Menjawab Misteri Persamaan Akuntansi dengan Clearing Account

Kali ini topik yang akan saya ulas kembali adalah mengenai persamaan akuntansi. Ya, topik yang pernah saya bahas tahun 2009 (tautan) ini menyebabkan diskusi yang cukup seru bersama salah satu dosen saya melalui pos-el pada tahun 2014 dan, akan kembali saya bahas karena kemunculan paper ini.

Dari sudut pandang saya, sebenarnya isu yang muncul dari paper tersebut dan pembahasan berkepanjangan mengenai persamaan akuntansi adalah pendekatan mana yang akan digunakan untuk menjelaskan kepada para pembelajar akuntansi. Apakah pendekatan bahwa persamaan akuntansi merupakan persamaan aljabar atau persamaan akuntansi merupakan persamaan yang mencerminkan kejadian bisnis dan artikulasi laporan keuangan.

Menurut hemat saya, isu ini dapat dikaji dengan melihat akuntansi (khususnya pelaporan keuangan) sebagai suatu sistem, dan sebagai sistem, pasti ada input-proses-output.

Dari sudut pandang input, akuntansi mencatat transaksi menggunakan sistematika tertentu (aljabar tentunya), sehingga transaksi (atau kejadian ekonomik) tidak ada yang terlupakan, hilang, atau tak terlacak. Menurut saya intinya adalah, sudut pandang konsep accounting mathemathics atau persamaan aljabar akuntansi (konsep dalam paper) membahas persamaan akuntansi dari sudut pandang input. Melihat dari bagaimana transaksi dicatat ke dalam jurnal (debit kredit) dan dibuat dengan sistematika aljabar yang mencerminkan kejadian ekonomik dan diukur dalam satuan moneter. Dikarenakan persamaan akuntansi dipandang dari segi input menggunakan dasar aljabar, maka persamaan ini boleh saja dibolak-balik urutannya bahkan dipindah ruas, yang penting bisa menjelaskan penjurnalan dalam pencatatan transaksi.

Aset = Liabilitas + Modal + Pendapatan – Biaya. Agar biaya menjadi positif maka dipindah ruas ke kiri, sehingga persamaan tadi ekuivalen dengan Aset + Biaya = Liabilitas + Modal + Pendapatan >>> persamaan debit = kredit (lebih lengkapnya cek di tautan paper).

Dari sudut pandang output, akuntansi adalah proses menyajikan transaksi dan kejadian ekonomik ke para pemangku kepentingan. Dari sudut padang ini, akuntan harus melihat bagaimana informasi keuangan yang tersaji dalam laporan keuangan dapat meringkas kejadian ekonomik yang terjadi dalam satu periode untuk para pemangku kepentingan. Menyajikan informasi ini juga termasuk bagaimana suatu transaksi atau kejadian ekonomik dapat direpresentasikan dengan wajar dan jujur dalam elemen laporan keuangan. Sehingga, menggunakan sudut pandang output, persamaan akuntansi adalah persamaan yang merepresentasikan kejadian bisnis dalam bentuk elemen laporan keuangan. Dikarenakan persamaan ini merepresentasi kejadian bisnis, maka persamaan ini secara urutan seharusnya jangan dibolak-balik atau malah dipindah ruas, karena mengubah susunan elemen persamaan akan mengubah makna dari kejadian bisnis.

Persamaan dasar akuntansi, yaitu Aset = Liabilitas + Ekuitas mencerminkan kondisi bahwa aset yang dikuasai entitas asalnya dari kreditur (liabilitas) dan pemilik (ekuitas). Liabilitas diurutkan lebih dulu dari ekuitas dalam persamaan untuk menunjukkan kewajiban entitas pertama adalah kepada kreditur baru kemudian residualnya untuk pemilik. Persamaan ini mencerminkan prinsip entitas, yang mana entitas terpisah dari pemilik. Jika dilanjutkan, pada suatu saat, aset yang dikuasai entitas akan meningkat (atau menurun) ketika entitas melakukan kegiatan usaha sehingga mendapatkan laba (atau rugi) dalam berusaha. Jika upaya (biaya) lebih besar daripada hasil (pendapatan) maka entitas mengalami rugi, sebaliknya maka entitas akan mengalami laba. Kegiatan usaha ini akan menjadi hak atau tanggungan pemilik. Sehingga, dengan adanya kegiatan usaha, persamaan dasar akuntansi dijabarkan lagi menjadi,

Aset = Liabilitas + Ekuitas (+Pendapatan – Biaya). Persamaan ini menunjukkan bahwa aset yang dikuasai oleh entitas sumbernya dari liabilitas (kreditur) dan ekuitas (termasuk kegiatan usaha yang menjadi tanggungan atau hak pemilik).

