Abad ke 17

Baru saja saya melihat sejarah yang terjadi di abad ke-17. Di Eropa-Amerika, banyak ilmuwan yang menemukan benda-benda atau teori-teori yang bisa membuat umat manusia semaju sekarang ini. Nikola Tesla, Thomas Alva Edison. Kemudian, saya ingin tahu apa yang terjadi dengan Bangsa Indonesia pada abad ke 17 itu.

Rupa-rupanya, Bangsa Indonesia masih disibukkan dengan perang mengusir penjajah Belanda.

Jangankan berpikir untuk bisa menemukan sesuatu, pada waktu itu berpikir untuk bisa bertahan hidup saja sudah susah sekali. Bangsa Indonesia saat itu otaknya terfokus pada bagaimana berjuang untuk bisa hidup dan memerdekakan generasi selanjutnya. Terbayang di benak saya, betapa susah dan menderitanya Bangsa Indonesia saat itu. Saya jadi maklum, mengapa Bangsa ini yang pada jaman dahulu kala bisa sangat maju dari segi budaya, arsitektur, perdagangan, kini bisa menjadi tertinggal jauh.

3,5 Abad oleh Belanda dan 3,5 tahun oleh Jepang. Luar biasa penghancuran pemikiran yang dilakukan para penjajah itu.

Jika dikira-kira satu generasi bisa hidup selama 60 tahun, dan jarak antar generasi sekitar 25 tahun. Maka dalam 353,5 tahun, sudah ada sekitar 14 generasi. Sebanyak itu otak Bangsa Indonesia dirusak dan didegradasikan. Saya lagi-lagi maklum, kalau budaya bangsa ini carut marut, cara berpikirnya terbelakang, mudah diprovokasi, kurang bernalar, dan mudah didoktrin tanpa mau melakukan penalaran.
Belum lagi jika ditambah penjajahan pemikiran yang dilakukan oleh rezim orde baru. Daftar keburukan bangsa ini bertambah jadi mental birokratis dan korup.

Kalau ada pertanyaan yang mungkin bisa masuk dalam FAQ (Frequently Asked Question) Bangsa, “kapan bangsa ini bisa maju?” Saya mungkin juga akan susah menjawab dengan jujur, berdasarkan keadaan nyata serta konsep dan teori yang sudah ada.

Kita memang akan sangat susah maju.

Saya bilang di sini kita artinya seluruh penduduk Indonesia yang jumlahnya sekarang bisa jadi lebih dari 259 juta, bukan hanya anda yang berpendidikan ini.

Saya jadi sedih, manusia bisa maju jika dilihat dari budi pekerti dan kemajuan berpikirnya. Namun kita lihat Bangsa ini, bangsa yang beragama tapi tidak memiliki budi pekerti. Buta karena doktrin2 dan hukum agama hingga mengesampingkan kemanusiaan. Mengikuti segala aturan dan teori, tanpa bisa (bukan tidak mau, tapi tidak bisa) memikirkan apakah aturan atau teori itu benar berdasar kemanusiaan. Sekolah dan bekerja tanpa nalar, semua sudah ada pakemnya. Bangsa ini menjadi semakin barbar, karena segala tindakan didasarkan pada nafsu dan ego tanpa diiringi logika yang baik. Nafsu untuk menjadi yang paling baik, paling benar, tidak mau melihat sudut pandang lain, pemikiran lain. Nafsu untuk menjadi kaya raya, dihormati. Paling parah lagi, nafsu untuk masuk surga (surga kan isinya semua yang enak-enak, mana mau manusia itu menderita, yang isinya enak-enak itu jelas bikin bernafsu). Padahal, apa artinya itu semua? 50 tahun (mungkin bisa lebih sedikit) cuma untuk itu saja.

Kita tidak pernah berpikir, apa yang akan kita tinggalkan untuk generasi berikutnya? Apa legacy kita? Hidup terlalu terkurung dalam kotak-kotak. Kotak aturan, kotak agama, kotak birokrasi, kotak senioritas, kotak pendidikan, kotak kepintaran. Hidup terlalu terkurung dalam ketakutan. Takut dipecat, takut dianggap bodoh, takut dianggap konyol, takut tidak dihormati, takut miskin.

Sejauh pemikiran belum terbuka, sejauh Bangsa belum bernalar, Indonesia belum merdeka.
Kemerdekaan, kebebasan yang paling tinggi adalah dalam hal berpikir. Tentu saja berpikir yang bijak.

(Hanya tulisan ringan, tidak usah dipikirkan terlalu mendalam, nanti pusing)

One thought on “Abad ke 17

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s