IAS 41: Agriculture, Sebuah IFRS yang Gagal…

Setelah merenung cukup lama dan meratapi kebodohan bahasa saya dalam postingan sebelum ini (saya pindah ke tong sampah karena bahasanya kacau), akhirnya saya menemukan ide yang lebih bagus. Cara bercerita yang nggak sebodoh postingan kemarin tetapi juga tidak seserius postingan sebelum-sebelum ini.

Tulisan kali ini akan membahas kegiatan saya beberapa hari ini: riset mengenai IAS 41: Agriculture. Saya merasa perlu untuk mempublikasikan hasil riset kali ini, karena temuan ini cukup penting & dapat mengubah cara pandang banyak orang mengenai IFRS.

Nah, dalam riset kali ini, saya seperti mencari ikan di air keruh (untungnya riset kali ini airnya tidak sekeruh waktu riset under common control yang konsep teori ekuitas dan entitasnya ribet banget). Analogi air keruh ini saya dasarkan pada kenyataan bahwa IAS 41 belum pernah ada sebelumnya di Indonesia. Walaupun dulu Indonesia punya PSAK 32: Akuntansi Kehutanan atau Pedoman Akuntasi Perkebunan, tapi sungguh, IAS 41 belum pernah ada di Indonesia.

Mungkin anda semua bertanya-tanya, apa itu IAS 41: Agriculture? Sama… Saya waktu pertama kali diberi penugasan juga bertanya-tanya tentang hal yang sama. Waktu memulai riset, saya cuma berbekal IAS 41: Agriculture yang saya unduh dari website IASB, power point presentasi dari MASB (Malaysian Accounting Standards Board), dan panduan dari atasan saya.

Untungnya saya pernah ingat isu mengenai IAS 41 yang diutarakan oleh orang IASB (International Accounting Standards Board) yang perawakan fisik dan mukanya mirip sinterklas tapi saya lupa namanya. Kurang lebihnya, dia bilang kalo IAS 41 tu nggak sempurna, masih banyak flawnya. Selain itu, orang-orang dari MASB pernah juga bilang kalo Fair Value Accounting di IAS 41 itu terlalu memaksa dan nggak sesuai kalau diterapkan ke semua biological asset. Ingatan-ingatan saya yang kelihatannya tidak berguna ini nantinya cukup membantu.

Kemudian setelah saya baca IAS 41 (cuma bagian pengaturannya aja, yang dibold), saya memahami kalau IAS 41 itu mengatur pengakuan, pengungkapan dan pengukuran aset biologik dan produk agrikultur yang merupakan hasil dari aset biologik itu. Contoh aset biologik itu sapi perah – produk agrikulturnya susu. Contoh lainnya, kambing – produk agrikulturnya daging kambing. Contoh lainnya lagi, silakan baca IAS 41 di sini. Pengukuran aset biologik dan produk agrikulturnya sama, diukur sebesar nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual. Bedanya, untuk produk agrikulturnya, pengukuran itu dilakukan pada saat panen (point of harvest).

Beberapa hari setelah penugasan, saya masih lontang-lantung ke sana kemari di internet. Beberapa kali sempet nyasar ke indowebster buat donlod serial samurai sentai shinkenger, donlod game angry birds, dan donlod kaizoku sentai gokaiger. Selain itu, saya juga sempet main game plant versus zombie dan bikin tema angry birds buat HP saya, Nokia 5130XM. By the way, serial samurai sentai shinkenger itu keren banget! Saya kagum dengan Shinken Red – Takeru Shiba, pemimpin samurai sentai & kepala keluarga Shiba ke 19 yang super-super keren! Saya juga kagum dengan Shinken Green – Chiaki Tani, samurai muda penuh semangat juang yang mengabdi pada keluarga Shiba.

Ehm, kembali ke topik. Setelah saya lontang lantung di jalan yang benar seperti SSRN, googling jurnal-jurnal penelitian tentang agriculture, dan membaca lebih dari 20 jurnal penelitian (yang dibaca beneran cuma 1 jurnal keren, lainnya cuma skimming aja), akhirnya saya mendapat pencerahan dari kitab ijo saya (lho?).

Kitab ijo ini adalah kitab sakti akuntansi saya. Kitab ini warnanya ijo (ya iya lah, namanya juga kitab ijo), penulisnya Ki Suwardjono yang dibimbing oleh para malaikat. Asal mula dari kitab ijo ini cukup kontroversial. Ada yang bilang, ketika Ki Suwardjono bersemedi di sebuah gua, seorang malaikat datang dan memberinya pesan, kemudian Ki Suwardjono menuliskan pesan malaikat tersebut. Ada juga yang bilang, kitab ijo ini diturunkan dari langit, dibawa oleh malaikat dan diserahkan ke Ki Suwardjono. Sampai sekarang, saya sendiri tidak tahu dari mana asal muasal kitab ijo. Tapi satu hal yang pasti, kitab ijo milik saya ini saya beli dari BPFE UGM, dan tersedia juga di toko buku terdekat di kota anda.

Dalam suatu bagian di kitab milik saya yang halamannya hampir jebol, saya menemukan tulisan mengenai akresi. Di sini Ki Suwardjono memaparkan tentang konsep akresi. Konsep ini didasarkan atas sifat secara umum dari aset biologik yaitu:

  1. Biasanya, aset biologik dapat dijual setiap saat pada berbagai tingkat pertumbuhan dengan harga pasar tertentu. Seperti misalnya, kambing yang dapat dijual setiap saat pada umur berapapun dengan harga pasar yang cukup pasti.
  2. Semakin lama umur aset biologik tersebut, maka semakin tinggi harganya. Seperti misalnya, pohon jati yang belum ditebang, semakin tua semakin tinggi harganya.

Kedua konsep di atas merupakan dasar untuk mengakui pendapatan seiring dengan pertumbuhan.

Dalam konsep akresi, nilai dari aset biologik terus menerus bertambah karena adanya upaya yang wajar dari entitas. Selain itu, aset biologik ini merupakan hasil kegiatan operasi utama. Oleh karena itu, dalam keadaan semacam ini, pendapatan sudah terbentuk seiring dengan pertumbuhan dari aset biologik. Namun, pendapatan tersebut belum terealisasi. Sehingga kurang tepat kalau pendapatan ini diakui di laporan laba rugi (bahasa kerennya Pi-en-eL).

Nah, Ki Suwardjono sendiri sudah menjelaskan dalam kitab ijo tersebut bahwa jika menggunakan konsep akresi, maka pengukuran suatu aset biologik dapat didasarkan pada nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual. Konsep ini persis sama digunakan dalam IAS 41. Dalam standar tersebut, suatu aset biologik diukur sebesar nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual. Khusus untuk produk agrikultur, pengukuran dilakukan pada saat panen (point of harvest). Permasalahannya, IAS 41 memukul rata semua aset biologik dengan perlakuan akresi ini. Selain itu, selisih perubahan nilai wajar dikurangi biaya menjual yang belum terealisasi ini diakui di laba rugi.

Dampak dari pengakuan selisih perubahan nilai wajar dikurangi biaya menjual yang belum terealisasi di laba rugi ini adalah, meningkatnya volatilitas kinerja keuangan yang sebetulnya belum terealisasi. Dalam kasus aset biologik tertentu, laba meningkat tajam di awal dan menurun tajam pada periode berikutnya.

Sebetulnya, beberapa penelitian menjelaskan bahwa pengakuan selisih perubahan nilai wajar dikurangi biaya menjual di laba rugi ini hanya masalah periode saja. Pada saatnya, selisih perubahan nilai wajar ini akan terealisasi sendiri. Namun masalahnya, IASB tidak memperhitungkan bahwa ada aset biologik yang waktu realisasinya sangat lama. Seperti misalnya pohon jati. Dari waktu tanam hingga dapat dipanen, jeda waktunya sekitar 25 tahun. Selama 25 tahun itulah entitas harus mengakui selisih perubahan nilai wajar dikurangi biaya menjual di laba rugi. Padahal, kayu jati semakin tua, sudah jelas nilainya pasti akan naik terus. Artinya, dapat diperkirakan sendiri seberapa besar nilai belum terealisasi yang sudah diakui dan masuk ke saldo laba.

Selain permasalahan pengakuan nilai wajar yang belum terealisasi di laba rugi ini, IAS 41 tidak membedakan aset biologik. Padahal, ada aset biologik yang dimiliki tapi tidak untuk dijual dan hanya digunakan untuk memproduksi aset biologik lain. Seperti misalnya sapi pejantan, ayam pejantan, atau ayam petelur. Dengan sifat yang tidak untuk dijual ini, pengukuran aset biologik semacam ini dengan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual dan mengakui selisih perubahannya di laba rugi akan sangat menyesatkan. Selain itu, pengukuran dengan nilai wajar dikurangi untuk menjual bagi aset biologik yang dimiliki tidak untuk dijual, salah secara teoritis (lihat lagi dasar penalaran akresi dalam kitab ijo yang saya paparkan di atas).

IAS 41 juga tidak memperhatikan perlakuan atas aset biologik berdasarkan umurnya. Ada beberapa jenis aset biologik yang dimiliki kurang dari satu tahun. Contohnya adalah beberapa jenis ikan dan tebu. Untuk aset biologik semacam ini, pengukuran berdasarkan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual akan sangat tidak berpengaruh. Hal ini dikarenakan aset biologik tersebut sifatnya seperti persediaan dan masuk kategori aset lancar.

