Tafsir PSAK 16: Aset Tetap Paragraf 16 C

PSAK 16 diadopsi dari IAS 16: Plant, Property, and Equipment. Dalam PSAK 16 tersebut diatur mengenai komponen kos (cost) perolehan yaitu:

  1. harga perolehan aset, termasuk bea impor dan pajak pembelian yang tidak boleh dikreditkan setelah dikurangi diskon dan potongan lain
  2. biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset sampai ke tempat dan kondisi yang diinginkan agar aset siap untuk digunakan sesuai keinginan dan maksud manajemen
  3. estimasi awal biaya pembongkaran dan pemindahan aset tetap dan restorasi lokasi aset. Kewajiban atas kos tersebut timbul ketika aset tersebut diperoleh atau karena entitas menggunakan aset tersebut selama periode tertentu untuk tujuan selain menghasilkan persediaan

Lanjut membaca

Hasil Kajian atas Mengapa Tanah Tidak Didepresiasi?

Akhirnya saya telah berhasil menyelesaikan kajian dan menemukan jawaban atas pertanyaan saya.

Mengapa tanah tidak didepresiasi? Temukan jawabannya di sini, versi SSRN (Bahasa Inggris) di sini.

Jika ada yang tidak setuju dengan argumen-argumen yang saya sampaikan, saya membuka diskusi dalam weblog ini. Saya akan sangat senang sekali jika pemikiran saya dikritik dengan logis. Pertanyaan mengapa tanah tidak didepresiasi telah berhasil membuat saya berpikir selama hampir lebih dari 10 hari.

Semoga bermanfaat.

Salam,

IAS 41: Agriculture, Sebuah IFRS yang Gagal…

Setelah merenung cukup lama dan meratapi kebodohan bahasa saya dalam postingan sebelum ini (saya pindah ke tong sampah karena bahasanya kacau), akhirnya saya menemukan ide yang lebih bagus. Cara bercerita yang nggak sebodoh postingan kemarin tetapi juga tidak seserius postingan sebelum-sebelum ini.

Tulisan kali ini akan membahas kegiatan saya beberapa hari ini: riset mengenai IAS 41: Agriculture. Lanjut membaca

Akuntansi, Alat Perekaciptaan

Hahahaha… Saya tertawa melihat liputan mengenai hasil penerapan PSAK 50-55 di berita. Ini merupakan bukti bahwa akuntansi itu memang alat perekaciptaan (engineering) informasi & hanya masalah angka saja. Sudah sedemikian lama saya mendengarkan pakar-pakar akuntansi dan pihak terkait lainnya yang membahas bahwa akuntansi itu seperti ini, dan penerapan IFRS membuktikan pernyataan mereka. Walaupun tujuan utama akuntansi adalah memberikan informasi yang andal untuk pengambilan keputusan, tapi pada kenyataannya, akuntansi itu hanya masalah main-main angka saja. Lanjut membaca

Memahami SAK ETAP

Untuk membantu memahami SAK ETAP, saya memberikan dua buah tautan yang cukup bermanfaat, yang mungkin belum diketahui oleh publik bahwa dua hal bermanfaat ini (memudahkan memahami SAK ETAP) tersedia di jejaring:
PA BPR: Pedoman akuntansi BPR yang berdasarkan SAK ETAP. Dalam pedoman akuntansi ini bahasa standar dalam SAK ETAP telah ditransformasi ke dalam bentuk pedoman akuntansi yang menyajikan contoh-contoh jurnal, bagaimana pelaporan keuangan, bagaimana cara mengukur suatu pos, dan apa saja yang harus diungkapkan.

SAK ETAP: Link ini berisi SAK ETAP (full book) yang dapat dibaca secara online. Jika anda ingin membawanya pulang dan membaca secara offline, trik mengunduh ebook reader ada di link ini.

Semoga bermanfaat.

