Tafsir PSAK 16: Aset Tetap Paragraf 16 C

PSAK 16 diadopsi dari IAS 16: Plant, Property, and Equipment. Dalam PSAK 16 tersebut diatur mengenai komponen kos (cost) perolehan yaitu:

  1. harga perolehan aset, termasuk bea impor dan pajak pembelian yang tidak boleh dikreditkan setelah dikurangi diskon dan potongan lain
  2. biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset sampai ke tempat dan kondisi yang diinginkan agar aset siap untuk digunakan sesuai keinginan dan maksud manajemen
  3. estimasi awal biaya pembongkaran dan pemindahan aset tetap dan restorasi lokasi aset. Kewajiban atas kos tersebut timbul ketika aset tersebut diperoleh atau karena entitas menggunakan aset tersebut selama periode tertentu untuk tujuan selain menghasilkan persediaan


Komponen 1 & 2 mungkin sudah cukup jelas dan familiar bagi sebagian besar orang (yang mengerti akuntansi), karena memang kedua komponen tersebut jelas mencerminkan konsep kos (pengukur atas pertukaran). Besarnya aset yang akan kita sajikan di neraca diukur sebesar berapa yang kita pertukarkan untuk memperoleh aset dalam artian aset tersebut sudah dapat digunakan sesuai dengan keinginan dan maksud manajemen.

Komponen ke 3, ternyata cukup membingungkan beberapa pihak. Hal yang pertama kali dipermasalahkan adalah mengapa estimasi bisa diakui sebagai kos?

Untuk menafsirkannya, kita perlu mencermati lebih lanjut kalimat kedua dari paragraf c tersebut, karena kuncinya ada di kalimat kedua ini. Kalimat tersebut jika dikaitkan dengan kalimat pertama akan berarti bahwa, setelah selesai memakai lokasi, aset harus dibongkar kembali di akhir pemakaian, tanpa itu maka aset tidak akan bisa digunakan (kewajiban muncul di awal). Sehingga, biaya pembongkaran dan relokasi aset merupakan biaya yang diperlukan untuk membuat aset siap dalam kondisi dan tempatnya (memenuhi kriteria b).

Kemudian mengenai estimasi. Dalam paragraf tersebut, estimasi bukan berarti bahwa kos tersebut adalah kos hipotetis. Estimasi di sini dapat ditafsirkan sebagai best estimate atau estimasi terbaik yang dapat dilakukan untuk menentukan biaya pembongkaran dan relokasi di masa depan. Jika kita kaitkan dengan konsep time value of money, maka estimasi tadi seharusnya di-present value-kan.

Hal terakhir yang menjadi poin kunci adalah, pembongkaran, relokasi, dan restorasi yang dimaksud dalam poin c adalah, untuk site (dalam PSAK menjadi lokasi). Hal ini terlihat secara jelas dalam versi IFRSnya (IAS 16 paragraf 16 c):

(c) the initial estimate of the costs of dismantling and removing the item and
restoring the site on which it is located, the obligation for which an entity
incurs either when the item is acquired or as a consequence of having used
the item during a particular period for purposes other than to produce
inventories during that period.

Dalam hal ini, site berdasarkan kamus Oxford berarti:

noun

  • an area of ground on which a town, building, or monument is constructed:the proposed site of a hydroelectric damthe concrete is mixed on site
  • a place where a particular event or activity is occurring or has occurred:the site of the Battle of Flodden
  •  short for building site
  •  short for campsite or caravan site
  •  short for website

Sehingga, tidak semua jenis aset yang di akhir membutuhkan pembongkaran, relokasi, dan restorasi terkena persyaratan dalam paragraf c.

Sekian tafsir PSAK 16 paragraf 16 c. Semoga bermanfaat.