Malaysian Accounting Standards Board (MASB) telah memaparkan dalam seminar IAS 41 yang diadakan beberapa waktu silam di Jakarta (paparan dapat diunduh di website IAI). Dalam paparan tersebut, MASB memberi saran untuk membagi perlakuan atas aset biologik berdasar sifatnya. Aset biologik yang masuk dalam kategori bearer asset (tidak untuk dijual dan hanya digunakan berproduksi) diukur berdasarkan historical cost, tapi ketika masih dalam pengembangan, untuk yang sifatnya separuh consumable asset (untuk dijual) diukur berdasar nilai wajar. Selain itu, untuk aset biologik yang merupakan consumable asset, diukur berdasar nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual.

MASB saat itu belum memperhatikan aset-aset biologik berumur kurang dari satu tahun yang disebutkan dalam BC IAS 41. Sebetulnya, usulan dari MASB dapat diperlengkap lagi dengan membagi pengaturan atas aset biologik yang umurnya kurang dari satu tahun dengan perlakuan seperti persediaan.

Permasalahan teoritis dari IAS 41 di atas merupakan satu dari masalah-masalah lainnya. Berdasarkan penelitian yang dikeluarkan the Institute of Chartered Accountants of Scotland baru-baru ini (diterbitkan Februari 2011), terdapat banyak sekali kekurangan IAS 41 ketika diimplementasikan dalam praktik.

Penelitian yang dilakukan di tiga negara berbeda yang sudah menerapkan IAS 41 sejak lama ini menghasilkan beberapa temuan kunci yaitu,

  1. Walaupun model biaya adalah model penilaian paling umum yang digunakan untuk aset biologik, namun berbagai alternatif nilai wajar digunakan, seperti misalnya NPV, penilaian independen/eksternal, NRV, dan harga pasar. Penggunaan berbagai alternatif ini ada di satu negara dan negara yang berbeda. Oleh karena itu, IAS 41 telah gagal meningkatkan keterbandingan praktik akuntansi di sektor agrikultural secara internasional.
  2. 9 dari 17 perusahaan di Prancis yang disyaratkan secara hukum untuk mengadopsi IAS 41 membantah anggapan bahwa FV dapat ditentukan secara andal, hal ini menjadi pembenaran dalam penggunaan model biaya dan menghindari persyaratan penilaian yang memberatkan dari IAS 41. Sebaliknya, berbagai entitas di Inggris dan Australia, terutama di sektor kehutanan dan perkebunan, menggunakan nilai kini dari aliran kas bersih masa depan dan kadang melibatkan jasa penilai independen. Dalam cakupan tertentu, temuan ini dapat dikatakan merupakan hasil dari pengaruh budaya. Sebagai contoh, perusahaan di Prancis menilai aset biologik mereka secara konservatif menggunakan model biaya, sementara model revaluasi secara umum digunakan di Australia dan Inggris. Hal ini konsisten dengan kalsifikasi Gray (1988) atas tiga negara yang berbasis konsep konservatisme sebagai struktur budaya.
  3. Hasil di atas sesuai dengan argumen Nobes (2006) bahwa perbedaan internasional pelaporan keuangan dan perkembangan IFRS terjadi karena ada perbedaan sistematik dalam cara suatu negara merespon IFRS.
  4. Terdapat juga kurangnya keterbandingan praktik pengungkapan. Pemenuhan persyaratan pengungkapan dalam mengadopsi model biaya (kebanyakan entitas di Prancis), sangat buruk yaitu hanya 36%. Secara umum, perusahaan di Australia mengungkapkan lebih dari 60% item yang disyaratkan sedangkan Inggris hanya setengahnya.
  5. Tingkat kesesuaian dengan persyaratan pengungkapan IAS 41 lebih tinggi di Inggris dan Prancis. Ini dikarenakan entitas di Australia disyaratkan menggunakan AASB 1037 yang mirip dengan IAS 41 untuk beberapa tahun sebelum penggunaan IAS 41 di 2001.
  6. Peran auditor dalam mengawasi penerapan IAS 41 sangat bervariasi. Dalam beberapa kasus terjadi ketidaksepakatan antara manajemen perusahaan dan auditor. Contohnya adalah kriteria dalam menilai estimasi dan asumsi manajemen berbeda-beda antar auditor.
  7. Terjadi penolakan yang cukup kuat terhadap IAS 41, terutama di sektor perkebunan dan kehutanan. Penyebabnya adalah:
    1. Para responden sangat sepakat bahwa biaya yang dikeluarkan untuk mengukur dan melaporkan aset biologik pada FV sangat tidak sebanding dengan manfaatnya.
    2. Para akuntan dan auditor sangat sepakat bahwa FVA yang disyaratkan dalam IAS 41 meningkatkan volatilitas penghasilan.
  8. Pemilihan tingkat diskonto yang sesuai untuk penilaian aset biologik melibatkan asumsi dan pertimbangan yang sangat subjektif. Secara khusus, sangat sulit untuk menentukan tingkat bebas risiko di negara yang pasar modalnya kurang berkembang. Di banyak negara, cukup sulit untuk menentukan risiko premi aset kehutanan. Beberapa perusahaan kehutnanan di Inggris dan Australia menyediakan bentangan estimasi tingkat diskonto dan analisis sensitivitas terkait nilai aset biologik. Tingkat diskonto ini biasanya dibuat oleh penilai independen.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah:

  1. Kurangnya keterbandingan praktik akuntansi untuk kegiatan agrikultural dapat memicu perbedaan secara internasional atas kualitas penghasilan (earning) di sektor ini. Karakteristik kualitatif: comparability tidak tercapai.
  2. Di beberapa yurisdiksi, penolakan IAS 41 cukup kuat karena permasalahan perhitungan pajak.
  3. Permasalahan karakteristik kualitatif informasi: cost benefit banyak yang tidak tercapai jika menggunakan FVA.
  4. Penilaian aset biologik berdasar nilai wajar dan mengakui untung rugi revaluasi di laba rugi meningkatkan volatilitas laporan kinerja dan sulit digunakan untuk mengambil keputusan.
  5. Di Prancis, dari 17 perusahaan yang disyaratkan, 9 perusahaan memilih untuk tetap menggunakan pedoman akuntansi untuk entitas agrikultur yang berlaku di Prancis. Di Indonesia, untuk entitas kehutanan terdapat Permenhut No69 tahun 2009.
  6. Di banyak negara di dunia, IAS 41 tidak berdampak pada entitas agrikultural menengah dan kecil, karena ada pilihan untuk menggunakan model biaya jika FV tidak dapat diukur andal.
  7. Di beberapa negara tropis, FV yang ditentukan penguasa pasar tidak mencerminkan nilai wajar nyata dari komoditas, misalnya kopi, teh, pisang, dan kakao. Tidak semua pemangku kepentingan menerima nilai wajar (atau nilai pasar dunia) dari tanaman ini adalah harga wajar yang mencerminkan nilainya.
  8. Di Prancis, dalam beberapa kasus, auditor memberi label ‘health warning’ untuk menarik perhatian pembaca laporan atas ketidakpastian yang terkait dengan penilaian aset biologik.

Dari hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa IAS 41 merupakan standar akuntansi yang pengaturannya sangat lemah. Gagal secara teoritis dan praktis. IASB sendiri sebaiknya mulai mengkaji ulang standar akuntansi ini, sehingga cacat yang ada dalam standar dapat segera dibenahi dan kemudian dapat diterapkan secara internasional tanpa masalah yang cukup berarti.

Sebagai penutup tulisan kali ini, saya melampirkan hasil penelitian saya di sini. Selain itu, saya juga menyarankan bagi anda para penggemar akuntansi yang selama ini memandang bahwa IFRS merupakan sesuatu hal baru dan keren, untuk mengubah pandangan anda tersebut. Ternyata IASB isinya juga para manusia, yang taksempurna dan masih punya banyak salah…

91 thoughts on “IAS 41: Agriculture, Sebuah IFRS yang Gagal…

  1. Bagian cover belakang kitab ijo menyatakan, Sungguh! Ini buku wajib baca bagi mahasiswa s1, s2, dan s3 akuntansi; dosen, perserta pendidikan profesi, peneliti, praktisi, dan penulis/penerjemah buku akuntansi; akuntan publik, auditor, dan penyusun standar.

  2. pak saya mau bertanya apakah IAS 41: Agriculture, sebuah IFRS yang gagal hanya secara teori ataukah juga secara penerapan?

    • Dapat anda baca di hasil riset yang terlampir. Riset dari Scotland sudah membuktikan pertanyaan anda tersebut.

