Aberdeen – Kedatangan

Aberdeen adalah nama kota di daratan Skotlandia yang dulu pernah terkenal sebagai Oil Capital of Europe dan memiliki pegeboran lepas pantai North Sea, namun sekarang kota ini terdampak oleh penurunan harga minyak dunia dan saat ini pengeboran North Sea sedang memasuki tahap decomissioning. Sehingga, setidaknya biaya tempat tinggal jadi jauh lebih murah ketika saya tiba.

Saya tiba di kota ini pada tanggal 23 Agustus 2017, dan hal pertama yang saya lihat di daratan Aberdeen dari udara adalah kabut dan peternakan domba dengan domba-dombanya, yang mengingatkan saya pada Shaun the Sheep!!!

Saya cukup bersemangat ketika turun di bandara yang mungkin seukuran bandara Adisucipto ini, karena saya ingin segera bertemu domba, dan melihat apakah domba-domba ini secerdas Shaun dan kawan-kawannya. Namun, kenyataan belum sesuai khayalan, saat keluar dari bandara menuju ke City Center, khayalan Shaun the Sheep langsung buyar. Saya tidak menuju ke desa. Saya menuju ke kota dan ini kota pinggiran. Banyak sekali bangunan tua, dan kebanyakan bangunan tempat tinggal berwarna abu-abu atau krem atau cokelat. Cukup banyak bangunan yang materialnya dari batu kali dan dibiarkan terekspos. Jalanannya aspal dan banyak rumput hijau di setiap sisi. Tidak ada peternakan, tidak ada Shaun.

Akhirnya saya tiba di area City Center. Saya menginap di penginapan mirip amaris kalau di Indonesia yang lokasinya di dekat bangunan yang mirip Katedral di City Center. Nah, di sini stereotipe harus dihilangkan, karena beberapa hari kemudian saya beberapa kali menemukan bangunan mirip gereja atau katedral yang rupanya bar atau kantor. Saya kemudian tersadar, dan untuk saudara sebangsa di Indonesia yang mungkin pernah stereotyping bentuk bangunan sama seperti saya, ingatlah bahwa bentuk bangunan bukan selalu berarti apapun, hati dan perilaku manusia yang mengisi bangunanlah yang mencerminkan bangunan apakah itu.

Area di City Center dan Kings Street cukup ramai dengan kendaraan, bahkan ada beberapa truk kontainer 12 roda yang lalu lalang. Saya cukup terkejut melihat truk kontainer besar melaju di jalanan, namun beberapa hari kemudian saya baru melihat ada pelabuhan bongkar muat yang berisi kapal-kapal besar dan dekat dengan stasiun kereta api di sekitaran Union Square. Jadi cukup wajar jika ada truk kontainer lalu lalang untuk bongkar muat.

Setelah berkeliling di tengah dinginnya hawa kota Aberdeen yang saat ini terangnya mulai dari pagi sekitar jam 6 hingga jam 9 malam, saya menemukan beberapa hal biasa yang cukup menarik bagi saya. Tenang, saya tidak menulis perkara mainstream seperti #chillindiIrishBar, #belajardiperpus, atau #dosenbule. Kita tidak lagi hidup di jaman Pak Habibie sekolah dulu.

Hal biasa yang cukup menarik pertama. Jumlah pengendara mobil cukup banyak. Untuk ukuran kota dengan kepadatan penduduk rendah, jumlah pegendara mobil dapat dibilang cukup banyak dibandingkan dengan pejalan kaki atau pengguna transportasi umum. Bahkan cukup banyak jenis mobil yang two seater, dan sering terlihat 1 orang dalam 1 mobil. Artinya, preferensi penggunaan transportasi di kota ini tidak terlalu berbeda dengan di Indonesia. Lebih suka bawa kendaraan sendiri.

Hal biasa yang cukup menarik kedua. Saya cukup sering menemukan sampah di jalan, pinggir jalan, atau rerumputan. Bahkan cukup banyak kotoran anjing di bawah pohon atau di dekat tembok, dan pernah sekali saya naik bis umum yang bau anjing dan ada sampah makanan berserakan di dalamnya (1 dari 6 kali naik bis).