Salam,

27 thoughts on “Tafsir PSAK 16: Aset Tetap Paragraf 16 C

  1. Tulisan yang bagus banget mas handoko. Perkenalkan sebelumnya, saya Yana, kebetulan saya saat ini sedang ikut dalam tim IFRS di kantor saya. Btw saya bekerja di perusahaan perkebunan yg sangat kesulitan dalam pengaplikasian aset tetap maupun aset biological, tentu saja karna IAS 41 belum secara penuh diadopsi ke PSAK. Saya mau menanyakan beberapa hal mengenai perlakuan aset tetap:
    1. Mengenai perlakuan tanaman sebagai aset, apa dasar yang cukup kuat atas pengakuan tanaman sebagai aset tetap.?
    2. Metode penyusutan atas aset dapat denagna metode cost dan revualsi, untuk perkebunan yang terbilang sulit dalam penentuan nilai wajarnya, apa opsi yang terbaik, apaakah menggunakan metode cost atau revaluasi?
    3. Mengenai review atas nilai residu dan umur ekonomis aset, saat ini perusahaan tempat saya bekerja masih lebih menginginkan penggunaan metode cost atas perlakuan aset tetap. Kasus yang terjadi adalah beberapa aset tetap yang sudah habis disusutkan namun masih dapat dipergunakan, sehingga nilai residunya Rp.1, bagaimana perlakuannya jika menggunakan metode cost dan revaluasi? lalu bagaimana perlakuan pajaknya, karena samapai saat ini masih belumada regulasi pemerintah yang digunakan untuk revaluasi aset. trims, salam, Yana

    • Terima kasih… Berikut jawaban atas pertanyaan anda,
      IAS 41 belum diadopsi sama sekali. Sampai rapat DSAK pada hari selasa dan rabu lalu, DSAK masih belum memutuskan apakah akan mengadopsi atau tidak.
      1. Tanaman sebagai aset, untuk melihat apakah tanaman itu masuk ke aset tetap atau ke persediaan perlu dilihat karakteristik tanaman itu. Silakan cek di PSAK 16, mengenai definisi aset tetap. Jika tanaman tersebut masuk definisi aset tetap, maka perlakuannya akan ikut perlakuan aset tetap. Untuk contoh, tanaman perkebunan yang dikuasai untuk lebih dari satu periode akuntansi, memiliki manfaat ekonomik, dan cost dapat diukur dengan andal, akan masuk kategori aset tetap sub kategori tanaman mangga misalnya. Dasar perlakuannya ikut PSAK 25. Dalam PSAK 25 dikatakan jika tidak ada PSAK spesifik yang mengatur, maka gunakan PSAK yang serupa atau ikut pengaturan di KDPPLK. Perkebunan tidak diatur di PSAK spesifik, maka gunakan yang serupa. Anda bisa saja menggunakan IAS 41, karena tataran paling atas dalam PSAK 25 adalah prinsip akuntansi (prinsip akuntansi yang ada secara teori maupun di negara lain), baru di bawahnya adalah prinsip akuntansi berterima umum (PABU/SAK). Namun, untuk pelaporan ke Bapepam ini akan menjadi kurang wajar (mencampur SAK-PABU dan IAS-Prinsip Akuntansi).
      2. Untuk penentuan apakah akan menggunakan metode cost atau revaluasi, perlu diketahui tujuan dari munculnya metode revaluasi. Metode revaluasi digunakan untuk menunjukkan seberapa bernilai perusahaan pada saat pelaporan. Sedangkan metode cost menunjukkan nilai historis perusahaan. Misalnya, berdasar metode cost, pada saat pelaporan, nilai aset perusahaan adalah nilai pada saat pembelian (misalnya dibeli senilai Rp10.000) dikurangi dengan depresiasi (untuk menunjukkan pemanfaatan dari aset tersebut untuk menghasilkan revenue) dan impairment (untuk menunjukkan penurunan daya dalam menghasilkan revenue karena hal-hal selain penggunaan normal). Sedangkan berdasar metode revaluasi, pada saat pelaporan, nilai aset perusahaan adalah nilai jika saat itu aset dijual di pasar (misalnya jika nilai pasar wajarnya Rp20.000 walaupun nilai historical costnya Rp10.000). Sehingga, model revaluasi cocok digunakan untuk perusahaan yang ingin menunjukkan seberapa bernilai perusahaan tersebut saat ini. Sedangkan historical cost untuk menunjukkan nilai historis atas pemanfaatan aset untuk menghasilkan income saat ini. Dari sini, dapat anda tentukan apakah tujuan perusahaan ingin menunjukkan seberapa bernilai tanaman jeruk pada saat pelaporan (model revaluasi – nilai wajar saat pelaporan) pada stakeholder atau cukup hanya melaporkan kegiatan pemanfaatan tanaman jeruk dalam menghasilkan revenue (model cost – nilai perolehan dikurangi depresiasi dan impairment) pada stakeholder.
      3. Seharusnya untuk yang sudah Rp1 itu dinilai ulang sehingga mencerminkan manfaat ekonomiknya (daya untuk menghasilkan income). Jika aset masih dapat digunakan, berarti aset tersebut masih memiliki daya untuk menghasilkan income. Rp1 menunjukkan aset tersebut sudah tidak memiliki daya lagi (misalnya kalau mobil tinggal rangka dalamnya saja).
      Jiwa dari pengaturan PSAK 16 mengenai review nilai residu dan umur ekonomik adalah, supaya ke depan tidak ada lagi aset yang di Rp1-kan tapi sebetulnya masih bisa dipakai. Perlakuan ini berlaku untuk aset tetap yang masih belum Rp1. Sekali lagi, jika sudah Rp1, seharusnya ini dinilai kembali (revaluasi) untuk mencerminkan manfaat ekonomiknya. Kecuali entitas anda BUMN, merevaluasi ini akan menjadi suatu hal yang cukup sulit secara birokrasi. Revaluasi di sini bukan merupakan model namun sebuah perlakuan akuntansi dan dapat dilakukan pada satu titik. Sehingga, baik model cost maupun model revaluasi, anda dapat lakukan revaluasi untuk merevisi daya melaba (manfaat ekonomik) aset Rp1 itu di neraca.
      Mengenai peraturan pajak, bukan yurisdiksi saya, jadi saya kurang dapat menjawab.