      Salam,

  3. mas handoko, mantab!! kebetulan saya lagi nyusun skripsi tentang penerapan ias41 pada TANAMAN KOPI. boleh tanya2 ya mas tentang ias41. hehehe

    taruhlah IAS 41 merupakan produk IFRS yg gagal. Tapi saya ingin bertanya beberapa hal:
    1. apakah yang dimaksud dengan pasar aktif? apa seperti BEI di mana list harga pasar tersedia, atau seperti jual beli mobil di mana harga mobil second bisa ditentukan?
    2. jika seperti BEI kira2 di mana saya bisa mendapatkan informasi tentang harga pasar dari perebunan? atau jika mungkin ada lembaga yang menyediakan data2 dari pasar perkebunan
    3. jika seperti jual beli mobil, apakah ada formula khusus untuk menentukan harga pasar dari perkebunan untuk menentukan nilai wajarnya?
    4. jika memang tidak bisa disamakan dengan kedua jenis pasar di atas, lalu kira2 bagaimana menentukan nilai wajar yang paling reliable, mengingat indonesia sudah harus menerapkan IAS di tahun 2012?
    5. menurut tulisan mas handoko di atas “””MASB memberi saran untuk membagi perlakuan atas aset biologik berdasar sifatnya. Aset biologik yang masuk dalam kategori bearer asset (tidak untuk dijual dan hanya digunakan berproduksi) diukur berdasarkan historical cost, tapi ketika masih dalam pengembangan, untuk yang sifatnya separuh consumable asset (untuk dijual) diukur berdasar nilai wajar””” berarti setelah tanaman kopi menghasilkan menggunakan harga pasar ya mas???
    6. mas paragraf 25 bunyinya:
    Biological assets are often physically attached to land (for example, trees in a plantation forest). There may be no separate market for biological assets that are attached to the land but an active market may exist for the combined assets, that is, for the biological assets, raw land, and land improvements, as a package. An entity may use information regarding the combined assets to determine fair value for the biological assets. For example, the fair value of raw land and land improvements may be deducted from the fair value of the combined assets to arrive at the fair value of biological assets.

    dan paragraf 18:
    If an active market does not exist, an entity uses one or more of the following, when available, in determining fair value:
    (a) the most recent market transaction price, provided that there has not been a significant change in economic circumstances between the date of that
    transaction and the end of the reporting period;
    (b) market prices for similar assets with adjustment to reflect differences; and
    (c) sector benchmarks such as the value of an orchard expressed per export tray, bushel, or hectare, and the value of cattle expressed per kilogram of
    meat.

    andaikata ini dipaksakan untuk diterapkan di tanaman kopi gimana caranya mas? soalnya pada skripsi saya harus kasi ilustrasi heheheh

    pertanyaan saya segitu dulu mas, terima kasih banyak mas, saya tunggu jawaban handalnya mas handoko ya heheheh
    salam

    • Pasar aktif itu pasar yang mana terjadi proses jual beli penyediaan dan permintaan secara aktif. Kalau untuk harga kopi di pasar aktif, ya berarti harga di mana kopi itu dijualbelikan secara aktif (ada penawaran dan permintaan yang seimbang). Sekarang, anda harus mencari pasar aktif kopi. BEI itu pasar aktif untuk instrumen keuangan (bursa efek – efek itu nama lainnya instrumen keuangan, jadi BEI = Pasar Aktif Instrumen Keuangan Indonesia), setahu saya kopi tidak dijual di situ. Saya kurang tahu tentang komoditas kopi pasar aktifnya di mana, coba cek di deperindag cari pasar komoditas, atau tanya ke entitas perkebunan seperti PTPN. Pisahkan juga pasar aktif tanaman kopi (untuk menghitung fair value tanaman kopi sebagai bearer asset) dan pasar aktif komoditas kopinya (agricultural product). Pertanyaan 1 & 2 terjawab.
      Selanjutnya, penentuan nilai wajar sudah pernah saya tulis di artikel lain di blog ini, coba cari artikel mengenai nilai wajar. Pertanyaan 3 terjawab.
      IAS 41 tidak diadopsi oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan, karena permasalahan-permasalahannya. Hal ini sudah disampaikan oleh Ketua Dewan Standar Akuntansi Keuangan dalam forum the 5th asia-oceania IFRS regional policy forum 23-24 Mei 2011 di Bali. Keputusan ini sudah didasarkan pada kajian teoritis, praktik di negara lain, pembahasan dengan negara lain termasuk IASB, dan limited hearing dengan entitas-entitas di sektor agrikultural seperti kehutanan, perkebunan, dan peternakan. Seingat saya, waktu limited hearing, entitas di sektor ini menyatakan bahwa ada pasar aktif untuk komoditasnya, jadi tidak ada masalah di penentuan nilai wajar. Hanya saja secara konsep teori IAS 41 akan memunculkan isu moral hazard, sehingga tidak jadi diadopsi DSAK. Negara lain yang juga tidak mengadopsi IAS 41 adalah Malaysia dan India.
      Untuk poin ke 5 silakan baca hasil riset, sudah jelas di situ. Tanaman kopi dari awal sudah bearer asset.
      Untuk poin ke 6, paragraf 25 maksudnya, kalau aset biologik itu melekat ke tanah, maka nilai wajarnya harus dipisahkan dari tanah. Kalau tanaman kopi biasanya sudah terpisah dari tanahnya jadi isu paragraf 25 ini tidak ada untuk tanaman kopi.
      Mengenai paragraf 18 itu cek dulu pasar aktif kopi ada atau tidak. Setahu saya seharusnya ada. Kalau tidak ada pasar aktifnya, maka poin a maksudnya harga terkini transaksi tanaman kopi di pasar aktif tanaman kopi (karena tanaman kopi itu bearer asset, sedangkan biji kopi itu agricultural product). Harga terkini itu harga paling akhir yang paling baru (misalnya kalau pasar reses selama 3 tahun ya harga paling kininya harga tiga tahun yang lalu), asalkan memenuhi syarat bahwa tidak ada perubahan signifikan dalam kondisi ekonomi selama tanggal tersbeut. Poin b maksudnya harga pasar tanaman yang secara sifat dan lain2 mirip kopi (termasuk substansi ekonomiknya). Poin c itu pembandingan harga dalam satu sektor, misalnya kalau ternak ya harga per kilogram daging ternak (kalau harga ternaknya tidak ada di pasar aktif).

      Pertanyaan terakhir dari saya, IAS 41 itu tidak akan diadopsi oleh DSAK, hasil kajiannya sudah jelas (ada di riset saya juga), untuk apa diterapkan ke entitas perkebunan kopi. Itu nanti kesimpulan skripsinya tidak jelas. Misalnya, judul skripsinya penerapan IAS 41 di perkebunan kopi di Indonesia. Lha, IAS 41 tidak akan diadopsi, lalu untuk apa skripsinya? Kalau misalnya tujuan dari skripsi anda itu mencari kebijakan akuntansi untuk entitas perkebunan, ikuti saja pengaturan dalam PSAK 25. Jangan menerapkan hal yang tidak ada. Kalau berdasar PSAK 25, entitas perkebunan akan menggunakan PSAK 16: Aset Tetap dan PSAK 14: Persediaan. Itu saja saran dari saya. Semoga bermanfaat.

      Salam,

  4. Salam kenal mas,

    Saya arif dari appraisal (penilai independent), terkait dengan penilaian biological aset dalam penentuan tingkat diskonto, menurut mas Handoko metoda apa yg paling tepat dipakai, apakah Wacc (yg turunannya dalam penilaian disebut Boim), ataukah CAPM, ataukah ada metoda lain yg paling relevan n apa alasanny.
    Mohon pencerahannya mas,

    matur nuwun

  5. Wow panjang, tapi …. yaahh cerita, mirip dalam komik, novel, hukum, sastra, dst. Kebetulan ini bidang saya yaitu minimal S1 Akuntansi sehingga pembahasan sebagai minimal S1 Akuntansi harus menggunakan teori bercirikan matematika tinggi (yaitu integral, turunan, logaritma, dll). Kalau tidak mampu teori berciri matematika tinggi maka harus melibatkan semua ilmu dan harus maksimal D3. Kalau tidak mampu juga maka tidak boleh lulus minimal S1 Akuntansi. Akuntansi itu banyak menghitung (khusus minimal S1 Ekonomi maka menghitung tingkat tinggi menggunakan integral, turunan, logaritma, dll, dalam rangka merancang bangun teori) sebagaimana IPA. Kalau cerita dan hitungan rendahan begini maka seharusnya alias sebagusnya tahu diri dengan sekolah paling tinggi hanya SMK Akuntansi, itu baru boleh lulus tapi tidak ada kesalahan penting sehingga fatal, dan harus tangkas alias cekatan. Atau jatuh sekolah ke fakultas hukum, marketing, ilmu sosial dan politik, ilmu komunikasi, sastra, etnomusikologi, dll yang di IPS tapi di bawah tingkatan minimal S1 Ekonomi. Di sini silahkan bercerita sepuasnya berbusa-busa dan banjir itu mulut (jangan lupa rutin sikat gigi, pakai parfum mulut, dan sedia tisu atau ember), dan silahkan bernostagia berhitung SD, berhitung SMP, dan berhitung SMA jurusan IPS.
    PSAK, IASB, MASB, dll adalah peraturan bukan teori! Analog dengan Undang-undang, KUH Perdata, KUH Pidana, dst yang merupakan peraturan dalam fakultas hukum bukan teori! Peraturan akuntansi dan praktik akuntansi diturunkan dari teori. Wajar saja peraturan dan praktiknya kacau karena teorinya kacau. He, he.

