IFRS = Fair Value

Beberapa kali saya mendengar dari beberapa orang bahwa IFRS adalah fair value dan bukan lagi historical cost. Hal ini tidak tepat. IFRS tidak sama dengan fair value.

Kesalahan konsep ini terjadi karena pihak-pihak yang mengutarakan hal tersebut tidak mau mendalami konsep fair value dan historical cost. Fair value tidak akan menggantikan historical cost karena kedua konsep pengukuran ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Patton & littleton (pakar akuntansi modern) menyebutkan bahwa fair value sebaiknya dijadikan pengukur dalam laporan keuangan pelengkap laporan keuangan utama (yang menggunakan historical cost), dengan tujuan untuk menampilkan nilai perusahaan pada saat pelaporan. Fair value disarankan patton & littleton untuk tidak digunakan sebagai dasar pengukuran dalam laporan keuangan utama.

Berikut penjelasannya:

Historical cost jika dikaitkan dengan karakteristik kualitatif laporan keuangan, tingkat keterandalan (reliability) tinggi, namun keberpautan (relevance) rendah. Hal ini dikarenakan dasar dari pencatatan adalah bukti transaksi yang telah terjadi di masa lalu. Transaksinya sudah terjadi dan dapat dibuktikan, membuat keterandalan tinggi. Namun transaksi itu terjadi di masa lalu sehingga keberpautan rendah. Jika dilihat secara konseptual, akuntansi merupakan alat untuk ‘mengcapture‘ kejadian-kejadian ekonomik dalam suatu entitas dan melaporkannya dalam laporan keuangan. Sehingga dapat dikatakan bahwa akuntansi diciptakan sebagai alat pelaporan kejadian ekonomik historis.

Jika dibandingkan dengan historical cost, fair value tingkat keterandalan lebih rendah namun keberpautan tinggi. Hal ini dikarenakan fair value tidak didasarkan pada keterjadian transaksi (transaksi belum terjadi) namun berdasar pada nilai perusahaan saat ini jika transaksi dilakukan (misalnya harga dalam jual beli mengikat, harga pasar aktif terkini, harga pasar sejenis, atau berdasar model perhitungan yang dijustifikasi oleh appraisal). Sehingga, karena transaksi tidak terjadi dan tidak ada bukti transaksi, fair value tingkat keterandalannya lebih rendah. Namun, fair value menunjukkan nilai terkini sehingga keberpautan tinggi.

Fair value yang tidak berdasarkan pada transaksi yang terjadi, membuat patton & littleton menganggap bahwa fair value kurang pas jika dijadikan sebagai alat ukur dalam laporan keuangan utama. Namun, untuk menunjukkan seberapa bernilainya entitas saat ini, fair value dapat digunakan untuk melengkapi historical cost.

Dalam IFRS, fair value untuk aset merupakan sebuah pilihan metode pengukuran selain historical cost. Untuk instrumen keuangan tertentu, fair value merupakan suatu keharusan. Hal ini dikarenakan fair value bertujuan untuk menunjukkan seberapa bernilainya aset/instrumen keuangan saat ini. Sehingga untuk instrumen keuangan yang tujuan dari penyajiannya lebih mengutamakan nilai jika saat ini dijual, atau pengguna laporan keuangan lebih membutuhkan informasi mengenai seberapa bernilainya instrumen keuangan tersebut, fair value lebih tepat untuk digunakan.

IFRS memberikan pilihan pengukuran karena penggunaan fair value bisa jadi akan melanggar constraint cost-benefit bagi entitas, yang mana cost penyajian laporan keuangan harus lebih kecil dari benefitnya. Fair value yang keterandalannya rendah, akan membutuhkan lebih banyak justifikasi (misalnya penggunaan appraisal), sehingga costnya juga akan lebih tinggi.

Pada praktiknya, entitas lebih banyak yang memilih tetap menggunakan historical cost daripada fair value.

Jika dikatakan bahwa IFRS = fair presentation, maka hal ini jauh tepat. Penyajian wajar merupakan salah satu karakteristik kualitatif yang diutamakan dalam IFRS. Fair value atau historical cost dapat dipilih dan digunakan, asalkan mencerminkan konsep fair presentation.

Sebagai penutup, dapat disimpulkan bahwa fair value tidak akan menggantikan historical cost. Setidaknya, tidak dalam jangka waktu dekat. Selain itu, jika suatu saat anda mendengar orang yang mengatakan bahwa IFRS = fair value atau mungkin anda sendiri yang mengatakannya. Mohon dikoreksi. Lebih tepat jika dikatakan IFRS = fair presentation.

Semoga bermanfaat.

Salam,

14 thoughts on “IFRS = Fair Value

  1. Cleaarrr…!!!!
    makasih mas han…jadi jauh lebih paham sekarang…FYI,,aq jug baca tulisan kamu yg dampak UU Mata Uang terhadap PSAK 10 juga…hehhee…
    Btw,,sedikit koreksi aja…masih ada beberapa penulisan yang salah tapi masih bisa dimengerti koq..hohooo
    makasih..

