Save the Children, Save the World

Anak-anak merupakan suatu harta yang berharga bagi masa depan. Mereka memiliki kepolosan dalam berpikir, memiliki kelucuan, dan selalu hidup untuk saat ini.

Kata Bapakku, tugas seorang manusia di dunia adalah membuat generasi selanjutnya lebih baik, dan anak-anak merupakan bagian utama dari generasi selanjutnya.

Tetapi di jaman yang penuh persaingan seperti sekarang ini, anak-anak sering diajari dengan cara yang salah. Hal ini mungkin dikarenakan budaya persaingan yang telah berlaku umum. Bahkan diberlakukan juga untuk anak-anak.

Orang tua yang hidup dalam kondisi penuh persaingan, seringkali menerapkan cara survive mereka pada anak-anak mereka, bahkan tidak jarang anak-anak menjadi korban orang tuanya yang sibuk survive sendiri. Sebagai contoh, akhir-akhir ini bermunculan sekolah untuk anak umur 3 tahun. Maksudnya adalah membekali kecerdasan bagi anak sejak dini. Padahal, normalnya anak umur 3 tahun itu masih berkembang secara alami dan mengalami kedekatan dengan orang tuanya.

Tapi dengan alasan orang tua sibuk, membekali anak dengan kecerdasan sedini mungkin, dan mungkin membuat lahan bisnis baru untuk survive beberapa orang pengajar, hal ini malah menjadi sesuatu yang berlaku umum.

Lebih parah lagi, anak-anak jaman sekarang telah diajari perbedaan oleh orang tua mereka. Padahal anak kecil itu masih polos dan belum tahu perbedaan. Semuanya sama dalam sudut pandang mereka.

Sebagai contoh, anak-anak dimasukkan sekolah khusus agama tertentu atau khusus untuk etnis tertentu. Hal inilah yang menyulut perpecahan ketika mereka dewasa, karena anak-anak dibiasakan untuk hidup dan berkembang bersama orang yang sejenis dengan mereka. Oleh karena itu, ketika anak-anak melihat orang-orang yang berbeda dengan mereka, anak-anak itu akan sulit berbaur atau bahkan cenderung akan melihat perbedaan antara dia dan orang lain.

Tapi lagi-lagi para orang tua memiliki alasan yang aneh, seperti membekali agama dan akhlak di sekolahan yang isinya anak sejenis, atau anak akan lebih aman kalau berkembang bersama anak-anak yang sejenis. Padahal akhlak dan agama merupakan tanggung jawab orang tua. Sedangkan anak harus dibiasakan berbaur, karena seluruh dunia ini dihuni oleh beragam manusia.

Hal terakhir yang patut dibahas dan merupakan penyebab munculnya para koruptor di masa depan adalah, suatu mentalitas dimana seorang anak harus berprestasi.

Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap orang tua pasti ingin anaknya berprestasi. Kalau anak berprestasi, selain membanggakan orang tua, sang anak akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk hidup sukses di masa depan.

Demi kebanggaan, tak jarang orang tua memaksakan keinginan mereka pada anak. Padahal kadang-kadang anak memiliki keinginan yang berbeda dengan orang tua mereka. Tapi dengan dalih bahwa orang tua itu paling mengerti anaknya dan tahu yang terbaik untuk anaknya, orang tua sering memaksa anak-anaknya. Entah memaksa secara langsung, atau mengarahkan anaknya sehingga secara tidak langsung anaknya menjadi sesuatu sesuai dengan keinginan mereka.

Tapi hal ini masih belum apa-apa dibandingkan dengan suatu penanaman bahwa anak harus berprestasi dan sukses di masa depan.

Inilah kesalahan terbesar para orang tua.

Akibat pertama dari kesalahan ini adalah, anak bisa mengalami tekanan dan tidak bisa mengalami kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Karena secara tidak langsung, hal ini berarti kebahagiaan itu bersyarat. Untuk bahagia, seorang anak harus berprestasi dan sukses dalam hidupnya. Padahal kebahagiaan itu asalnya dari sikap mau menerima keadaan disekitar dan selalu berpikiran positif. Efeknya adalah, keberanian dan keterbukaan pikiran dalam memandang hidup.