    • Hehehehe, terima kasih atas komentar saudara sitorus “master”. Untuk meluruskan, IASB dan MASB merupakan suatu lembaga dan bukan peraturan. B dalam singkatan tersebut kependekan dari Board, yang artinya badan (lembaga).
      Akuntansi tidak perlu menggunakan kalkulus (bahasa ilmiah untuk yang anda sebut sebagai integral dan turunan/diferensial) untuk pembuktian-pembuktiannya. Seperti yang kita para lulusan S1 tahu, pakar akuntansi seperti W.Patton & A.C Littleton atau Suwardjono (profesor di almamater saya, UGM) tidak selalu menggunakan kalkulus untuk pembuktian konsep-konsep atau dasar teori dalam standar akuntansi.
      Selain itu, riset saya mengenai IAS 41 ini (dan riset saya yang lain mengenai non-depreciable asset) telah diterima oleh Social Science Research Network. Ini berarti bahwa riset tersebut masuk kualifikasi jurnal riset mereka. Penyampaian saya dalam artikel ini memang saya buat santai, karena saya ingin mencoba cara penyampaian baru yang cukup berbeda dari cara penyampaian yang selama ini saya gunakan. Namun, jika anda cermati, anda akan menemukan banyak informasi penting di situ.

      Salam,

  6. Ya, badan yang membuat peraturan sebagaimana IAI yang produknya adalah PSAK, SPAP, dll. Wah, ternyata Bapak mengenal kalkulus, karena semua orang yang saya temui akan berkata, “Apa itu (kalkulus)?” Kalkulus digunakan untuk merancang bangun teori dengan merangkai semua faktor terkait sehingga menghasilkan cara alias metode dalam melakukan sesuatu alias praktik yang benar dan atau baik. Misalnya untuk menandingkan upaya selama satu periode berjalan dari suatu harta tetap dengan hasil dari harta tetap itu selama periode berjalan itu adalah, salah satunya dengan cara penyusutan garis lurus yang dirumuskan d = (cost – residu)/usia ekonomis. Rumus itu beserta taksiran variabel-variabelnya tentu tidak muncul alias nongol tiba-tiba. Di situlah pentingnya kalkulus merangkai segala faktor terkait mencari suatu cara berpraktik. Jadi bukan bercerita. Kalau tidak mampu begitu maka melibatkan pengetahuan dari semua ilmu dan harus maksimal D3. Misalnya bibit mikroba untuk membuat pupuk hayati alias biofertilizer, menurut pengetahuan biologi dan kimia tidak mengalami penyusutan secara fisik. Karena sel-selnya tidak mengalami diferensiasi dan spesialisasi sehingga awet muda alias hidup selamanya. Menurut pengetahuan fisika dan teknik mengenai kemajuan teknologi rancang bangun genetika dan kemajuan teknologi peniruan proses biologis (jadi membuat sesuatu tanpa mikroba tapi membuat mesin yang meniru cara kerja mikroba) justru menjadi faktor utama yang mengurangi manfaat ekonomis bibit tersebut.
    Perkebunan kelapa sawit misalnya. Pemberian pupuk untuk tanaman menghasilkan menurut pengetahuan pertanian, kimia, fisika dan biologi, tidak segera diserap oleh tanaman dan tidak semua diserap tanaman. Yang tidak diserap adalah syarat minimum supaya terjadi penyerapan, sehingga pemberian pupuk juga meningkatkan tanah alias land improvement. Menurut pengetahuan fisika dan kimia bahwa ada jenis pembenah tanah (misalnya asam humat yang butuh waktu puluhan tahun hingga ratusan tahun untuk terurai) yang tidak diserap tanaman tetapi membantu peningkatan efisiensi pemupukan sehingga termasuk peningkatan tanah (land improvement). Pupuk yang diserap sebagian untuk pertumbuhan generatif dan sebagian untuk pertumbuhan vegetatif (bunga dan buah). Pertumbuhan generatif sering meningkatkan kuantitas dan kualitas vegetatif sehingga pemberian pupuk juga menambah harga perolehan alias dikapitalisasi ke harga pokok tanaman menghasilkan. Menurut pengetahuan kimia bahwa komponen terbesar penyusun sel tanaman adalah air, C, H, dan O yang diperoleh gratis. Benarkah? C dan O dari CO2, H dari air. Pupuk hanyalah komponen kecil tapi sangat penting. Kalau ditemukan cara mengukur laju serapan C, H, O, beserta biayanya (misalnya dengan mengkapitalisasi nilai sekarang dari anuitas porsi tertentu pajak bumi dan bangunan ke harga perolehan tanaman) maka mungkin historical cost tetap dipertahankan, tidak perlu penilaian ulang terhadap kemungkinan penambahan manfaat ekonomis karena kenaikan fisik tanaman. Mengapa PBB? Karena PBB lebih relevan dalam kaitan dengan bahwa negara menjaga kepentingan kita terhadap air dan CO2. …. dst. Jadi kalau tidak mampu teori maka melibatkan pengetahuan semua ilmu harus maksimal D3, tentu perkuliahan wajib mengajarkannya.

  7. Tambahan Pak. Teori ibaratnya induk, sedangkan peraturan dan praktik ibaratnya anak. Anak diturunkan dari induk. Teori tidak sama dengan hipotesa alias dugaan alias curiga ilmiah alias membayangkan secara ilmiah. Hipotesa 50% berpeluang benar dan 50% berpeluang salah, sehingga harus dibuktikan dalam kenyataan alias praktik. Orang hukum, fisipol, fikom, sastra, orang awam, dan generasi lama masih menyamakan istilah hipotesa dengan teori. Misalnya seorang detektif polisi berkata, “Teori saya tentang pencurian itu rasanya dilakukan oleh orang dalam”. Kata teori di sini maksudnya hipotesa alias dugaan alias curiga ilmiah.

    • Terima kasih atas tambahannya. Namun anda melakukan sebuah kesalahan nalar yaitu overgeneralisasi. Tidak semua orang hukum, fisip, maupun sastra tidak mengetahui apa itu hipotesis. Banyak rekan saya dari fakultas lain tahu apa itu hipotesis. Selain itu, teori dan praktik dalam hubungannya tidak selalu teori merupakan induk dan praktik atau peraturan merupakan anak. Ada beberapa kasus yang mana praktik terbaik (best practice) dijadikan sebuah teori. Bahkan ada juga peraturan yang diturunkan dari praktik. Seperti misalnya kaizen, internal control SOA, JIT. Merupakan teori yang diturunkan dari praktik & peraturan.

      Salam,

  8. Terimakasih koreksinya tentang hipotesis. Saya salah mengetik, kata “masih” seharusnya “sering”, karena memang begitu yang saya alami. Kata “sering” berarti “kadang-kadang” alias “ada” orang yang saya yakin mampu membedakan hipotesis dengan teori. Sedangkan komentar Bapak berikutnya sudah tercakup dalam kalimat, “Kalau tidak mampu teori maka melibatkan pengetahuan semua ilmu harus maksimal D3”. Melibatkan semua ilmu itu akan menghasilkan peraturan tentang cara melakukan sesuatu alias berpraktik yang benar dan atau baik, bukan menghasilkan teori. Memang tidak ada teori yang bertahan benar dan atau baik selamanya, karena rancang bangun ada yang salah, atau ada faktor alias variabel belum dimasukkan, atau faktor alias variabel berubah, atau faktor alias variabel salah masuk “kamar” alias tidak berhubungan, atau lain-lain. Namanya juga manusia tidak ada yang sempurna maka demikian juga yang diciptakan manusia. Terimakasih sekali lagi.
    Salam.

  9. mas minta tolong untuk aset biologis diberikan contoh dan rumus untuk mencari Nilai arus kas bersih yang diharapkan dari aset setelah didiskontokan dengan tarif pajak yang berlaku khususnya untuk tanaman karet. terima kasih

    • Nilai arus kas bersih = NPV (Net Present Value). Rumusnya = NPV = NFV * (1-i)^-n. Yang mana NPV: Nilai arus kas bersih kini, NFV = Nilai arus kas bersih masa depan (dari titik pengukuran hingga akhir masa manfaat aset atau unit penghasil kas yang diharapkan), i = tingkat diskonto (menggunakan WACC), n = masa manfaat aset atau unit penghasil kas. Untuk WACC harus memperhitungkan juga risiko industri, risiko negara (country risk), risiko inflasi (dan perubahan kurs jika ada sensitivitas terhadap mata uang asing) dan risiko pajak.

      Semoga bermanfaat.
      Salam,

      • mas apabila diketahui laporan keuangan perusahaan, apakah tetap sama untuk pengaplikasian rumus tersebut? dan untuk biaya menjual itu merupakan estimasi perusahaan ya apabila aset biologis tersebut bukan untuk dijual melainkan untuk proses produksi? satu lagi bisa minta tolong buatkan studi kasusnya? buku suwardjono apakah bsa menjawab pertanyaan – pertanyaan saya ini, atau ada buku lain yang bisa dijadikan referensi minta pendapatnya mas, terimakasih

        • Konsep rumusnya sama saja. Bila aset perusahaan tidak dijual tapi diproduksi, maka aliran masuk kasnya dari proyeksi aliran masuk kas yang bisa dihasilkan melalui penjualan produknya sampai akhir masa manfaat aset tersebut. Studi kasusnya bisa beragam tergantung industrinya. Anda buat ceritanya, saya bisa bantu buatkan konsep perhitungannya.