      Semoga bermanfaat.
      Salam,

  2. Terimakasih atas tanggapannya mas, saya tertarik dengan kalimat anda mengenai kesulitan birokrasi di BUMN, apakah bumn tidak menerapkan revaluasi dalam pelaporan mereka? Perusahaan kami juga mengalami kesulitan dalam merevaluasi aset tanaman, karena belum ada pasar aktif dalam menilai aset tanaman ini, sehingga perusahan belum dapat memberlakukan model revaluasi. Menurut anda apa pasar aktif yang bisa dijadikan nilai pasar untuk perkebunan karet? Terima Kasih atas perhatiananya.

    • Maksud saya revaluasi bukan dalam hal model pengukuran setelah pengukuran awal lho. Tapi revaluasi sebagai cara untuk merevisi nilai tercatat agar mencerminkan daya suatu aset (kebalikan impairment). Setahu saya, berdasar pengalaman waktu membuat kebijakan akuntansi dalam suatu BUMN dulu, Rp1 ini sudah dibiarkan saja karena cukup susah birokrasi untuk merevisi nilainya.
      Untuk penggunaan model revaluasi sebagai model pengukuran setelah pengukuran awal, tidak harus nilai pasar aktif yang digunakan sebagai dasar nilai wajar. Tapi ada basis lainnya (silakan cek tulisan saya yang lain dalam blog ini).
      Setahu saya untuk entitas anda, IAI sedang melakukan pembimbingan dalam hal implementasi IFRS. Beberapa kali atasan saya berangkat mengajar pelatihan PSAK untuk entitas anda. Kalau tidak ada halangan, minggu depan ada pelatihan di Semarang selama 5 hari kerja untuk entitas anda. Kalau anda ikut berangkat, di situ anda bisa bertemu rekan & atasan saya.
      Saat ini saya sedang dalam tahap mengkaji permasalahan di entitas anda (perkebunan 10 & 14) terkait pabrik gula T,B,C. Kalau anda pernah dengar.

