan, direpresentasikan dalam akun-akun yang ada di daftar ini. Tujuannya adalah agar pencatatan transaksi menjadi konsisten. Sebagai contoh, tanpa adanya daftar akun, seseorang dapat mencatat gedung dalam akun ‘gedung’ sedangkan orang lain mencatat dalam akun ‘bangunan’, atau seseorang mencatat penerimaan uang dalam akun ‘uang’ sedangkan orang lain mencatat dalam akun ‘kas’.

Dalam daftar akun, setiap akun memiliki kode akun. Kode akun ini memiliki pola yang dapat digunakan oleh komputer untuk mengelompokkan akun-akun dalam persamaan akuntansi. Lebih jelasnya lagi, dengan kode akun, komputer dapat melakukan automatisasi pelaporan keuangan.

Sebagai contoh, dalam tabel 1.3 dapat dilihat bahwa Aset memiliki kode 1*. Tanda asterisk (*) merupakan lambang dalam pemrograman basis data yang artinya dapat berisi karakter apapun. Jadi, kode 1* ini dibaca: kode depannya 1, belakangnya dapat diikuti digit berapapun. Jadi, semua akun yang memiliki kode digit depan 1, merupakan kelompok aset. Setelah itu, dapat dilihat dalam tabel 1.3 bahwa kas, piutang, perlengkapan kantor, persediaan memiliki kode digit kedua: 1 (sehingga kodenya adalah 11*), hal ini menunjukkan bahwa akun-akun ini masuk dalam kategori aset sub klasifikasi aset lancar. Selanjutnya, aset tetap, properti investasi, tanah, aset dimiliki untuk dijual, memiliki kode digit kedua: 3 (sehingga kodenya adalah 13*), hal ini menunjukkan bahwa akun-akun ini masuk dalam kategori aset sub klasifikasi aset tidak lancar. Contoh ini menunjukkan, jika terjadi transaksi seperti penerimaan kas yang asalnya dari jasa konsultasi akuntansi, manusia mencatat ke dalam komputer: kas (Dr) pada pendapatan jasa (Cr). Kemudian, dengan menggunakan query yang dibuat oleh manusia, komputer akan secara otomatis mengelompokkan kas yang berkode 1101 ke aset, dan pendapatan jasa yang berkode 4101 ke pendapatan. Jika hal ini sudah dilakukan, maka penyajian akun-akun ke dalam laporan keuangan sesuai dengan kelompoknya merupakan hal yang lebih mudah.

Dalam praktik, penomoran elemen dan akun dalam kode akun dapat bervariasi, tergantung kompleksitas bisnis dan macam-macam transaksi yang dimiliki oleh entitas. Semakin kompleks dan semakin banyak jenis transaksi, semakin banyak digit yang digunakan dalam kode akun. Secara normal, jumlah digit paling sedikit untuk kode akun adalah 3 digit. Digit pertama digunakan sebagai kode elemen dan dua digit selanjutnya adalah kode dari akun.

 

[1] Dalam Standar Akuntansi Keuangan, Generally Accepted Accounting Principle (GAAP) diterjemahkan sebagai Prinsip Akuntansi Berlaku Umum.

[2] Standar Akuntansi Keuangan menggunakan istilah biaya sebagai terjemahan dari cost. Secara konsep, cost adalah pengukur atas transaksi (pertukaran) dan menggunakan satuan moneter (Rp, $, ¥). Secara ilmiah, istilah untuk pengukur lebih baik untuk diserap jika tidak ada terjemahan yang sesuai. Hal ini juga akan lebih membantu dalam hal konsistensi penerjemahan. Seperti halnya gravity yang merupakan pengukur gaya tarik bumi dengan satuan g diserap menjadi gravitasi, maka menggunakan kaidah pembentukan istilah Bahasa Indonesia, cost diserap menjadi kos (analogi: credit-kredit, post-pos). Manfaat dari penerjemahan cost menjadi kos akan sangat terasa dalam pembahasan mengenai persediaan.

[3] Persamaan akuntansi diciptakan oleh Frater Luca Bartolomeo de Pacioli, seorang biarawan dan ahli matematika dari Italia. Persamaan ini dituliskan dalam bukunya, Summa de Aritmatica, Geometrica, Proportioni et Proportionalita,  yang terbit pada tahun 1949. Dalam buku ini, Luca Pacioli sudah menyebutkan metode venetian atau pencatatan double entry, yang merupakan representasi dari persamaan akuntansi.

[4] Istilah Beban (bahasa asing: Expense) dalam standar akuntansi sebetulnya tidak tepat. Secara logis, entitas harus melakukan upaya untuk mendapatkan hasil. Jika entitas tidak berupaya maka entitas tidak akan mendapatkan hasil. Oleh karena itu, upaya adalah suatu keharusan. Sebagai contoh, perusahaan ritel harus berupaya membeli barang dagangan. Jika perusahaan ritel tidak melakukan hal tersebut, maka perusahaan ritel tidak dapat melakukan usaha penjualan barang dagangan. Dalam Bahasa Indonesia, suatu upaya yang memang harus dilakukan tidak dapat disebut sebagai beban, karena beban memiliki konotasi negatif sebagai sesuatu yang memberatkan dan sedapat mungkin dihindari. Oleh karena itu, istilah beban tidak tepat untuk merepresentasi konsep expense. Bahasa Indonesia memiliki istilah yang lebih tepat untuk upaya yang memang harus dilakukan untuk mendapatkan hasil yaitu, biaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s