Dengan menggunakan pendekatan input, pembelajar akan lebih mudah memahami konsep pencatatan transaksi ke dalam jurnal debit kredit. Namun dengan pendekatan output, pembelajar akan lebih memahami bahwa akuntansi merupakan suatu rangkaian proses yang hasil akhirnya adalah menyajikan informasi ekonomik bagi pemangku kepentingan, sedangkan input merupakan konsekuensi logis dari output yang diharapkan.

Contoh kemudahan pendekatan input (persamaan aljabar) adalah untuk menjelaskan jurnal yang mana salah satu akunnya bukan merupakan pos dari elemen laporan keuangan. Saya ambil contoh dari pengalaman saya menggunakan ERP.

Dalam proses ‘pembukuan’ modern yang menggunakan ERP, ada akun yang dinamakan dengan clearing account. Clearing account merupakan pos/akun yang bukan merupakan komponen laporan keuangan. Clearing account ini digunakan untuk keperluan pengendalian atau cek transaksi. Contohnya di MySAP adalah akun GR/IR Clearing dan BIC (Bank Incoming Clearing).

Clearing account ini sifatnya sementara dan akan dibersihkan secara berulang. Jika pada suatu periode tertentu belum dibersihkan, maka clearing account akan menjadi bagian dari backlog di ERP dan akan berpengaruh pada akurasi data laporan keuangan karena pada saat pelaporan, akun clearing ini akan dimasukkan ke pos laporan keuangan sesuai sifatnya.

Clearing account muncul pada saat:

  1. Adanya beda waktu antar kejadian transaksi (GR/IR Clearing, Clearing Others)
  2. Segregasi tugas dalam organisasi (Bank Incoming Clearing, Bank Outcoming Clearing)
  3. Transaksi akuntansi memerlukan klarifikasi

Contoh kejadian transaksi yang sering terjadi adalah, pada saat Purchase Order (PO) barang memasuki tanggal delivery, katakanlah bahwa barang ini sudah diterima 100% dari vendor sejumlah 100 barang. Dikarenakan vendor sudah menyerahkan barang sejumlah 100, maka PO ini dicatat sebagai GR (Goods Received) oleh bagian penerimaan. Pencatatan Goods Received ini dalam sistem akan memunculkan jurnal Material (debit) pada GR/IR Clearing (kredit). Material di sini merupakan pos dari akun persediaan yang merupakan akun dari elemen aset.

Pada akuntansi pengantar, jurnal yang akan ditemui pembelajar akuntansi dari transaksi ini adalah Material (debit) pada Hutang (kredit) – jika pembayaran mencicil atau Material (debit) pada Kas (kredit) jika pembayaran tunai.

Jika kita memasukkan unsur pengendalian internal dalam kejadian bisnis di atas, akan rawan jika penerimaan barang, pencatatan penerimaan barang, pencatatan penagihan, dan pembayaran dilakukan oleh satu pihak. Sehingga, kegiatan ini disegregasikan. Penerimaan dan pencatatan barang dilakukan oleh bagian penerimaan, pencatatan penagihan dan pembayaran dilakukan oleh bagian keuangan.

Segregasi tugas dan pengendalian transaksi inilah yang memunculkan pos GR/IR Clearing dalam ERP. Sehingga, pada saat tagihan diterima (tagihan datang seringkali beberapa hari atau bahkan beberapa bulan setelah barang diterima), bagian keuangan (di lapangan) akan memasukkan tagihan ke dalam sistem dan dalam sistem akan muncul jurnal GR/IR Clearing (debit) pada Vendor 3rd party (kredit). Dengan adanya proses ini, akan dapat diketahui jika terjadi perbedaan pencatatan barang diterima dengan barang yang ditagihkan. Jika misalnya bagian penerimaan membuat GR yang lebih besar atau lebih kecil dari nilai tagihan, maka akan dilakukan koreksi GR.

Sebagai tambahan cerita, jika prosesnya dilanjutkan lagi sampai ketika bagian pembayaran akan melakukan pembayaran, maka jurnal yang akan muncul adalah Vendor 3rd party (debit) pada Bank Outcoming Clearing (kredit), dan ketika pembayaran dilakukan, maka Bank Outcoming Clearing akan didebit dan Main Bank akan dikredit.