      Salam,

  3. Mas, aku mau nanya ni gimana ya ngasih saran untuk aset tetap dalam TA ku….
    Aset tetap dipercetakan tersebut tidak ada akm.depresiasi selama pemakaian dan harga perolehan nya tanpa disertai biaya-biaya…??
    bantu aku ya mas untuk bab terakhir tentang saran yg ditulis didlm TA tersebut dan paling sedikit harus 4…
    thanks mas…
    mohon bantuan nya…🙂

    • Dalam konsep aset, biaya perolehan adalah seluruh biaya yang dipertukarkan entitas untuk memperoleh dan membuat aset siap untuk digunakan sesuai maksud dan keinginan manajemen. Biaya perolehan ini termasuk misalnya, harga perolehan, biaya instalasi awal mesin, biaya persiapan lahan, pajak. Jika biaya-biaya dalam definisi tidak dimasukkan, maka aset undervalued.
      Aset yang digunakan dalam upaya normal, sudah seharusnya didepresiasi. Depresiasi ini mencerminkan penurunan nilai manfaat karena pengupayaan aset. Akumulasi depresiasi menunjukkan akumulasi pengupayaan aset dari awal aset tersebut siap dipakai hingga titik pelaporan. Sehingga akumulasi depresiasi harus disajikan agar untuk menunjukkan nilai tercatat aset (book value) = Cost – accumulated depre.
      Semoga membantu.

      Salam,

  4. Mas, Saya mau nanya mengenai Aset berupa Mesin, Kebetulan saya bekerja diperusahaan Pertambangan, perusahaan kami
    membeli Mesin U/ Underground dan Mesin itu sekarang sudah di site tetapi belum digunakan, yang saya tanyakan mas
    apakah aset itu sudah bisa disusutkan apa belum, karena menurut PSAK aset itu bisa disusutkan apabila sudah digunakan….
    kemudian bagaimana kalo aset itu saya susutkan tetapi biaya penyusutannya saya masukan kebiaya tangguhan, ketika aset itu digunakan biaya tangguhannya saya susutkan sehingga dari aset tsb terdapat 2 penyusutan yaitu :
    1. Penyusutan atas Biaya tangguhan berupa akumulasi Penyusutan mesin itu sebelum digunakan
    2. Penyusutan atas aset itu sendiri yaitu dari nilai buku (Harga Perolahan dikurangi Akumulasi Penyusutan yang menjadi biaya
    tangguhan) dibagi dengan masa ekonomis

    dari pertanyaan diatas mohon mas handoko memberikan jawabannya disertai aturan yang berlaku di PSAK. karena kalo yang
    namanya aset nilainya selalu berkurang sehingga atas dasar itulah saya melakukan penyusutan tetapi saya masukan ke biaya
    penyusutan tangguhan dengan begitu belum masuk kategori biaya karena belum mendukung terjadinya revenue

    Demikian mas pertanyaan dari saya, terima kasih

    • Berikut kutipan paragraf 58 dari PSAK 16 (revisi 2007):
      “Penyusutan aset dimulai pada saat aset tersebut siap untuk digunakan, yaitu pada saat aset tersebut berada pada lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan sesuai dengan keinginan dan maksud manajemen. Penyusutan dari suatu aset dihentikan lebih awal ketika:
      (a) aset tersebut diklasifikasikan sebagai aset dimiliki untuk dijual atau aset tersebut termasuk dalam kelompok aset yang tidak dipergunakan lagi dan diklasifikasikan sebagai aset dimiliki untuk dijual; dan
      (b) aset tersebut dihentikan pengakuannya seperti yang diatur dalam paragraf 69.
      Oleh karena itu, penyusutan tidak berhenti pada saat aset tersebut tidak dipergunakan atau dihentikan penggunaannya kecuali apabila telah habis disusutkan. Namun, apabila metode penyusutan yang digunakan adalah usage method (seperti unit of production method) maka beban penyusutan menjadi nol bila tidak ada produksinya.”