Masih terkat sampah, jenis sampah yang paling sering saya temukan adalah puntung rokok, kemudian diikuti bungkus makanan dan minuman. Setelah saya amati, tempat sampah jaraknya cukup berjauhan (ini bikin orang males banget bawa2 sampahnya), sedangkan kotanya sepi dan petugas kebersihan tidak banyak. Selain itu, sejauh ini saya tidak melihat peraturan atau denda mengikat yang membuat orang jadi segan membuang sampah sembarangan. Jadi ya, feel free untuk buang sampah sembarangan. Untung saja tingkat kepadatan penduduknya rendah, sehingga jumlah kotoran seagull (yang kadang menyebabkan terciumnya sedikit bau anyir) masih lebih banyak daripada sampah.

Hal biasa yang cukup menarik ketiga. Orang yang tinggal di flat (bayangkan rumah di serial Sherlock) parkirnya di pinggir jalan di luar trotoar, karena flat tidak ada garasinya. Jadi akan banyak ditemui mobil parkir rapi di pinggir jalan di area pemukiman. Kadang ada parkiran yang diberi tarif oleh pemda (City Council), ada juga yang gratis. Namun, namanya juga manusia, ada saja yang memarkir satu karavan besar di trotoar, seakan-akan trotoar segede gaban itu trotoarnya their grandparents.

Hal biasa yang cukup menarik keempat. Untuk menyeberang jalan di penyeberangan jalan, ada tombol menyeberang di tiang APILL, yang jika ditekan maka APILL akan memberi lampu hijau untuk pejalan kaki/sepeda dan lampu merah untuk kendaraan. Tombol ini tidak wajib digunakan. Hanya digunakan pada saat diperlukan. Jika jalanan dirasa lengang, silakan nyeberang tanpa pencet. Mungkin untuk orang biasa seperti kita alat ini agak mubazir. Namun, alat ini sangat berfungsi untuk penyandang disabilitas. Ya, kota ini sangat ramah untuk penyandang disabilitas. Di area penyebrangan, trotoarnya memiliki tonjolan2 bulat sebagai tanda. Jika tongkat pemandu sudah mencapai jalan yang ada tonjolannya, itu artinya sudah tiba di tempat menyeberang. Selain itu, disediakan jalan miring yang sangat landai sebagai pelengkap tangga. Jadi pengguna kursi roda tetap bisa naik turun ke suatu tempat tanpa melalui tangga. Melihat hal ini saya jadi ingat Semarang. Trotoarnya bagus, dilengkapi jalur pemandu untuk tuna netra, tapi entah kenapa di satu jalur dekat hotel yang ada gramedianya (saya lupa nama hotelnya), ada tiang rambu terpancang di tengah jalur tersebut. Selain itu masih di kota yang sama, ada juga jalur pelengkap tangga yang tingkat kelandaiannya hampir 45′. Alat sudah ada namun mubazir beneran.

Di sini saya kadang masih takut-takut untuk menyeberang tanpa pencet tombol, soalnya pengendara di sini kadang ada juga yang bawa mobil ngebut atau simbah-simbah (orang tua). Nah, yang terakhir ini yang paling serem, pernah saya lagi jalan di trotoar ada simbah-simbah bawa mobil puter balik sampe naik ke trotoar saya, dan itu sudah 2 kali kejadian! Bener2 dalane mbahe

Oke, sudah cukup banyak tulisan saya mengenai hal biasa yang cukup menarik di kota yang pernah menjadi pusat minyak Eropa ini. Untuk foto-foto hasil laporan akan saya unggah di lain kesempatan.

Salam +62!

Salah Kaprah Program Beasiswa LPDP

Di negeri ini, ketika orang mendengar kata LPDP, maka beberapa hal yang terbersit di benaknya adalah kesempatan sekolah lagi, sekolah di luar negeri, jalan-jalan ke luar negeri, dan harapan untuk memiliki almamater keren. Bagaimana tidak, selama 5 tahun terakhir LPDP telah menyekolahkan ribuan putra-putri terbaik Bangsa ke kampus-kampus terbaik di dalam maupun di luar negeri. Karena harapan tersebut, berbagai tulisan mengenai rahasia lulus LPDP, tips n trick lolos tes substansi-LGD-wawancara, dan segala sesuatu tentang LPDP mulai bermunculan.

