Cost-Kos, Expense-Biaya

Dini hari tadi saya terbangun karena tiba-tiba teringat satu hal dalam tulisan saya mengenai penjelasan cost of goods sold. Dalam tulisan saya sebelumnya ada yang kurang, seharusnya cogs adalah “expense yang diukur menggunakan cost dari barang yang terjual” (sudah saya revisi).
Cogs dapat dijelaskan menggunakan 3 prinsip dasar yaitu, prinsip kesatuan usaha, upaya dan hasil, dan penghargaan sepakatan.

Perlakuan akuntansi terkait prinsip kesatuan usaha ada tiga. Pertama pada saat pemerolehan (saat barang/jasa masuk ke kesatuan usaha), kedua saat pelekatan (saat barang/jasa diolah dalam kesatuan usaha), ketiga saat pembebanan (saat keluar dari kesatuan usaha). Kita simpan dulu pembahasan ini.

Kemudian kita masuk ke prinsip upaya dan hasil. Pada dasarnya, di dunia ini kita harus melakukan upaya untuk mendapatkan hasil. Bila kita tidak berupaya, maka kita tidak akan mendapatkan hasil. Sama seperti perusahaan, perusahaan harus berupaya (mengeluarkan expense dari kesatuan usaha) untuk mendapatkan hasil (revenue). Dari konsep upaya dan hasil ini, maka tidak pas bila expense dikatakan membebani revenue, karena kalau tidak melakukan upaya dengan sukarela, perusahaan tidak akan mendapatkan hasil. Secara kebahasaan, upaya secara sukarela ini tidak dapat dikatakan sebagai beban. Karena beban dalam Bahasa Indonesia berkonotasi negatif yaitu, sesuatu yang ditanggung atau dihindari. Padahal secara konsep asli, expense adalah sesuatu yang memang harus dikeluarkan perusahaan untuk mendapatkan revenue (bisakah perusahaan mendapat revenue tanpa mengeluarkan expense? – muncul matching principle).

Selanjutnya, cost.
Dalam prinsip dasar, kita mengenal adanya prinsip penghargaan sepakatan, di mana jumlah rupiah atau penghargaan sepakatan yang terlibat dalam tiap transaksi atau pertukaran merupakan pengukur dan bahan olah akuntansi yang paling objektif (dasar validitasnya dapat dibaca di referensi-referensi Teori Akuntansi). Penghargaan sepakatan disebut juga sebagai price-agregate, yang kemudian istilah ini digantikan dengan cost dalam konsep yang lebih luas. Maka, cost dapat dikatakan sebagai pengukur dan bahan olah akuntansi paling objektif. Oleh karena itu, cost merupakan pengukur dari setiap elemen dalam laporan keuangan yang menggunakan satuan unit moneter. Tujuannya agar elemen-elemen dalam laporan keuangan dapat diperbandingkan, maka harus diukur magnitudenya menggunakan cost.

Sekarang masuk ke konsep cogs.
Pada saat inventory masuk ke kesatuan usaha, kita mengukurnya menggunakan cost pemerolehan sebagai hasil dari penghargaan sepakatan antara kita dan penjual (anggap perusahaan retail). Kemudian, perusahaan mengeluarkan inventory dari kesatuan usaha untuk mendapatkan revenue. Cost yang melekat pada inventory keluar dari kesatuan usaha (expired-maka dapat dikatakan juga bahwa expense adalah expired cost). Pada saat keluar dari kesatuan usaha, maka kita membebankan cost dari inventory yang terjual sebagai expense (lihat konsep perlakuan akuntansi dalam kesatuan usaha diatas – satat keluar dari kesatuan usaha, kita melakukan pembebanan/charge). Pada saat inventory keluar, terjadi penghargaan sepakatan baru antara kita dan pembeli, dan ini memunculkan cost baru yang masuk ke kesatuan usaha dan dilekatkan pada revenue.

Maka, dengan menggunakan prinsip-prinsip dalam akuntansi, kita dapat menjelaskan dengan mudah konsep-konsep dibalik tiap istilah dalam akuntansi. Penjelasan mengenai konsep cost sebetulnya jauh lebih panjang. Tetapi inilah yang menyebabkan kenapa beberapa pihak menyarankan untuk menggunakan istilah kos sebagai serapan dari cost, karena secara konsep, cost adalah pengukur besarnya daya moneter suatu elemen (mirip seperti gravitasi sebagai pengukur gaya tarik dengan satuan g). Karena tidak ada padanan yang pas untuk konsep ini, maka menggunakan kaidah penyerapan (post menjadi pos, analyst menjadi analis, credit menjadi kredit), cost diserap menjadi kos. Konsistensi istilah ini akan memudahkan mahasiswa dalam memahami cost.

Sebagai contoh lain: acquisition cost dan prepaid expense yang sama-sama diterjemahkan menjadi biaya. Padahal secara konsep, acquisition cost adalah cost yang digunakan untuk mengukur proses akuisisi menggunakan satuan moneter (tidak masuk ke laporan keuangan tapi dilekatkan ke elemen – dapat disebut juga harga akuisisi). Sedangkan prepaid expense adalah expense (upaya) yang dikeluarkan lebih awal – masuk ke laporan keuangan. Bila mau konsisten menggunakan istilah cost sebagai pengukur dan expense sebagai elemen laporan keuangan, mahasiswa akan jauh lebih mudah menalarkannya. Apalagi kalau mau memudahkan internasionalisasi, penerjemahan kembali istilah kos menjadi cost dan biaya menjadi expense akan jauh lebih mudah bila dibandingkan menerjemahkan kembali istilah biaya akuisisi, biaya dibayar dimuka, beban pokok penjualan, harga pokok penjualan ke Bahasa Inggris.

Kurang lebihnya demikian. Ini hanya sharing saja, semoga bermanfaat. Maaf kalau tulisannya agak berantakan, keburu menguap pikirannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s