Dampak Konvergensi IFRS Terhadap Perpajakan

Konvergensi IFRS rupanya membuat panik berbagai pihak. Salah satunya adalah pihak-pihak yang berkepentingan dengan regulasi perpajakan, terutama adalah para mahasiswa. Dalam tulisan kali ini, saya akan memaparkan beberapa poin (tidak semua, namun yang cukup penting) terkait dampak konvergensi IFRS terhadap regulasi perpajakan (kata kunci: dampak konvergensi IFRS pajak).

SAK Pasca Dicanangkan Konvergensi IFRS

Setelah dicanangkannya konvergensi IFRS, Indonesia saat ini memiliki 3 SAK yaitu, SAK Umum (berbasis IFRS), SAK ETAP (berjiwa IFRS for SME), dan SAK Syariah (bernafaskan prinsip-prinsip syariah di Indonesia). Dampak terdapatnya 3 SAK bagi peraturan perpajakan adalah, dalam peraturan perpajakan, dinyatakan bahwa pembukuan (untuk tujuan pajak) menggunakan Standar Akuntansi Keuangan, kecuali Peraturan Perpajakan menyatakan lain. Hal ini berarti, untuk tujuan pajak, digunakan perlakuan akuntansi sesuai dengan peraturan pajak, kecuali jika tidak diatur dalam peraturan perpajakan, maka pengaturan akuntansinya menggunakan SAK (KUP 28/2007). Lanjut membaca

Konsep Konservatisme (conservatism) dalam IFRS

Beberapa bulan yang lalu, ketika saya mengisi kuliah umum di kampus STIE Kesatuan Bogor, saya mendapat pertanyaan mengenai tidak digunakannya lagi konsep konservatisme dalam IFRS. Pada waktu itu, pertanyaan ini belum dapat saya jawab karena saya sendiri belum mencari tahu lebih lanjut mengenai hal ini. Kemudian, karena rasa ingin tahu yang cukup kuat (dan perasaan bersalah karena tidak dapat menjawab pertanyaan pada waktu itu), saya bertanya pada pakar SAK, Bapak Sriyanto. Menurut beliau, konsep yang digunakan sekarang adalah prudence bukan lagi conservatism. Conservatism itu konsepnya kalau untung mengakuinya hati2, tapi kalo rugi langsung diakui. Namun dalam konsep prudence, atau kehati-hatian, pendapatan atau untung diakui jika memang syarat2nya sudah terpenuhi. Contohnya di PSAK Pendapatan, ada syarat-syarat ketika pendapatan dapat diakui. Ketika syarat-syarat pengakuan pendapatan belum terpenuhi maka pendapatan belum dapat diakui. Tapi saya masih kurang puas dengan jawaban ini.

Nah, beberapa waktu lalu saya menemukan jurnal menarik mengenai conservatism under IFRS. Di sini saya menemukan jawaban atas pertanyaan ‘hilang’nya konsep/prinsip konservatisme (conservatism) dalam IFRS. Jika anda juga ingin tahu jawabannya, silakan baca jurnal yang saya maksud dalam tautan ini.

Ucapan Selamat Ulang Tahun Berdasar Prinsip Akuntansi

Prinsip Akuntansi

Dalam penyajian laporan keuangan, kondisi paling ideal dalam menyajikan adalah ketika persamaan Aset = Liabilitas + Ekuitas + Kinerja sudah tidak berubah lagi. Kondisi ideal ini dapat mendukung pengguna laporan keuangan untuk mengambil keputusan paling optimal.

Namun, kita semua tahu bahwa ketika kita menyajikan laporan keuangan, besok atau pada hari berikutnya, persamaan itu dapat berubah lagi. Seperti misalnya, piutang dapat berubah menjadi kas pada hari esok, atau kewajiban kontinjensi dapat menjadi liabilitas di masa depan. Sehingga, dalam keadaan bisnis paling ideal, kita tidak dapat menyajikan persamaan akuntansi yang ideal.

Oleh karena itu, mengenai ketidakpastian di masa depan, akuntansi memiliki dua buah asumsi. Lanjut membaca