Dulu, saya memiliki pikiran yang awam mengenai LPDP. Sebuah beasiswa yang tidak ada bedanya dengan beasiswa lainnya kecuali jumlah nilai beasiswanya yang besar. LPDP adalah setitik harapan untuk bersekolah lagi, melanjutkan mimpi saya yang terputus. Namun, pikiran saya mengenai LPDP berubah total setelah saya mengikuti program yang disebut dengan program persiapan keberangkatan atau disebut dengan PK. Pikiran saya terbuka.

Continue reading

Menjawab Misteri Persamaan Akuntansi dengan Clearing Account

Kali ini topik yang akan saya ulas kembali adalah mengenai persamaan akuntansi. Ya, topik yang pernah saya bahas tahun 2009 (tautan) ini menyebabkan diskusi yang cukup seru bersama salah satu dosen saya melalui pos-el pada tahun 2014 dan, akan kembali saya bahas karena kemunculan paper ini.

Dari sudut pandang saya, sebenarnya isu yang muncul dari paper tersebut dan pembahasan berkepanjangan mengenai persamaan akuntansi adalah pendekatan mana yang akan digunakan untuk menjelaskan kepada para pembelajar akuntansi. Apakah pendekatan bahwa persamaan akuntansi merupakan persamaan aljabar atau persamaan akuntansi merupakan persamaan yang mencerminkan kejadian bisnis dan artikulasi laporan keuangan.

Menurut hemat saya, isu ini dapat dikaji dengan melihat akuntansi (khususnya pelaporan keuangan) sebagai suatu sistem, dan sebagai sistem, pasti ada input-proses-output.

Dari sudut pandang input, akuntansi mencatat transaksi menggunakan sistematika tertentu (aljabar tentunya), sehingga transaksi (atau kejadian ekonomik) tidak ada yang terlupakan, hilang, atau tak terlacak. Menurut saya intinya adalah, sudut pandang konsep accounting mathemathics atau persamaan aljabar akuntansi (konsep dalam paper) membahas persamaan akuntansi dari sudut pandang input. Melihat dari bagaimana transaksi dicatat ke dalam jurnal (debit kredit) dan dibuat dengan sistematika aljabar yang mencerminkan kejadian ekonomik dan diukur dalam satuan moneter. Dikarenakan persamaan akuntansi dipandang dari segi input menggunakan dasar aljabar, maka persamaan ini boleh saja dibolak-balik urutannya bahkan dipindah ruas, yang penting bisa menjelaskan penjurnalan dalam pencatatan transaksi.

Aset = Liabilitas + Modal + Pendapatan – Biaya. Agar biaya menjadi positif maka dipindah ruas ke kiri, sehingga persamaan tadi ekuivalen dengan Aset + Biaya = Liabilitas + Modal + Pendapatan >>> persamaan debit = kredit (lebih lengkapnya cek di tautan paper).

Dari sudut pandang output, akuntansi adalah proses menyajikan transaksi dan kejadian ekonomik ke para pemangku kepentingan. Dari sudut padang ini, akuntan harus melihat bagaimana informasi keuangan yang tersaji dalam laporan keuangan dapat meringkas kejadian ekonomik yang terjadi dalam satu periode untuk para pemangku kepentingan. Menyajikan informasi ini juga termasuk bagaimana suatu transaksi atau kejadian ekonomik dapat direpresentasikan dengan wajar dan jujur dalam elemen laporan keuangan. Sehingga, menggunakan sudut pandang output, persamaan akuntansi adalah persamaan yang merepresentasikan kejadian bisnis dalam bentuk elemen laporan keuangan. Dikarenakan persamaan ini merepresentasi kejadian bisnis, maka persamaan ini secara urutan seharusnya jangan dibolak-balik atau malah dipindah ruas, karena mengubah susunan elemen persamaan akan mengubah makna dari kejadian bisnis.

Continue reading

Paket Kebijakan Ekonomi Jilid V dan Akuntansi

Hampir 2 minggu yang lalu saya baru saja menyelesaikan kajian dampak PMK 191 yang terkait dengan paket kebijakan ekonomi jilid V mengenai periode promo yang ditawarkan pemerintah untuk melakukan revaluasi aset. Sebenarnya sampai siang tadi saya kurang tertarik membahas kebijakan tersebut, namun karena ada pembahasan di media dan membaca komentar menteri yang saya rasa kurang pas, saya langsung terusik untuk membahas hal ini.