Menggunakan pendekatan input, mudah menjelaskan debit kredit dan kemunculan pos-pos clearing, karena pendekatan input menjelaskan persamaan akuntansi secara aljabar dan debit kredit merupakan konsekuensi logis dari persamaan aljabar tersebut.

Namun, contoh clearing account dan adanya ERP ini memunculkan suatu isu, bahwa dengan adanya ERP, pada dasarnya akuntan tidak perlu terlalu fokus pada permasalahan jurnal dan debit kredit, karena persamaan aljabar dan jurnal bisa dilakukan oleh sistem ERP. Bahkan, orang-orang operasi di lapangan yang notabene non-keuangan bisa mencatat transaksi, dan karena saking canggihnya ERP, tanpa mereka sadari pencatatan yang mereka lakukan tersebut secara otomatis sudah menjadi jurnal di sistem. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa dengan adanya teknologi informasi, kemampuan tata buku menjadi tidak terlalu diperlukan lagi. Mungkin untuk bisnis kecil atau bisnis start-up yang baru akan menyusun laporan masih perlu, tapi kalau dipikir-pikir, sistem akuntansi seperti Myob atau Accurate sekarang juga sudah terjangkau.

Dalam konteks akuntansi modern yang mana saat ini kita hidup di dalamnya, pemahaman jurnal akuntansi jika tidak dikaitkan ke outputnya yaitu sebagai informasi yang bermanfaat bagi pemangku kepentingan, akan menjadi tidak bermanfaat, karena jurnal akuntansi sebagai persamaan aljabar sudah dibenamkan ke dalam struktur program ERP. Mengajarkan persamaan akuntansi dari sudut pandang input memang mudah dan praktis (practical), namun sudut pandang ini akan mendistorsi akuntansi menjadi sebesar apa yang dapat dilakukan sistem ERP secara otomatis.

Permasalahan akuntansi era ini (dan mungkin sudah sejak era berkembangnya bisnis, kapitalisme dan pasar saham) adalah bagaimana agar informasi ekonomik dapat disajikan secara jujur dan wajar, sehingga pemangku kepentingan dapat mengambil keputusan yang optimal dengan adanya informasi tersebut. Peran akuntan bukan lagi bagaimana mencatatat dan mendebit kredit seperti era pacioli dan merchant dari timur tengah, namun bagimana memperlakukan dan menyajikan suatu transaksi yang sesuai dengan prinsip akuntansi (terutama PABU). Sebagai contoh, bagimana akuntan menentukan unit penghasil kas dari suatu entitas, konsep apa saja yang digunakan dalam penentuan tersebut. Kemudian bagaimana akuntan menghitung nilai pakai dan nilai terpulihkan dalam melakukan uji penurunan nilai. Selain itu, bagaimana akuntan menerapkan model revaluasi untuk aset tetap. Bagaimana menentukan penurunan nilai untuk piutang. Bagaimana menentukan komponenisasi aset dan menerapkan review umur manfaat atas aset tersebut. Bahkan perubahan penyajian penghasilan komprehensif lain menjadi pos yang akan direklas ke laba rugi dan pos yang tidak direklas ke laba rugi merupakan isu bagaimana informasi keuangan disajikan sehingga dapat bermanfaat untuk pemangku kepentingan.

Berdasar apa yang saya alami, penguasaan atas prinsip akuntansi, konsep dasar, dan filosofi akuntansi jauh lebih diperlukan daripada penguasaan praktis akuntansi seperti yang saat ini sudah dapat dilakukan oleh ERP.

Pendekatan output yang dilengkapi dengan pemahamaman atas prinsip akuntansi akan lebih memudahkan pembelajar akuntansi dalam memahami apa yang harus dihasilkan oleh akuntan dan apa kaitannya dengan bisnis. Terlebih lagi, persamaan akuntansi merupakan persamaan elemen akuntansi bukan persamaan jurnal. Terlihat dari adanya persamaan dasar dan persamaan ekstensi, yang mana persamaan dasar adalah Aset = Liabilitas + Ekuitas, dengan variabel persamaan yang merupakan elemen utama laporan posisi keuangan (neraca), dan persamaan ekstensi menunjukkan adanya kinerja keuangan (laporan laba rugi) dan artikulasinya dengan laporan posisi keuangan. Persamaan ini memiliki filosofi yang dalam (sebagian telah saya jelaskan sebelumnya) dan membungkus (wrap up) seluruh kejadian bisnis yang dialami sehari-hari ke dalam sebuah penyajian informasi periodik. Sekali lagi saya tekankan, mengubah urutan persamaan sama saja mendistorsi akuntansi menjadi sebesar otomatisasi jurnal yang bisa dilakukan oleh ERP.