          Salam,

  10. terima kasih mas atas jawabannya, ceritanya begini mas perusahaan tersebut terletak di Indonesia, bahan bakunya adalah karet dan yang dihasilkan dari kebun sendiri setelah itu diolah menjadi barang setengah jadi oleh perusahaan baru kemudian dijual.
    pada tahun 2008 – 2011 tanaman karet tercatat berturut – turut sebagai berikut : 33.464.208.500, 33.464.208.500, 33.464.208.500, 34.058.376.397 dan akumulasi penyusutan pada tahun 2008 – 2011 berturut – turut sebagai berikut : 23.903.517.699, . 25.576.728.124, 27.249.938.549, 28.947.905.970 . Arus kas bersih pada tahun 2008 – 2011 adalah 1.984.671.466 ……(12.574.435.927) 2.009.308.057 ……………….(19.076.615.218). pada tahun 2011 terdapat penambahan aset yang telah menghasikan penyusutan menggunakan metode garis lurus umur manfaat 25 tahun, dan sampai dengan tahun 2011 umurnya sudah mencapai 27 tahun. Pohon karet tersebut belum ditebang dikarenakan masih produktif hingga kini.
    yang ingin saya tanyakan:
    1. Berapa penentuan nilai wajar untuk tanaman karet nyapada tahun masing – masing?
    2. Untuk menjawab pertanyaan tersebut apakah ada yang kurang datanya?
    3. Untuk menjawab pertanyaan- pertanyaan saya tersebut untuk referensi yang lengkap dalam buku apa ya mas?

    Terima kasih mas sebelumnya.

    • 1. Nilai wajar karet tidak dapat ditentukan dalam kasus tersebut karena dalam kasus yang tersedia nilai tercatat. Untuk hierarki penentuan nilai wajar, silakan baca di tulisan saya dalam blog ini mengenai nilai wajar.
      2. Ya.
      3. Referensi yang cukup bagus mungkin buku yang dikeluarkan PWC: manual of accounting IFRS 2012 (silakan kontak ke PWC untuk mendapatkan buku ini), atau buku IFRS Primer. Paper-paper yang dikeluarkan kantor akuntan publik big 4 juga bisa bermanfaat.

      Semoga bermanfaat.
      Salam,

  11. Mas adakah regulasi “tandingan” untuk IAS 41 yang sudah diterapkan di Indonesia (PSAK)?
    atau apakah tetap menggunakan PSAK 25? atau yang lainnya? saya sedang membuat skripsi tentang biological assets (pengukuran, pengakuan dan penyajiannya) pada pohon apel
    terima kasih sebelumnya.

    • Setahu saya tidak ada. Untuk perlakuan akuntansinya, dasar utama menggunakan PSAK 25, kemudian turunan perlakuannya bisa menggunakan PSAK 16: Aset Tetap dan PSAK 14: Persediaan, sesuai dengan sifat asetnya. Jika aset tersebut digunakan untuk berproduksi tanpa digunakan untuk dijual, maka perlakuan menggunakan analogi PSAK 16. Kalau asetnya digunakan untuk dijual & umur manfaat ekonomik kurang dari satu tahun, analogi ke PSAK 14. Atau bisa juga menggunakan IAS 41 (sesuai hierarki perlakuan akuntansi di PSAK 25, jika tidak ada standar yang mengatur bisa menggunakan standar di negara lain), atau menggunakan pedoman akuntansi industri (industri perkebunan misalnya). Pemilihan dasar pengaturan ini juga bergantung apakah entitas pelapor ada di bawah regulator tertentu. Jika iya, maka pilihan menggunakan IAS 41 tidak dapat diterapkan.

      Semoga bermanfaat.
      Salam,

  12. terima kasih mas, o ya gimana ya mas saya bingung cara pengaplikasian rumus NPV dan WACC jawaban mas diatas, saya sedang skripsi mas sudah terlanjur ampe diujung terus kejebak dech sama judul saat ini data yang saya dapatkan berupa laporan keuangan dan dokumen – dokumen tentang aset biologis tanaman karet, kira2 data apalagi ya mas untuk melengkapi rumus tersebut? saya berharap banget mas bisa kasih contoh dan penyelesaiannya?

    • Itu memang tidak bisa dihitung dari laporan keuangan. Adanya di laporan forecast, di bagian management accounting. Untuk menghitung penurunan nilai menggunakan nilai pakai, harus diketahui proyeksi aliran kas bersih sampai akhir masa manfaat aset. Data ini tidak ada di laporan keuangan, tapi ada di bagian forecasting di perusahaan, karena ini biasanya data internal untuk laporan manajemen.
      Untuk contoh & penyelesaian, saya ada tapi data intern perusahaan, tidak bisa dipublikasikan. Kalau mau membuat contoh, saya masih belum ada waktu karena saat ini sedang hectic.

      Salam,
      Handoko

  13. 1. mas handoko untuk rumus NPV yang mas sebutkan diatas bisa ditulis sepeti ini ya NPV=NFV/(1 + i) pagkat n, ternyata gk bisa nulis pangkatnya? untuk n tersebut masa manfaat ampe akhir masa aset atau n tersebut masa manfaat aset saat pengukuran mohon penjelasannya mas?
    2. untuk WACC yang paling tepat menggunakan rumusyang bagaimana mas?

    • Pangkat kode matematisnya ^. Jadi menulisnya NPV = NFV*(1+i)^-n. N adalah akhir masa manfaat yang diharapkan dari aset. Jadi, kalau aset diharapkan bisa memproduksi sesuatu sampai 20 tahun, maka NPV = NFV (aliran kas bersih yang diharapkan dari proyeksi penjualan sampai 20 tahun), i menggunakan WACC, dan n = 20 tahun.
      Untuk WACC, bisa digunakan rumus: (D/V*Rd*(1-t))+(E/V*Re).
      yang mana,
      D = utang
      E = ekuitas
      V = E + D
      Rd = tingkat pinjaman atau return on debt
      t = tingkat pajak (tax rate)
      Re = return on equity, menggunakan CAPM

      CAPM = Rf + β*(Tr-Cr).
      Rf = risk free rate (tingkat bunga bebas risiko), kalau perusahaannya BUMN diambil dari tingkat bunga Surat Utang Negara (SUN), karena bebas risiko gagal bayar.
      β = market re-levered beta (diambil dari industry specific risk – misalnya kalau industri perkebunan, dicari beta untuk industri perkebunan).

      Semoga bermanfaat.
      Salam,

  14. mas kalau seandainya untuk penelitin skripsi Re nya tidak menggunakan rumus CAMP bagaimana? tetpi menggunakan laba bersih setelah pajak dibagi total ekuitas dikali 100%

  15. mas minta rumus sederhana untuk mencari NFV (aliran kas bersih masa depan yang diharapkan dari aset, dari titik pengukuran hingga akhir pengukuran) diatas

    • NFV dibuat dari proyeksi aliran kas masuk dari penjualan di masa depan, ada di bagian forecasting perusahaan. Tidak dapat dihitung dengan data laporan keuangan, karena tidak ada di laporan keuangan. Tapi dapat ditanyakan ke bagian forecasting, biasanya ini data yang tidak dapat dipublikasi.

      Salam,

  16. o ya mas Tr dan Tc untuk rumus CAMP diatas apa mas? biar lengkap ada semuanya ada di blog mas handoko ………….. hehe

  17. satu lagi mas untuk (rd) yang sy ketahui beban bunga/total hutang jangka pendek*100% atau ada yang lain??? dan untuk tax tersebut apakah tingkat pajak dengan rumus beban pajak/laba sebelum pajak*100% atau buka??? tolong kasih penjelasan mas?

  18. mas untuk Rf dan beta untuk industri perkebunan mas ad tautannya gak? waduh jadi ngrepotin nich nanya terus…………… terima kasih ya mas

  19. iya mas bener gak dikasih data proyeksi aliran kas bersih masa depan dari penjualan sma perusahaan tempat penelitian, terus ada solusinya gak mas untuk mencari NFV itu? Ini konsultasi namanya mas………..hehe semoga ilmu yang bermanfaat menjadi bekal di akherat ……….. AMIIN

    • NFV hanya dapat dihitung dari situ. Tidak ada cara lain melakukan perhitungan NFV, karena faktor internal & eksternal yang mempengaruhi trend proyeksi hanya perusahaan yang tahu.