Akibat kedua adalah, anak-anak akan fokus untuk berprestasi dan melewatkan banyak hal dalam hidupnya. Banyak orang lupa, kebahagiaan itu bukan suatu tujuan tapi suatu perjalanan.

Sekarang belajar atau bekerja mati-matian agar nanti bisa berlibur dan menikmati hidup.

Akibatnya, anak-anak akan cenderung lupa untuk bersyukur dan berbahagia setiap hari, karena tujuan mereka yang ada didepan belum tercapai.

Biasanya kalau tujuan ini sudah tercapai, anak-anak itu akan mengejar sesuatu yang lebih tinggi lagi. Begitu seterusnya. Jadi, hidup ini isinya adalah terus-terusan mengejar sesuatu. Akhirnya, kebahagiaan dalam hidup bukannya setiap hari, tapi hanya pada saat-saat tertentu saja.

Akibat ketiga adalah, kalau anak-anak tidak memiliki mental yang kuat, lama-lama mereka akan melakukan segala macam cara untuk bisa berprestasi atau sukses di masa depan. Inilah yang mengakibatkan menjamurnya para penyontek di kalangan para pelajar, dan di masa depan, para penyontek ini menjadi koruptor atau pemalsu ijazah yang sukses hidupnya. Tapi apa peduli orang tua? Toh yang penting anak bisa sukses dan membanggakan.

Akibat terakhir dan mungkin malah paling signifikan, orang tua akan merasa malu dan tidak bahagia bila anaknya tidak berprestasi atau tidak sukses. Ketakutan orang tua inilah yang sering membebani anak. Padahal tugas orang tua seharusnya membuat generasi selanjutnya lebih baik (dalam artian kebahagiaan dan nilai-nilai kemanusiaannya).

Sebelum semuanya bertambah parah, mari kita mulai perbaiki semuanya.

Pertama, jangan tanamkan mental berprestasi pada anak-anak, tapi tanamkanlah budi pekerti. Inilah fondasi terpenting dalam hidup. Tidak ada gunanya orang sukses tapi tidak punya budi pekerti. Prestasi itu hanyalah suatu hasil dari perjuangan. Tapi bukan merupakan suatu tujuan. Tujuannya adalah berjuang. Oleh karena itu, buat anak-anak untuk selalu berjuang secara optimal dan hargailah mereka apapun hasilnya.

Kedua, jangan menanamkan perbedaan pada anak-anak. Ajarilah mereka untuk berbaur. Buatlah anak-anak untuk memahami perbedaan dalam arti positif dan memahai apa itu toleransi. Karena pada dasarnya kita semua sama sejak dilahirkan.

Ketiga, hargailah anak-anak. Arahkan mereka agar menjadi sesuatu yang berguna di masa depan tanpa harus memaksa mereka. Ingat, setiap orang itu berguna bagi kehidupan, apapun dia. Oleh karena itu, tujuannya bukan menjadi sesuatu, tapi menyumbangkan sesuatu bagi orang lain. Dengan pemahaman seperti ini, anak juga akan lebih bisa menghargai seorang pembantu atau ibu rumah tangga.

Terakhir, ajarilah anak-anak untuk selalu bersyukur atas segala kondisi yang mereka alami. Semua yang terjadi di dunia ini pasti memiliki sisi yang pantas untuk disyukuri.

Terimalah segala sesuatu yang ada di dunia ini, maka semua akan terasa lebih indah.

Save the children, save the world.

One thought on “Save the Children, Save the World

  1. Betul sekali pak. Dunia serasa semakin mencekam. Anak2 sekarang saja sepertinya telah melebihi batas tidak seperti kita dulu. Ada anak yang umurnya masih balita tetapi diberikan les matematika, sempoa, musik, pelajaran, dan lain-lain, sehingga 1 minggu itu kerjanya cuma belajar dan belajar, dan umumnya kurang menyisihkan waktu bagi anaknya untuk berekreasi sejenak.

    Saya juga setuju bahwa dunia ini sukses bukan hanya dari segi pengetahuan dan karier. Semua harus berimbang dari sisi pengetahuan, karier, etika, agama, dan cinta. Semua harus seimbang baru seseorang dikatakan benar-benar sukses dan harmonis hidupnya.

    Semoga artikel bapak ini bisa membuka wawasan orang luas untuk lebih mencerdaskan generasi penerus bangsa. Sukses dan Semangat. Salam Luar Biasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s