Coba bayangkan jika tiba-tiba pembelajar akuntansi diberitahu bahwa persamaan dasar akuntansi adalah Liabilitas = Aset – Ekuitas. Secara aljabar tidak masalah, tapi secara bisnis, ini tidak mencerminkan apapun. Apakah informasi bisnis artinya liabilitas adalah nilai dari aset setelah dikurangi ekuitas? Penjelasan ini akan membingungkan pembelajar mengenai konsep entitas dan konsep tanggungjawab entitas. Akan lebih mudah jika kita menjelaskan, bahwa ketika perusahaan baru berdiri (belum melakukan kegiatan usaha), aset yang dikuasai oleh perusahaan asalnya pasti hanya dari pemilik (ekuitas). Sehingga pada awal perusahaan berdiri, Aset = Ekuitas. Ini menunjukkan konsep entitas, memisahkan antara perusahaan dan pemilik sebagai entitas yang berbeda secara ekonomik. Kemudian, jika sumber ekonomik dari pemilik tidak cukup, perusahaan pasti akan meminjam dari kreditur (liabilitas). Namun, kreditur sebagai pihak ketiga memiliki hak atas aset yang harus didahulukan oleh perusahaan daripada hak pemilik atas aset perusahaan, oleh karena itu persamaan akuntansi ditulis sebagai Aset = Liabilitas + Ekuitas, bukan Aset = Ekuitas + Liabilitas, ini untuk menunjukkan prioritas hak atas aset yang dikuasai perusahaan.

Kemudian, ketika aset meningkat atau menurun karena adanya laba atau rugi, maka persamaan dasar harus dijabarkan untuk mencerminkan kegiatan bisnis ini, menjadi Aset = Liabilitas + Ekuitas (+Laba/-Rugi). Kenapa persamaannya bukan Aset = Liabilitas (+Laba/-Rugi) + Ekuitas? Toh secara aljabar tidak masalah bukan? Permasalahannya, karena Laba/Rugi merupakan hak/tanggungan pemilik, bukan kreditur. Pemilik mendirikan perusahaan untuk melakukan kegiatan usaha yang harapannya menghasilkan laba (apesnya ya rugi). Sehingga, persamaan ekstensi ditulis Aset = Liabilitas + Ekuitas (+Laba/-Rugi), selain untuk menunjukkan bahwa aset meningkat/menurun karena adanya variabel laba atau rugi di ruas kanan, juga karena untuk menunjukkan bahwa laba/rugi merupakan hak/tanggungan pemilik. Begitu seterusnya jika dijabarkan akan menjadi satu kuliah teori akuntansi. Jadi, permasalahannya bukan pada kenapa kok debit kredit? Kenapa kok persamaan aljabar? Tetapi lebih kepada, kenapa persamaan dasar akuntansi adalah Aset = Liabilitas + Ekuitas. Bukan yang lain?

Baiklah, karena tulisan saya sudah terlalu panjang untuk posting blog, saya simpulkan bahwa pendekatan terbaik untuk menjelaskan akuntansi bagi para pembelajar tetap pendekatan output. Pendekatan input memberikan sebuah sudut pandang lain pada akuntansi. Namun perlu diingat bahwa filosofi akuntansi bukan jurnal menjurnal. Akuntansi bukan merupakan formulasi kimia atau fisika yang walaupun sama-sama menggunakan aljabar namun hasilnya tetap sama karena berdasar hukum alam dan digunakan untuk menjabarkan fenomena alam. Akuntansi merupakan formulasi yang menjabarkan kegiatan bisnis dan hubungan sosial. Akuntansi selalu dan sampai kini merupakan respon manusia atas adanya kebutuhan informasi antar entitas. Sehingga akuntansi muncul dan berkembang karena adanya kebutuhan output (melaporkan) yang semakin banyak, bukan kebutuhan input (mencatat) saja.

Sebagai penutup, konsep utama yang tidak boleh dilupakan oleh siapapun yang belajar akuntansi, bahwa akuntansi dibuat oleh manusia untuk tujuan tertentu, yaitu sebagai alat komunikasi yang memastikan agar hubungan bisnis antar entitas dapat berjalan dengan jujur dan wajar.

Untuk sisi etimologis debit dan kredit dapat dibaca di (tautan).

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s