Rehabilitasi Aset

Suatu aset tetap yang dimiliki entitas pada suatu ketika ada kemungkinan untuk diperbaiki atau direhabilitasi. Dalam standar akuntansi, jika suatu aset tetap tersebut diperbaiki (memulihkan fungsinya tanpa ada peningkatan umur atau manfaat ekonomik), maka biaya-biaya terkait perbaikan itu dibebankan sebagai beban perawatan atau perbaikan. Pengeluaran biaya ini disebut sebagai revenue expenditure. Namun, jika aset tetap tersebut direhabilitasi (meningkatkan umur atau manfaat ekonomik), maka biaya-biaya terkait rehabilitasi tersebut dikapitalisasi (menambah nilai buku aset tetap). Pengeluaran biaya ini disebut sebagai capital expenditure.

Secara standar akuntansi, penambahan biaya rehabilitasi aset tetap ke nilai buku aset tetap ini tidak dijelaskan lebih lanjut. Namun dalam praktik dan kuliah akuntansi, terdapat dua perlakuan yang berbeda. Jika rehabilitasi menambah manfaat ekonomik (dalam bentuk fungsi atau kapasitas), maka biaya rehabilitasi ditambahkan ke nilai aset tetap dalam neraca. Namun, jika rehabilitasi menambah umur ekonomik, maka biaya rehabilitasi digunakan sebagai pengurang akumulasi depresiasi. Mengapa demikian? Berikut ini penjelasan berikut contoh secara teori akuntansi.

Contoh Kasus:

Nilai aset tetap di neraca Rp1000, dengan akumulasi depresiasi Rp600. Aset tetap tersebut direhabilitasi dengan biaya Rp500. Biaya ini dikapitalisasi dengan pendekatan:

  1. Jika menambah manfaat ekonomik: Nilai aset tetap Rp1500 (Rp1000 + Rp500) dengan akumulasi depresiasi Rp600. Nilai buku aset Rp900 (Rp1500 – Rp600)
  2. Jika menambah umur ekonomik: Nilai aset tetap Rp1000 dengan akumulasi depresiasi Rp100 (Rp600-Rp500). Nilai buku aset Rp900 (Rp1000-Rp100)

Penjelasan:

Dalam teori akuntansi, terdapat klasifikasi biaya saat pembebanan:

  1. Unexpired cost: biaya yang belum dialokasikan ke beban, menunjukkan manfaat aset masa depan yang masih dapat digunakan.
  2. Expired cost: biaya yang sudah dialokasikan ke beban merupakan biaya yang sudah digunakan.

Berdasarkan standar akuntansi, biaya rehabilitasi yang merupakan capital expenditure dikapitalisasi ke aset tetap sehingga meningkatkan nilai buku aset tetap tersebut (dalam contoh di atas, nilai buku kedua pendekatan sama-sama Rp900), namun terdapat dua perlakuan berbeda yaitu,

  1. Dalam kasus biaya rehabilitasi meningkatkan manfaat ekonomik, maka dapat diartikan biaya ini menambah nilai aset yang belum digunakan (unexpired cost). Oleh karena itu, nilai dari biaya rehabilitasi ditambahkan ke nilai aset. Dalam contoh 1 di atas, nilai unexpired cost aset bertambah menjadi Rp1500.
  2. Dalam kasus biaya rehabilitasi meningkatkan umur ekonomik, maka yang bertambah hanya umur ekononomiknya, sedangkan nilai aset yang belum digunakan (unexpired cost) tidak bertambah. Oleh karena itu, untuk mengakomodasi konsep ini, biaya rehabilitasi digunakan untuk memulihkan expired cost dalam bentuk akumulasi depresiasi. Sehingga, dalam contoh 2 di atas, nilai asetnya tetap Rp1000 (menunjukkan unexpired cost yang tidak bertambah).

Dalam konsep kedua terdapat kelemahan, yaitu munculnya akumulasi depresiasi negatif, jika biaya rehabilitasi melebihi akumulasi depresiasinya (silakan dicoba dengan contoh bahwa biaya rehabilitasi Rp800). Secara konseptual, akumulasi depresiasi seharusnya tidak mungkin negatif, karena akumulasi depresiasi menunjukkan aset yang sudah digunakan (expired cost). Oleh karena itu, tidak mungkin aset yang sudah digunakan nilainya negatif. Tetapi kalau dilihat dari segi unexpired cost. Konsep kedua ini masuk akal, karena mengakomodasi peningkatan umur ekonomik, bukan peningkatan manfaat ekonomik (unexpired cost).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s