      Dalam paragraf tersebut jelas dinyatakan bahwa penyusutan dimulai ketika aset tersebut siap untuk digunakan, bukan ketika aset tersebut digunakan. Sehingga, dalam kasus saudara, ketika mesin tersebut berada pada lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan sesuai dengan keinginan dan maksud manajemenm, maka pada saat itulah penyusutan dimulai.

      Mengenai perlakuan pencatatan biaya penyusutan ke dalam biaya tangguhan menurut saya tidak pas & bisa menyalahi kaidah akuntansi. Biaya tangguhan adalah biaya yang mana sumber daya ekonomik sudah kita keluarkan walaupun belum masuk ke periode terjadinya. Misalnya, tiap bulan kita harus membayar biaya asuransi. Pada awal tahun (bulan 1), kita membayar penuh biaya asuransi bulanan untuk satu tahun. Biaya semacam ini dapat dicatat sebagai biaya tangguhan pada bulan berjalan karena sumber daya ekonomik sudah kita keluarkan walaupun biaya asuransi untuk bulan 2-12 belum terjadi (yang menjadi biaya tangguhan adalah biaya bulan 2-12).
      Penyusutan, tidak memiliki sifat dan kejadian ekonomik tangguhan. Sehingga, tidak akan pernah ada biaya penyusutan dicatat sebagai biaya tangguhan.

      Secara konsep, penyusutan adalah penurunan nilai manfaat aset karena pemanfaatan normal. Ketika suatu aset digunakan, maka nilai aset tersebut (diukur sebesar cost) akan berkurang dan dibebankan sebagai biaya. Biaya inilah yang disebut sebagai biaya penyusutan.

      PSAK 16 (revisi 2007) menggunakan konsep bahwa penyusutan dimulai ketika aset tersebut siap untuk digunakan atau ketika aset tersebut sudah diakui di neraca sebagai aset. Konsep ini menggunakan dasar prinsip penyajian wajar (fair presentation), karena sewajarnya aset yang tercantum di neraca pasti turun nilainya.
      Aset dihentikan penyusutannya ketika tidak diakui lagi sebagai aset atau direklasifikasi sebagai aset dimiliki untuk dijual (held for sale).

      Sebagai penutup, sebaiknya mesin tersebut disusutkan sesuai pengaturan PSAK 16 yang saat ini berlaku.

      Semoga bermanfaat.
      Salam,

  5. Sudah lama saya mengikuti tulisan – tulisan diskusi di blog ini, tapi baru kali ini saya ikut partisipasi hehe.
    Maafkan saya mas han..:) soalnya kasus diskusinya cukup bisa membuka kebuntuan, ilmu kanuragan akuntansi saya masih harus terus diasah lewat blog ini.
    Begini mas, perkenalkan saya abenk. Saat ini saya bekerja di bidang agroindustri milik pemerintah dan kebetulan sedang ada diversifikasi usaha untuk bergerak ke usaha peternakan sapi baik penggemukkan maupun sapi perah.
    Saya masih kebingungan sapi ini harus diakui sebagai apa. Sebab untuk penggemukkan, dalam waktu 4 bulan sudah kembali dijual dan untuk sapi perah hanya diambil produk susunya dalam periode tertentu (secara siklus ada masanya) dan nantinya setiap tahunnya akan melahirkan anak sapi yang sekali lagi harus diperlakukan sebagai apa. Jika dikaitkan dengan PSAK 16 kira – kira bagaimana saya harus memperlakukannya.

    Mungkin ini saja curhatan saya. Mohon bantuannya.
    “Dari akuntansi, mungkin suatu saat saya siap beralih profesi menjadi seorang peternak”..hihi
    Terima kasih.

    • Salam akuntansi.