Singkatnya, PMK ini baru ditandatangani sekitar minggu ke tiga Oktober lalu, namun gaung kebijakan revaluasi ini sudah terdengar di lingkungan BUMN sejak beberapa minggu sebelumnya.

Isu dari PMK ini adalah, pemerintah membuka periode promo bagi semua entitas untuk merevaluasi aset tetapnya. Jika dilakukan sampai 31 Desember tahun ini entitas hanya terkena pajak 3%, jika dilakukan di bulan Juni tahun depan hanya terkena 4%, dan jika dilakukan di 31 Desember tahun depan hanya terkena pajak 6%. Tarif normalnya 10%. Intinya, pemerintah menganggap bahwa revaluasi aset menguntungkan untuk entitas karena dapat merestrukturisasi struktur modalnya, dan pemerintah ingin mendapat pemasukan pajak dari revaluasi ini.

Masalahnya, apakah konsep revaluasi yang ada di benak pemerintah ini menguntungkan entitas? Bahkan ada beberapa pejabat yang karena saking gencarnya promosi sampai membuat komentar yang ‘misleading’ seperti misalnya, ini merupakan kesempatan besar bagi entitas untuk meningkatkan modalnya, BUMN yang tidak melakukan revaluasi akan merugi, dan entitas lain yang tidak melakukannya kurang pintar.

Memang pemerintah sangat bersemangat mempromosikan paket kebijakan jilid V ini, terutama karena target pajak tidak tercapai. Tapi permasalahannya, apakah kebijakan ini benar-benar bermanfaat untuk entitas?

Mari kita tinjau bersama.

Continue reading

Rewrite

Sudah lebih dari 3 tahun saya tidak melakukan pemutakhiran blog. Penyebabnya? Pertama karena kesibukan pekerjaan sebagai controller/accountant untuk area Jawa Bagian Barat, kedua karena kesibukan mengawasi koperasi, ketiga karena asik dengan keluarga, dan keempat karena tenggelam dalam hobi baru berksperimen membuat kostum.

Banyak hal terjadi dalam kurun waktu 3 tahun itu dan saya merasakan ada banyak hal yang tidak bisa saya dapat melalui membaca tulisan, berpikir, atau diajari. Hal-hal tersebut hanya bisa saya peroleh melalui suatu proses yang disebut dengan menjalani (laku) atau mengalami.

Selepas saya turun gunung dari kahyangan lebih dari 3 tahun lalu, banyak pemandangan baru dalam hal akuntansi dan IFRS yang saya dapatkan di marcapada ini. Misalnya bahwa ERP, Internal Control, Human Behavior, sangat berpengaruh pada penerapan IFRS. Namun, pemandangan terindah yang bisa saya dapat adalah, IFRS ternyata tidak sebagus itu. IFRS  merupakan terobosan yang didasari dengan konsep yang baik dan alur berpikir yang logis. Namun aturan atau tatanan berdasar prinsip sangat sulit diejawantahkan, apalagi digunakan untuk mengusung ideologi menciptakan keseragaman dalam menceritakan kisah bisnis seluruh entitas secara global. Sebagai contoh, marilah kita tengok sejenak pengamalan pancasila dalam hidup bermasyarakat dan bernegara.

Di marcapada, dunia fana tempat para praktisi berjuang hidup. Konflik antara relevance dan reliability sangat terasa sekali dalam penerapan tatanan IFRS.
Saya coba berikan gambaran untuk hal ini, saya kaitkan dengan konsep penyajian jujur, yang mana jujur itu suatu hal kualitatif.
Pada suatu hari, regulator pacuan kuda meminta saya jujur kepada anda untuk mengatakan bahwa kuda pacuan saya mengalami keseleo di kaki kanannya sehingga berpotensi tidak dapat menjadi juara perlombaan seperti sebelum-sebelumnya. Regulator itu juga memaksa saya untuk memberitahu anda, berdasar pengalaman saya selama ini, dengan kondisi kuda salah urat di kaki kanannya, kira-kira kuda saya akan berada di posisi berapa. Perkara nanti ketika dalam putaran ketiga ada indikasi bahwa salah uratnya pulih, saya diharuskan merevisi prediksi saya.