  20. masih banyak nich mas yang mau saya tanyakan,
    1. (rd) yang saya ketahui adalah beban bunga/total hutang jangka pendek*100% atau ada yang lain??? dan untuk tax (pajak) tersebut apakah tingkat pajak dengan rumus : beban pajak/laba sebelum pajak*100% atau bukan??? tolong kasih penjelasan mas?
    2. untuk rumus NPV diatas yang pertama mas menjelaskan bahwa NPV=NFV*(1-i)^-n. dan penjelasan yang kedua NPV=NFV*(1+i)^-n jadi saya bingung mas yang mana? dan untuk pangkat -n harus dipositifkan dengan rumus turunan matematis ya mas, hasil akhir rumusnya bagaimana?
    3. setelah mengetahui forecast arus kas perusahaan sampai dengan akhir masa manfaat aset apakah kita masih harus mencari presetase kontrobusi untuk aset tanaman karet? karena aset tetap perusahaan bukan hanya tanaman karet.
    4. Bedakah antara budget dan forecast?
    5. Dalam mengukur umur manfaat aset tanaman karet yang berbeda-beda waktu tanamnya kita harus menggunakan rata-rata umur masa manfaat aset, atau hanya dengan melihat umur aset yang tertua (ditanam paling awal)?
    6. ketika kita sudah mengetahui nilai wajar dengan arus kas didiskontokan ini, apakah kita perlu mengurangkan dengan biaya untuk menjual aset tersebut untuk mencari antara nilai wajar dan nilai historis. Artinya Nilai wajar aset – biaya untuk menjual = nilai wajar aset tanaman karet bersih dan harga perolehan tanaman karet – akumulasi penyusutan = nilai buku aset tanaman karet sehingga nilai wajar aset tanaman karet bersih – nilai buku = selisih yang dimasukkan dalam rugi/laba.
    7. mas minta tautan Tr dan Cr untuk tahun 2009,2010, dan 2011.
    8. untuk Rf dan beta industri perkebunan, kan mas kurang mengikuti untuk Rf dan Beta untuk industri yang lain biasanya mas memakai alamat apa?
    Banyak bener kayaknya ampe tuntas dech………… pembimbing skripsi aku jadi mas handoko, saya nggak ada tempat bertanya kalau gak dengan mas handoko, soalnya saya juga beluum pernah belajar ini dan judul yang di ACC hanya judul ini sudah banyak yang sama mana waktunya mepet pengen cepet slesai tolong ya mas………….. semoga sukses selalu……

    • 1. Mungkin anda dapat browsing rumus-rumus untuk cost of capital: http://en.wikipedia.org/wiki/Cost_of_capital.
      2. NPV rumusnya 1+i, yang pertama salah ketik.
      3. Anda harus tentukan dulu cash generating unit (aset atau kumpulan aset yang dapat menghasilkan kas). Aliran kas masuk ditentukan dari cash generating unit. Apakah cash generating unit itu tanaman karet saja atau untuk dapat menghasilkan kas tersebut tanaman karet memerlukan aset-aset lain. Uji penurunan nilai didasarkan dari penentuan cash generating unit (CGU) ini. Baru setelah itu menentukan nilai terpulihkan, dari nilai terpulihkan dilihat penurunan nilainya dan diaplikasikan sesuai porsinya ke aset-aset dalam cash generating unit.
      4. Forecast itu jauh lebih panjang & lebih luas dari budget. Budget biasanya jangka waktunya 1 tahun ke depan, forecast bisa lebih lama. Selain itu, forecast memproyeksikan revenue, cost, expense, profit, tax.
      5. Mungkin diawali dulu dari menentukan CGU, kemudian umur manfaatnya ditentukan dari CGU tersebut.
      6. Jika maksudnya membandingkan nilai pakai (NPV cash flow) dengan nilai wajar – biaya menjual, dan dipilih mana yang lebih tinggi. Kemudian mana yang lebih tinggi ini sebagai pengurang dari nilai tercatat (book value) = impairment loss. Benar.
      7. Kenapa menggunakan 2009, 2010, & 2011? Tr-Cr menggunakan angka saat perhitungan (2012).
      8. Tergantung industrinya. Kalau saya dapat dari korporat. Industri sejenis biasanya saling membenchmark Rf. Mungkin browsing di google ada.

      Semoga bermanfaat.
      Salam,

  21. mas handoko untuk meyakinkan saya teteng rumus NPV diatas, apabila diketahui NFV=17.500.920.000, i=16% dan n=26 tahun. Mohon jawabannya pak untuk hasil NPV ny dengan kasus diatas? terimakasih sebelumnya………….

  22. Waduh mas hasilnya kok gak sama ya, saya menghitung discount factornya 0,021 jadi NPV nya 833.377.142.857,14. Bisa minta tlong penjelasannya untuk hasil tersebut mas? Atau discount factor yang mas pake untuk hasil NPV tersebut, terima kasih.

  23. o ya mas kalu arus kas masa depannya negatif apakah akan menghasilkan nilai wajar yang negatif juga contohnya NFV=-400.000.000 i=20% dan n=26 tahun. berapa mas NPV ny?

    • Kok bisa arus kas masa depan negatif? Berarti going concern perusahaan perlu dipertanyakan. Biasanya hampir tidak pernah ada arus kas masa depan negatif. Apa salah rumus?

  24. saya sangat membutuhkan referensi tentang penerapan IFRS di Indonesia… karena ingin saya jadikan tema skripsi,, namun simpang siurnya membuat saya semakin bingung.
    mungkin bapak bisa membantu memberikan saya referensi web yang harus saya kunjungi atau jurnal-jurnal?
    terima kasih

    • Kalau boleh tahu, simpang siurnya bagaimana? Untuk jurnal, silakan coba cari JRAI (Jurnal Riset Akuntansi Indonesia). Untuk referensi penerapan IFRS coba masuk ke tautan website Ibu Ersa Tri Wahyuni (ada di home bagian sebelah kanan blog ini), atau masuk ke website IAI.

      Salam,
      Handoko

      • Terima kasih sekali Pak atas bantuannya, mungkin kalau dibilang simpang siur tidak juga, mungkin hanya saya saja yang belum begitu paham tentang konvergensi IFRS ini sehingga membuat saya bingung dengan artikel2 yang pro dan kontra. 🙂
        kira-kira yang paling mudah untuk dijadikan bahan skripsi ttg IFRS ini bagian yang mana ya pak, menurut ketersediaan datanya …? terima kasih sebelumnya….

        • Kalau mau kualitatif, ambil saja satu PSAK yang sudah konvergen dengan IFRS & sudah diterapkan sejak setahun/dua tahun lalu, teliti penerapannya, kesesuaian penerapan dengan persyaratan, atau dampak penerapan terhadap saham/persepsi pemegang saham. Untuk kualitatifnya, bisa diteliti secara teori, apa ada penyimpangan dengan teori. Kalau mau studi kasus, ambil satu PSAK & coba terapkan di suatu perusahaan. Hasilnya seperti apa.

          Salam,
          Handoko

        • Oiya, pada jawaban sebelumnya saya salah ketik. Kalau mau kuantitatif, ambil saja satu PSAK (misalnya 50-55 atau 48), teliti penerapannya di perusahaan, lihat laporan keuangan perusahaan-perusahaan yang listed dan periksa kesesuaiannya dengan PSAK. Bisa juga melihat dampak penerapan PSAK yang konvergen dengan IFRS terhadap saham/persepsi pemegang saham.

          Salam,

    • cara mengetahui suatu perusahaan ybs telah menerapkan salah satu psak yg sudah konvergen dgn IFRS atau belum bagaimana ya pak, apakah harus membuka annual report stu persatu?

      • Kalau perusahaan listed, pasti sudah menerapkan PSAK. Cek saja dulu perusahaan listed, kemudian cari laporan keuangannya.

        Salam,

  25. ane sangat sepakat ma tulisan ini dan juga jurnalnya..
    Akan sangat bias info ketika nilai wajr aset bilogis belum terealisasi sudah masuk laba rugi, apa lagi ketika aset biologis melahirkan tetapi dia sebenarnya produknya bukan pada breeding.

    Ex:
    sapi perah Harga beli 500
    akhir Thn nilai wajar SelisihNilai Wjar Biaya jual Pada Laba Rugi
    0 500 (500)
    1 500 0 50 ( 50)
    2 750 250 50 200
    3 600 (150) 50 ( 200)
    4 550 (50) 50 ( 100)
    5 500 (50) 50 ( 100)
    6 500 (dijual untuk di potong karena tidak produktif, biaya jual 50) 450
    —————–
    ( 300)
    Anehnya pada akhir laba rugi jika ditotal setiap tahun ada rugi 300 dari aset, padahal harga saat beli dan jual sama.
    Ini satu faktor saja, jika ternyata kasusnya si sapi perah tadi punya anak dan dipelihara maka nilai anak tersebut:

    akhir Thn nilai wajar SelisihNilai Wjar Biaya jual Pada Laba Rugi
    0 200 200
    1 300 100 50 50
    2 500 200 50 150
    3 750 250 50 200
    4 600 (150) 50 ( 200)
    8 550 (dijual) ( 50) 10 490
    —————-
    890
    ini Lebih aneh lagi, karena pada harga jual bersih hanya 490 tetapi ada keuntungan tambahan 400..
    Jika akuntansi ini digunakan untuk perhitungan pajak pasti perusahaan model beginian pasti gulung tikar, jika perlu gulung-gulung di kuburan. hahah

    Ini jika pada 1 anak sapi dan belum di tentukan jenis kelaminnya, jika anak sapi perah ternyata jantan atau betina, bagai mana menilainya? JIka anak sapi belum satu periode udh dijual, dia masuk akun apa? penjualan aset tetap atau persediaan? demikian pula jika anak sapi setelah melahirkan meninggal? Belum lagi, bahwa beberapa peternakan menilai produksi aset, bukan pada asetnya, penyusutan pada tahun aset yang akhirnya menurunya produksi aset, dan juga nilai jual, shg haruskah pakai penyusutan angka tahun atau jumlah produksi?

    dalam Case ini, setelah saya baca IAS 41, tidak dijelaskan dengan jelas dan terkesan ambiguitas. Case ini juga cerminan banyak kasus agriculture lain…

    # setelah ane pikir beberapa saat, masalahnya hanya terletak pada “nilai wajar suatu aset” dan harus ada tuntutan kerugian atau laba pada setiap perubahannya, dia mencoba menyatakan nilai aset biologi setiap tahun dengan mencari nilai wajarnya dan membuat selisinya sebagai keuntungan atau rugi.
    Tetapi dalam realita praktis nilai aset cenderung ada laba atau rugi ketika di benar dijual atau telah direalisasikan.