      Untuk sapi yang dikuasai kurang dari 1 periode akuntansi, perlakukan seperti persediaan. Untuk sapi yang dikuasai lebih dari 1 tahun dan hanya diambil produk susunya atau melahirkan anak sapi, diperlakukan sebagai aset tetap. Mungkin analoginya bisa dihubungkan dengan IAS 41, karena sapi ini pada satu masa memiliki nilai yang kecenderungannya naik terus (akresi) mulai dari kecil hingga siap berproduksi, kemudian nilainya akan turun atau mungkin sampai tidak memiliki nilai lagi. Nanti saya coba cek juga di IAS 41 untuk analogi lebih pasnya.
      Sementara ini dulu.

      Salam,

      • Semakin lama membahas Akuntansi Agriculture, kepala saya semakin puyeng…hehehe.🙂
        Dalam IAS 41 dan akresi di akuntansi memang menjelaskan mengenai penambahan nilai. Tapi saya juga masih belum menemukan konsep yang pas untuk hasil kelahiran anak sapi tersebut. Tapi dalam analogi saya, apakah anak sapi ini dapat di sepadankan dengan bibit tanaman ya? Dimana, pada masa belum menghasilkan susu, dikatakan sebagai masa investasi bibit dan ketika telah siap menghasilkan susu dapat diakui sebagai sapi?
        Namun jika bibit yang dihasilkan dari tanaman cenderung tidak memiliki nilai, sedangkan sapi anakan sudah memiliki nilai (dalam arti nilai pasar) dan bahkan dapat dijual langsung selain dapat dipelihara untuk kemudian menghasilkan susu.
        share lagi ya mas han…:)

        • Perlakuan akuntansinya tetap kembali ke definisi. Definisi aset, definisi cost, definisi nilai wajar, aset dalam pengembangan. Bisa jadi anak sapi yang nantinya akan menjadi sapi perah, dalam proses perkembangannya dianalogikan dengan aset dalam pengembangan, yang mana costnya dikapitalisasi sebagai cost sapi. Jika mau menggunakan konsep nilai wajar (yang mana ada harga pasarnya), dicatat nilainya sesuai nilai wajar tersebut. Bisa jadi sapi sebelum menghasilkan susu sudah bisa dijual dengan harga tertentu. Untuk kunci penyelesainnya, lihat substansi ekonomi kejadian, gunakan definisi & teori untuk memecahkan permasalahannya.

          Semoga bermanfaat.
          Salam,

  6. Maaf mas Handoko…., kebetulan saya lagi susun tugas akhir tapi saya tersendat pada penarikan PSAK no 16, sy mau bertanya pada PSAK No. 16 revisi 2007 cara penarikan aset tetapnya gimana?!! Mohon bantuannya mas handoko. makasih banyak.

    • Salam akuntansi.

      Mohon diperjelas lagi, maksudnya penarikan aset tetap itu bagaimana? Setahu saya aset tetap tidak untuk tarik-tarikan.

      Terima kasih.

  7. Mas, mohon penjelasannya terkait dengan bahasan di atas mengenai asset yang nilainya Rp 1 tapi masih digunakan.
    menurut penjelasan di atas untuk case seperti itu harusnya dilakukan revaluasi, tidak peduli perusahaan tersebut menggunakan model biaya maupun model revaluasi, dari penjelasan tersebut sebenarnya sudah cukup jelas.
    Hanya saja pada saat saya mengikuti pelatihan PSAK, dimana mentornya dari IAI juga mengatakan bahwa asset itu tidak perlu dilakukan revaluasi karena perusahaan menggunakan cost method dan hal itu dibenarkan oleh salah satu peserta training yg berasal dari KAP.
    Mohon penjelasannya sekali lagi, terimakasih banyak.