Bagi anda yang akan bertaruh, kejujuran saya sangat bermanfaat. Itu kalau saya jujur. Tapi apakah dengan menunjukkan bukti surat dokter hewan dan kinerja kuda saya 5 tahun ke belakang bisa memperkuat kejujuran saya? Saya bisa saja memanipulasi kondisi 5 tahun terakhir untuk menciptakan ‘kejujuran’ untuk perlombaan ini. Jika setelah perlombaan ini anda tidak lagi percaya dengan saya dan prediksi saya, itu masalah anda. Yang penting saya untung besar dengan kalahnya taruhan anda di perlombaan kali ini. Tapi bisa juga saya ini benar-benar orang jujur, hanya saja saya tidak memiliki kemampuan memprediksi dan tidak memiliki data yang mencukupi. Masalahnya, bagaimana anda bisa memastikan apakah saya orang jujur yang tidak andal atau saya memang bukan orang jujur. Bagaimana cara mengukur (bukan menilai) kejujuran saya?

Secara tradisional, bukti objektif memang lebih mudah digunakan untuk mengukur kejujuran. Namun pandangan tradisional itu saat ini sedang ditinggalkan.

-Jakarta, diketik melalui ponsel pintar, karena wordpress diblokir-

The Lord of Global Standards: The Twin Towers

(Found this here)

‘Rules or Principles, which are better? Do I want Principles or Rules? If we do away with the Lord of the Rules, we only need to
worry about Principles. If we do away with the Lord of the Principles, we only need to worry about Rules.’
‘Master,’ he said ruefully, ‘what is the difference between Rules and Principles?’
‘It is quite simple. A principle will tell you generally what is the right thing to do and then you must judge what to do in specific
circumstances. A rule will tell you what to do in specific circumstances.’
‘I see,’ beamed Gollum, ‘principles are like a compass which show you the direction and rules are like maps which show you exactly how to get there.’

After a few moments of reflection, he added, ‘I prefer maps.’
‘It is not like that, Gollum. Maps can be wrong or if you are in uncharted territory or if you have no map, you will need a compass.
Also, you cannot make precise maps for every part of Middle Earth.

R. Hussey & A. Ong (Financial Reporting, Regulation & Governance, 2005)

Perlukah Goodwill Diamortisasi?

Iseng-iseng membaca materi World Standard-Setters Meeting yang akan diadakan minggu depan. Jadi tertarik bahan di halaman 6 materi tersebut (mungkin lebih baik anda baca dulu). Entah bagaimana ceritanya, akan ada diskusi yang membahas bahwa goodwill akan diamortisasi (Lah, bukannya IFRS yang baru goodwill udah nggak perlu diamortisasi, kenapa balik lagi? Cape deh).

Apakah sebetulnya goodwill itu, dan perlukah goodwill diamortisasi? Mari kita analisis bersama.

Sebelum masuk ke pembahasan utama, berikut penjelasan ringannya. Buat yang belum tahu, goodwill itu kasarannya semacam kelebihan bayar ketika membeli entitas baru. Kenapa kok dikatakan kelebihan bayar? Karena harga entitas yang dibeli itu melebihi nilai tercatat entitasnya. Rugi dong? Nah, kalo yang dibeli cuma aset aja, ya istilahnya rugi deh. Tapi, karena yang dibeli ini satu entitas, dapat dianggap kita membayar lebih itu karena entitasnya menguntungkan. Ibaratnya, kalo ada kuda balap yang mahal, biasanya kuda itu kuda hitam, kuda juara (bener nggak ni istilahnya?). Jadi, ketika membeli entitas yang mahal (harga beli lebih tinggi dari nilai tercatat entitas tersebut), dunia akuntansi menganggap kelebihan bayar itu merupakan goodwill. Goodwill ini mencerminkan kemampuan menghasilkan laba lebih, yang didapat dari entitas yang dibeli itu. Nah, mari kita mulai pembahasan seriusnya. Continue reading