    #Selain itu yang belum dalam IAS 41 masalah depresiasi karena kasalahan penanganan aset biologi, penurunan karena Umur aset, nilai produksi aset tersebut. ex, pada susu sapi. Thn pertama nilai produksi 10.000 galon, nilia jual wajr 50 juta, Thn kedua
    10.000 galon juga, tetapi nilai wajr 25 juta, karena pengolahan saat pemencetan susu sapi salah dan akhirnya banyak bakteri lalu nilainya juga turun. Jika di laporan keuangan menurut IAS 41 case ini tidak akan digambarkan, di catatan laporan keuangan “mungkin” ada. Tetapi klo berkaca pada ilmu akuntasi biaya (AKBi) perusahaan manufactur, ada kesalahan produksi, cacat. ataupun rework, semua akan tergambar dalam jurnal. Jika konsep ini dipakai untuk finance, mungkin perusahan gak akan dibiayai padahal dengan membenarkan prose pencet memencet susu, laba akan kembali normal…

    Itu sih mnenurut ane.. Ane tertarik tentang ini karena skripsweet (skripsi) ane tetntang akuntansi sapi perah. Tapi untungnya bukan tesisnya Danish.. Ane lebih pada akuntansi kritis penctatan utang pemebelian sapi perah pada koperasi atu bank yang menurut ane itu menyesatkan, bukan pada teori tapi implementasinya yang pada akhirnya peternak sapi perah akan menderita karena sifat akuntansi sendiri. Soalnya ane melihat akuntasi hanya sebagai “tools” atau alat mengukur dan menghitung kekayaan, tapi klo toolsnya didasari pada konsep kapitalisme maka dia akan mendukung kapitalisme, tetapi klo toolsnya di modifikasi untuk mendukung prinsip kerakyatan dan keadilan, maka hasilnya juga akan baik. Gitu menurut ane… mungking cenderung pake motodologi postmodernisme

    Bagaimana menurut bang handoko tentang pemaparan ane IAS dan skripsi ane? ada kah salah konsep?
    Ane berharap punya senior diskusi, apalagi klo melihat background penulis,.

  26. -perbaikan bagain koment sebelumnya….
    ane sangat sepakat ma tulisan ini dan juga jurnalnya..
    Akan sangat bias info ketika nilai wajr aset bilogis belum terealisasi sudah masuk laba rugi, apa lagi ketika aset biologis melahirkan tetapi dia sebenarnya produknya bukan pada breeding.

    Ex:
    sapi perah Harga beli 500
    akhir Thn nilai wajar SelisihNilai Wjar Biaya jual Pada Laba Rugi
    0 500 (500)
    1 500 0 50 ( 50)
    2 750 250 50 200
    3 600 (150) 50 ( 200)
    4 550 (50) 50 ( 100)
    5 500 (50) 50 ( 100)
    6 500 (dijual untuk di potong karena tidak produktif, biaya jual 50) 450
    —————–
    ( 300)
    Anehnya pada akhir laba rugi jika ditotal setiap tahun ada rugi 300 dari aset, padahal harga saat beli dan jual sama.
    Ini satu faktor saja, jika ternyata kasusnya si sapi perah tadi punya anak dan dipelihara maka nilai anak tersebut:

    akhir Thn nilai wajar SelisihNilai Wjar Biaya jual Pada Laba Rugi
    0 200 200
    1 300 100 50 50
    2 500 200 50 150
    3 750 250 50 200
    4 600 (150) 50 ( 200)
    8 550 (dijual) ( 50) 10 490
    —————-
    890
    ini Lebih aneh lagi, karena pada harga jual bersih hanya 490 tetapi ada keuntungan tambahan 400..
    Jika akuntansi ini digunakan untuk perhitungan pajak pasti perusahaan model beginian pasti gulung tikar, jika perlu gulung-gulung di kuburan. hahah

    Ini jika pada 1 anak sapi dan belum di tentukan jenis kelaminnya, jika anak sapi perah ternyata jantan atau betina, bagai mana menilainya? JIka anak sapi belum satu periode udh dijual, dia masuk akun apa? penjualan aset tetap atau persediaan? demikian pula jika anak sapi setelah melahirkan meninggal? Belum lagi, bahwa beberapa peternakan menilai produksi aset, bukan pada asetnya, penyusutan pada tahun aset yang akhirnya menurunya produksi aset, dan juga nilai jual, shg haruskah pakai penyusutan angka tahun atau jumlah produksi?

    dalam Case ini, setelah saya baca IAS 41, tidak dijelaskan dengan jelas dan terkesan ambiguitas. Case ini juga cerminan banyak kasus agriculture lain…

    # setelah ane pikir beberapa saat, masalahnya hanya terletak pada “nilai wajar suatu aset” dan harus ada tuntutan kerugian atau laba pada setiap perubahannya, dia mencoba menyatakan nilai aset biologi setiap tahun dengan mencari nilai wajarnya dan membuat selisinya sebagai keuntungan atau rugi.
    Tetapi dalam realita praktis nilai aset cenderung ada laba atau rugi ketika di benar dijual atau telah direalisasikan.

    #Selain itu yang belum dalam IAS 41 masalah depresiasi karena kasalahan penanganan aset biologi, penurunan karena Umur aset, nilai produksi aset tersebut. ex, pada susu sapi. Thn pertama nilai produksi 10.000 galon, nilia jual wajr 50 juta, Thn kedua
    10.000 galon juga, tetapi nilai wajr 25 juta, karena pengolahan saat pemencetan susu sapi salah dan akhirnya banyak bakteri lalu nilainya juga turun. Jika di laporan keuangan menurut IAS 41 case ini tidak akan digambarkan, di catatan laporan keuangan “mungkin” ada. Tetapi klo berkaca pada ilmu akuntasi biaya (AKBi) perusahaan manufactur, ada kesalahan produksi, cacat. ataupun rework, semua akan tergambar dalam jurnal. Jika konsep ini dipakai untuk finance, mungkin perusahan gak akan dibiayai padahal dengan membenarkan prose pencet memencet susu, laba akan kembali normal…

    Itu sih mnenurut ane.. Ane tertarik tentang ini karena skripsweet (skripsi) ane tetntang akuntansi sapi perah. Tapi untungnya bukan tesisnya Danish.. Ane lebih pada akuntansi kritis penctatan utang pemebelian sapi perah pada koperasi atu bank yang menurut ane itu menyesatkan, bukan pada teori tapi implementasinya yang pada akhirnya peternak sapi perah akan menderita karena sifat akuntansi sendiri. Soalnya ane melihat akuntasi hanya sebagai “tools” atau alat mengukur dan menghitung kekayaan, tapi klo toolsnya didasari pada konsep kapitalisme maka dia akan mendukung kapitalisme, tetapi klo toolsnya di modifikasi untuk mendukung prinsip kerakyatan dan keadilan, maka hasilnya juga akan baik. Gitu menurut ane… mungking cenderung pake motodologi postmodernisme

    Bagaimana menurut bang handoko tentang pemaparan ane IAS dan skripsi ane? ada kah salah konsep?
    Ane berharap punya senior diskusi, apalagi klo melihat background penulis,.

    • Sebenarnya kalau menggunakan konsep nilai wajar, pasti nanti akan menggunakan juga konsep other comprehensive income. Dari OCI ini nantinya akan kelihatan gain/loss dari kenaikan/penurunan nilai wajar, sehingga dampaknya tidak sedramatis yang dibayangkan. Lagipula asumsi dalam penyajian laporan keuangan adalah, pengguna laporan keuangan memiliki pengetahuan yang mencukupi di bidang akuntansi. Sehingga tidak akan semudah itu pengguna laporan keuangan ‘tertipu’. Untuk kaitan IAS 41 dengan pencatatan utang pembelian, saya pikir dua hal ini tidak terlalu terkait. Apalagi yang namanya utang pembelian, jangankan sapi, utang pembelian rumah saja bisa jadi menyesatkan.
      Mengenai peternak sapi perah akan menderita karena sifat akuntansi mungkin bisa dijelaskan lebih lanjut? Bagian mana dari akuntansi yang bersifat menyengsarakan orang? Hehehe… Sebetulnya akuntansi hanya alat pencatatan dan dasarnya dari kapitalisme. Kalau dilihat ke persamaan akuntansi, aset = kewajiban + modal. Modal kata lainnya kapital. Jadi pada dasarnya akuntansi menunjukkan perubahan komposisi dari aset, kewajiban, dan kapital. Nah, orang-orang yang berkepentingan pada modal itu disebut kapitalis bukan? Jadi kalau kita berorientasi pada keuntungan, laba, otomatis kita merupakan kapitalis. Sifat mencari keuntungan ini merupakan sifat dasar dari manusia. Sehingga, dalam kondisi pasar bebas, invisible hands yang membawa keseimbangan di pasar, sebenarnya berakar dari kapitalisme, atau sifat manusia yang ingin mencari untung masing-masing. Semua orang ingin mencari untung masing-masing, kalau sama kuat/ kuat lemah, pasti keseimbangan akan terjadi.
      Sudah cukup puyeng? Pembahasan jadi nyebar kemana-mana & puyeng…

      Hahaha
      Salam,

  27. ane sangat sepakat ma tulisan ini dan juga jurnalnya..
    Akan sangat bias info ketika nilai wajr aset bilogis belum terealisasi sudah masuk laba rugi, apa lagi ketika aset biologis melahirkan tetapi dia sebenarnya produknya bukan pada breeding.