    • Penjelasannya begini, secara konsep teori akuntansi, nilai suatu aset di neraca (laporan posisi keuangan) mencerminkan manfaat ekonomik yang terkandung dalam aset tersebut, atau dalam kata lain, sisa potensi jasa dari suatu aset. Jika ada suatu aset yang masih dapat digunakan untuk menghasilkan manfaat ekonomik atau digunakan dalam kegiatan usaha, maka aset tersebut pasti memiliki nilai sebesar potensi yang dapat digunakan untuk melakukan kegiatan usaha tersebut. Sehingga, secara konsep, tidak mungkin bahwa ada aset yang nilainya Rp1 tapi masih bisa menghasilkan manfaat ekonomik.
      Mari kita lihat dari konsep depresiasi. Depresiasi mencerminkan pemanfaatan manfaat ekonomik aset dalam kegiatan uasaha. Sehingga setelah digunakan (didepresiasi – pemanfaatan normal suatu aset) nilai aset yang ada di neraca mencerminkan sisa potensi dari aset tersebut untuk digunakan dalam berupaya ke depan. Jika nilai aset Rp1, artinya sisa potensinya Rp1. Depresiasi (pemanfaatan ekonomiknya) harusnya hanya sebesar Rp1. Sisa manfaat ekonomiknya hanya Rp1. Tapi kenyataan dalam kasus tidak demikian, aset tersebut masih bisa menghasilkan manfaat ekonomik yang besar. Sehingga Rp1 tidak mencerminkan sisa potensi jasa dari aset.

      Berdasarkan PSAK16, disebutkan bahwa aset perlu dinilai kembali nilai residu, umur manfaat (secara tidak langsung juga termasuk metode depresiasinya). Tujuannya agar aset selalu mencerminkan manfaat ekonomik atau sisa potensi jasa yang terkandung didalamnya. Konsep ini sejalan dengan teori akuntansi.

      Kejadian Rp1 di BUMN sering ditemui karena BUMN tidak melihat manfaat ekonomik aset untuk perlakuan depresiasinya, tapi mendasarkan pada golongan atau kelas aset, dan tidak mereview kembali. Sehingga kasus mobil didepresiasi 5 tahun, setelah 5 tahun nilainya Rp1 padahal mobil masih digunakan secara ekonomik bisa cukup banyak terjadi.

      Mengenai pernyataan orang IAI (siapa ya? :p) dan auditor, secara praktis bisa dibenarkan. Karena tidak praktis untuk merevaluasi aset Rp1 yang masih bisa menghasilkan manfaat ekonomik. Namun perlu ditekankan bahwa ini tidak mencerminkan konsep aset, pengupayaan aset, dan matching principle (upaya & hasil mismatch). Sehingga saran teoritisnya adalah direvaluasi untuk mencerminkan manfaat ekonomik yang masih terkandung didalamnya.

      PSAK16 saat ini sudah mencegah terjadinya Rp1 tapi masih ada manfaat ekonomik sesuai penjelasan saya di atas. Silakan dibaca kembali PSAKnya, diresapi & dicari paragraf berapa yang menyatakan hal yang saya ceritakan.

      Semoga bermanfaat,
      (maaf jika banyak typo error karena mengetik mobile)
      Salam,

  8. Selamat siang Mas, menarik sekali artikel tulisan Anda. Saya ingin mengajukan pertanyaan Mas:

    1. Mas, di perusahaan kami sering dilakukan relokasi aset tetap dari satu wilayah ke wilayah lain. Untuk saat ini biaya-biaya yang dikeluarkan untuk merelokasi aset tetap tersebut tetap dibiayakan. Bagaimana menurut Mas, dengan adanya kapitalisasi biaya relokasi pada PSAK 16 terbaru ini? Apakah kebijakan ini seharusnya dirubah dengan mengkapitalisasi biaya relokasi tersebut ke aset yang bersangkutan?

    2. Mengenai revaluasi aset-aset nyaris bernilai “1” yang masih menghasilkan pendapatan bagi perusahaan. Bisakah kami hanya memperpanjang umur manfaatnya tanpa dilakukan evaluasi ulang nilai wajar? Salah satu anak usaha kami pernah melakukan hal ini dan ternyata lolos pemeriksaan. Hal ini juga untuk menghindari pajak atas evaluasi ulang nilai wajar.