  2. Sangat bermanfaat bg kami penilai (appraisal) informasi di atas, Ada yg mau sy tanyakan mas. apakah apakah penerapan IFRS di indonesia mengharuskan menggunakan Fair value atau pada kondisi-kondisi tertentu saja y? mohon maaf pertanyaan orang awam mas. mohon penjelasannya. terima kasih.

    • Fair value merupakan pilihan dan dilakukan dalam kondisi tertentu saja. Jika entitas memilih metode revaluasi (menilai menggunakan fair value) tidak setiap pelaporan keuangan dilakukan penilaian atas fair value. Persyaratan-persyaratan mengenai hal ini diatur dalam PSAK, misalnya PSAK 16, 13, 50, 55, 60, 19.

      Salam,

  3. Tulisan tsb membangunkan saya dari mimpi buruk IFRS=high cost. Kalo boleh menanggapi mas arif sang appraisal, yg pernah saya dengar sekali menggunakan fair value maka harus selalu fv sesuai prinsip konsistensi, mohon pencerahannya..tks..

    • Ya, sekali memilih model fair value akan selalu menggunakan fair value. Tidak boleh berganti lagi ke historical cost. Namun ketika menggunakan model fair value, tidak harus setiap tanggal pelaporan dinilai fair valuenya. Penilaian lagi dilakukan jika ada indikasi perubahan fair value saja.

      Salam,

  4. Makasi mas han, tulisannya bisa jadi bahan argumentasi ntar🙂, btw ada yang mau saya tanyain mengenai review nilai residu sesuai sak 16, apa sebenernya penjelasan nilai residu, karna menurut saya nilai residu itu nilai sisa sementara ada penyataan lain, bahwa niali residu sama dengan nilai aset pada saat ini. mohon infonya yah, trims

    • Nilai residu atau residual value adalah nilai aset yang diperkirakan akan tersisa pada akhir masa pemakaian aset tersebut. Nilai aset saat ini disebut nilai tercatat atau nilai buku atau book value. Nilai aset pada saat akuisisi disebut nilai perolehan atau acquisition cost. Silakan mengacu ke definisi di PSAK 16 atau IAS 16.

      Semoga bermanfaat.

      Salam,

  5. Pak mau tanya definisi konservatif itu ap sech ????
    apakah konservatif itu masih setelah kita mengadopsi fair value ( IFRS )???
    makasih pak….

    • Konservatif itu dapat dikatakan berhati2 dalam pengakuan item2 di laporan keuangan. Gampangnya mungkin begini, laporan keuangan ‘kan dibaca stakeholder, secara psikologis, orang akan senang kalau melihat keuntungan, oleh karena itu kalau mau konservatif, ketika untung jangan langsung diakui, hati2. Tapi kalau rugi harus segera diakui, stakeholder harus segera tahu kalau entitasnya rugi.

      IFRS tidak menggunakan istilah konservatism tapi prudence. Konsepnya sama saja, berhati2 dalam mengakui item2 di laporan keuangan.. Nah, bagaimana dengan fair value? Arah pertanyaan anda bagus. Model revaluasi memungkinkan entitas untuk mengakui untung yang belum terealisasi (kenaikan fair value). Fair value merupakan nilai wajar suatu aset jika pertukaran dilakukan pada saat penilaian. Hanya saja, dalam pelaporan keuangan, fair value disajikan tanpa adanya transaksi pertukaran. Sehingga, selisih kenaikan fair value itu merupakan keuntungan yang belum terealisasi. Gampangnya, nilai kalau aset dijual saat itu (tapi aset tidak benar2 dijual, pertukaran tidak terjadi).

      Kehati-hatian dalam penggunaan model revaluasi ditunjukkan dalam satu komponen baru dalam laporan posisi keuangan (neraca), yaitu pendapatan komprehensif lain (OCI). Komponen dalam pendapatan komprehensif lain ini merupakan pendapatan atau beban yang belum terealisasi. Namun disajikan dengan tujuan untuk mencerminkan seberapa bernilainya entitas pada saat pelaporan, yang mana hal ini tidak terlihat jika menggunakan metode historical cost.

      Pernah saya bahas di salah satu tulisan/komentar, bahwa model revaluasi dan penggunaan fair value pernah dikritisi oleh Patton & Littleton pada abad ke 20.

      Semoga bermanfaat.
      Salam,

  6. aslm.
    Pak Handoko, saya mau bertanya, perubahan apa yg terjadi ketika perbankan menerapkan ifrs? dan bagaimana cara termudah agar mengetahui apakah perusahaan ataupun bank sudah menerapkan ifrs atau belum? terima kasih

    • Perubahannya pada perlakuan atas instrumen keuangan (lihat PSAK 50, 55, 60). Cara termudah untuk mengetahui adalah melalui pengungkapan di catatan atas laporan keuangan. Disarankan dalam PSAK bahwa jika entitas menerapkan PSAK tersebut, maka entitas mengungkapkannya dalam catatan atas laporan keuangan. Lebih mudah lagi, dapat dilihat di catatan auditor independen.

      Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s