    Ex:
    sapi perah Harga beli 500
    Thn——- N. Wajar————– Selisih————– Biaya Jual————— Pada Laba rugi
    -0———– 500 —————0—————————0——————————(500)
    -1———– 500 —————0————————-50——————————–(50)
    -2———– 750 ————250————————-50——————————–200
    -3———– 600 ———-(150)————————-50——————————-(200)
    -4———– 550 ———–( 50)————————-50——————————-(100)
    -5———– 500 ———–( 50)————————-50——————————-(100)
    -6———– 500 (dijual)———————————-50————————— 450
    ——Total—————————————————————————————–(300)

    Anehnya pada akhir laba rugi jika ditotal setiap tahun ada rugi 300 dari aset, padahal harga saat beli dan jual sama.
    Ini satu faktor saja, jika ternyata kasusnya si sapi perah tadi punya anak dan dipelihara maka nilai anak tersebut:

    Thn———————N. Wajar——————–Selisih————–Biaya Jual——————–Pada Laba rugi
    –0————————–250————————-0———————–50——————————200
    –1————————–300———————–100———————-50——————————-50
    –2————————–550———————–250———————-50——————————200-
    –3————————–750———————–200———————-50——————————150
    –4————————–600———————–(50)———————-50—————————-(100)
    ————————-600 (dijual)——————-0———————– 50——————————–550
    950

    ini Lebih aneh lagi, karena pada harga jual bersih hanya 550 tetapi ada keuntungan Total 950, dari mana 400 nya?..
    Jika akuntansi ini digunakan untuk perhitungan pajak pasti perusahaan model beginian pasti gulung tikar, jika perlu gulung-gulung di kuburan. hahah

    Ini jika pada 1 anak sapi dan belum di tentukan jenis kelaminnya, jika anak sapi perah ternyata jantan atau betina, bagai mana menilainya? JIka anak sapi belum satu periode udh dijual, dia masuk akun apa? penjualan aset tetap atau persediaan? demikian pula jika anak sapi setelah melahirkan meninggal? Belum lagi, bahwa beberapa peternakan menilai produksi aset, bukan pada asetnya, penyusutan pada tahun aset yang akhirnya menurunya produksi aset, dan juga nilai jual, shg haruskah pakai penyusutan angka tahun atau jumlah produksi?

    dalam Case ini, setelah saya baca IAS 41, tidak dijelaskan dengan jelas dan terkesan ambiguitas. Case ini juga cerminan banyak kasus agriculture lain…

    # setelah ane pikir beberapa saat, masalahnya hanya terletak pada “nilai wajar suatu aset” dan harus ada tuntutan kerugian atau laba pada setiap perubahannya, dia mencoba menyatakan nilai aset biologi setiap tahun dengan mencari nilai wajarnya dan membuat selisinya sebagai keuntungan atau rugi.
    Tetapi dalam realita praktis nilai aset cenderung ada laba atau rugi ketika di benar dijual atau telah direalisasikan.

    #Selain itu yang belum dalam IAS 41 masalah depresiasi karena kasalahan penanganan aset biologi, penurunan karena Umur aset, nilai produksi aset tersebut. ex, pada susu sapi. Thn pertama nilai produksi 10.000 galon, nilia jual wajr 50 juta, Thn kedua
    10.000 galon juga, tetapi nilai wajr 25 juta, karena pengolahan saat pemencetan susu sapi salah dan akhirnya banyak bakteri lalu nilainya juga turun. Jika di laporan keuangan menurut IAS 41 case ini tidak akan digambarkan, di catatan laporan keuangan “mungkin” ada. Tetapi klo berkaca pada ilmu akuntasi biaya (AKBi) perusahaan manufactur, ada kesalahan produksi, cacat. ataupun rework, semua akan tergambar dalam jurnal. Jika konsep ini dipakai untuk finance, mungkin perusahan gak akan dibiayai padahal dengan membenarkan prose pencet memencet susu, laba akan kembali normal…

    Itu sih mnenurut ane.. Ane tertarik tentang ini karena skripsweet (skripsi) ane tetntang akuntansi sapi perah. Tapi untungnya bukan tesisnya Danish.. Ane lebih pada akuntansi kritis penctatan utang pemebelian sapi perah pada koperasi atu bank yang menurut ane itu menyesatkan, bukan pada teori tapi implementasinya yang pada akhirnya peternak sapi perah akan menderita karena sifat akuntansi sendiri. Soalnya ane melihat akuntasi hanya sebagai “tools” atau alat mengukur dan menghitung kekayaan, tapi klo toolsnya didasari pada konsep kapitalisme maka dia akan mendukung kapitalisme, tetapi klo toolsnya di modifikasi untuk mendukung prinsip kerakyatan dan keadilan, maka hasilnya juga akan baik. Gitu menurut ane… mungking cenderung pake motodologi postmodernisme

    Bagaimana menurut bang handoko tentang pemaparan ane IAS dan skripsi ane? ada kah salah konsep?
    Ane berharap punya senior diskusi, apalagi klo melihat background penulis,.

  28. Kajian yang super sekali Mas Handoko. Ga nyangka penulisnya masih semuda ini, suka main angry bird lagi.. Hehe. Terima kasih sudah membantu saya dalam memahami IAS 41.
    Hidup Akuntan Muda Indonesia!

  29. mas saya calon akuntan juga amin hheee saya mau tanya tentang implementation ias 41 in animal fam itu yang seperti apa ya dan bagaimana pandangan mas terhdapa implementasi itu?saya agak kurang paham mas tentang ias itu saya mahasiswa d3 mas jd agak kurang tau tentang itu mohon infonya mas ya🙂

  30. mas handoko.. bisa tolong bantu saya untuk mencari jurnal-jurnal local terkait penilaian untuk biological asset diperusahaan agriculture?
    dan sebenarnya saya masih bingung untuk penentuan judul yang terkait dengan penilaian dari biologial asset di perusahaan agriculture itu lebih baik seperti apa??

    • Untuk jurnal yang anda cari saya rasa masih belum ada. Hal ini dikarenakan selama ini Indonesia tidak memiliki pengaturan akuntansi khusus untuk biological asset. Jadi hal terbaik yang dapat anda lakukan untuk mencari tahu mengenai penilaian biological asset adalah dengan melihat laporan keuangan entitas agrikultur baik di Indonesia maupun di luar negeri (misalnya PTPN untuk dalam negeri). Saat ini IASB saja masih membahas lagi IAS 41. Beberapa waktu lalu saya sempat mengikuti tweet @ErsaTriWahyuni, beliau mantan direktur teknis IAI yang ikut rapat IASB di London. Dalam tweetnya muncul pembahasan mengenai bagaimana menilai buah-buahan. Usulan yang muncul adalah dinilai sebesar fair value less cost to sell, dengan selisih penilaian masuk ke P&L (bukan ke OCI). Isu ini saja masih belum ada keputusannya. Apalagi penilaian biological asset yang lainnya.

      Salam,

  31. waah, saya jd bingung , judul skripsi saya tentang penerapan IAS 41 di suatu perusahaan perkebunan, saya bru mau memulai nyaa mas, gmnaa menurut mas ? apakah saya hrus ganti judul ?

  32. mas, punya gg tautan contoh skripsi tentang IAS 41 ? dn buku apa yg bagus buat dijadikan referensi skripsi tentang IAS 41 ne mas ?

  33. Mas kalo boleh tau apakah perusahaan PT. Astra Agro Lestari sudah menerapkan IAS 41 atau belum? dan kalo belom standar yang masih mereka pake apa?

    Terima Kasih

    • Saya kurang tahu kalau Astra Agro, karena saya tidak bekerja di sana. Coba dicek ke websitenya atau tanyakan ke akuntan di sana…

  34. Saya mau bertanya, sejauh ini kira-kira ada pernyataan yang pasti tidak, kenapa IAI belom mengadopsi IAS 41? apakah tidak jauh berbeda dengan negara2 lain. terima kasih

  35. Selamat sore bapak, saya seorang mahasiswa yang sedang garap skripsi.
    Judul skripsi saya berkaitan dengan PSAK namun saya masih bingung PSAK berapa yang mengatur perlakuan atas aset biologis (sawit).
    yang saya ingin tanyakan..
    *Di antara PSAK dan IAS 41 pedoman yang mana yang terbukti andal secara teoritis maupun praktis. untuk entitas yang bergerak pada sektor agribisnis berupa sawit ??? ?
    *PSAK berapa2 yang terkait dalam perlakuan atas aset biologis berupa sawit tsb?
    *Berdasarkan standar pelaporan keuangannya metode apa yang baik untuk digunakan perusahaan dalam menghitung dan mengukur nilai aset tsb?
    *pada saat kapan perusahaan dapat mengakui aset biologis nya menjadi investasi, aset tetap, dan pendapatan sesuai peraturan yang berlaku?
    *Adakah pedoman yang khusus dalam mengatur kegiatan agribisnis yang dikeluarkan secara resmi yang dapat digunakan oleh entitas baik yang sudah Go public atau belum

    Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s