    • Selamat siang,

      Langsung saya jawab saja,
      1. Sebaiknya dikapitalisasi sesuai pengaturan di PSAK 16.
      2. Perlakuan yang dilakukan perusahaan anda sudah benar & sesuai PSAK 16. Evaluasi umur manfaat & perlakuan depresiasi untuk mencerminkan manfaat ekonomik. Evaluasi nilai wajar yang saya bahas di tulisan ini hanya pembahasan secara teoritis. Dalam praktiknya tidak dilakukan.

      Semoga bermanfaat.
      Salam,

  9. mas, saya mau tnya gimana jurnal untuk menilai ulang AT yang nilai Asetny sudah habis, tapi manfaatnya masih ada..
    thank

    • Itu secara teori bisa, tapi secara praktiknya harus revaluasi & jarang sekali dilakukan. Kalau sudah terlanjur, dibiarkan saja. Tetapi untuk yang belum, metode depresiasi & masa manfaat harus direview setiap akhir periode pelaporan, sehingga hal semacam ini tidak lagi terjadi.

      Salam,

  10. MAS SAYA MAU NANYA.

    KALAU MAU MELAKUKAN PENILAIAN ASET KEMBALI DENGAN MODEL BIAYA
    RUMUSNYA KAN HARGA PEROLEHAN-AKUMULASI PENYUSUTAN-AKUMULASI PENURUNAN NILAI.

    BAGAIMANA KALAU ASET TERSEBUT BARU PERTAMA KALI DIREVALUASI
    APAKAH PENURUNAN NILAI NYA DIABAIKAN?
    SEHINGGA MENJADI HARGA PEROLEHAN – AKUM PENYUSUTAN

  11. salam,
    saya ingin bertanya soal aset tetap tak berwujud berupa website, penilaian website diatur dalam PSAK 16, PSAK 19 (IAS 38), ISAK 14 (SIC 32), dalam SIC 32 umur manfaat website hendaknya diukur sesingkat mungkin, hal tersebut menjadikannya sebagai aset tak berwujud yang memiliki masa manfaat, namun tidak sedikit website yang mengalami kenaikan nilai seiring waktu sesuai penilaian pasar terhadap pengelolaan website tersebut. yang ingin saya tanyakan pencatatan apa yang paling tepat untuk aset website ketika nilai bukunya diamortisasi sesuai tahun namun nilainya (market value) mungkin saja terus bertambah secara material?

    • Salam,
      Penjelasannya begini, pertama, Pada umumnya perusahaan yang menerapkan IFRS tidak memiliki niat (intensi) untuk menjual website. Sebagai contoh website milik Pertamina, walaupun dinilai mahal, pastinya website tersebut tidak akan dijual oleh Pertamina. Sehingga menilai website berdasarkan nilai pasar tidak relevan dalam hal ini. Kedua, nilai pasar yang menilai website ini apakah pasar aktif? Setahu saya website hanya dinilai oleh pemeringkat web saja. Tidak ada pasar aktif untuk website perusahaan (atau website entitas yang sudah established), yang ada ‘penjual website’ (pengembang website, penyedia hosting) CMIIW.
      Dari kedua hal ini saja sudah dapat disimpulkan, kalau website dinilai dengan nilai ‘pasar’, informasi yang disajikan di laporan keuangan mengenai nilai website ini bisa misleading, karena pada dasarnya website perusahaan itu tidak diperjualbelikan di pasar aktif (atau derivasinya jika menggunakan model revaluasi).
      Selanjutnya, nilai pasar bisa diakomodasi jika menggunakan model revaluasi. Tapi syarat-syarat penggunaan model revaluasi harus dipenuhi…

  12. mau nnya nih , aku ada tugas persentasi teori akuntansi ttg biaya menurut ifrs, psak terbaru sama sak etap. cuma stiap browsing slalu definisinya ttg beban semuanya. biasa kasi tw gak definisi biaya menurut ketiga peraturan tsb. makasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s