Perbedaan Saham & Obligasi for Dummy

Tulisan kali ini muncul karena permintaan sahabat saya (anak Teknologi Informasi) yang sedang mengerjakan tugas. Jadi, silakan lewatkan jika anda melek akuntansi.

Pada prinsipnya, akuntansi didasarkan pada sebuah persamaan yang mempertanggungjelaskan sumber dari aset (sumber daya) yang dikuasai oleh entitas. Karena pada dasarnya, akuntansi berfungsi untuk mempertanggungjelaskan aset yang dikuasainya. Persamaan pertama dari akuntansi adalah persamaan dasar yaitu, Aset = Liabilitas + Ekuitas. Persamaan dasar ini menunjukkan kondisi ketika perusahaan pertama kali didirikan (oleh karena itu persamaan disebut dasar), yaitu bahwa seluruh aset yang dimiliki perusahaan sumbernya dari liabilitas (pinjaman dari kreditur – dahulu disebut sebagai kewajiban) dan ekuitas (pinjaman dari pemilik). Persamaan akuntansi ini didasarkan atas prinsip kesatuan usaha (entity principle) yang mana perusahaan merupakan suatu entitas yang berdiri sendiri dan terpisah dari pemilik. Perusahaan dapat melakukan kegiatan bisnis dan bertindak secara hukum atas nama perusahaan itu sendiri. Oleh karena itu dari sudut pandang perusahaan, pendanaan atau sumber daya yang diserahkan oleh pemilik untuk dikelola perusahaan merupakan kewajiban perusahaan ke pemilik.

Dalam persamaan dasar akuntansi, liabilitas ditulis dengan urutan lebih dulu daripada ekuitas karena dalam kondisi pailit, kreditor memiliki hak untuk menagih pinjaman yang diberikannya lebih dahulu daripada pemilik. Sehingga porsi dari aset harus digunakan lebih dahulu untuk mengembalikan ke kreditor, baru kemudian sisanya (Aset Bersih atau Aset – Liabilitas = Ekuitas) menjadi hak pemilik.

Secara logika bisnis, perusahaan didirikan oleh pemilik dengan tujuan agar perusahaan tersebut bekerja untuk pemilik. Sehingga setelah didirikan, aset yang dikuasai perusahaan akan mengalami perubahan karena kinerja yang dilakukan oleh perusahaan. Kinerja ini merupakan kegiatan mengeluarkan upaya (Beban) untuk mendapatkan hasil (Pendapatan). Jika upaya yang dikeluarkan lebih besar daripada hasilnya, jelas itu merupakan suatu kerugian. Tapi jika hasil yang diperoleh lebih besar daripada upaya yang dikeluarkan, itu merupakan keuntungan (laba). Inilah prinsip dari pembuatan laporan laba rugi (laporan kinerja), yaitu laporan yang menunjukkan seluruh pendapatan yang diterima perusahaan dan seluruh beban yang dikeluarkan perusahaan dalam rangka kinerja, dan laba/rugi yang merupakan hasil aritmetika dari pendapatan dikurangi beban.

Dengan adanya kinerja, persamaan akuntansi berubah menjadi persamaan ekstensi yang masih tetap menunjukkan sumber dari aset yaitu, Aset = Liabilitas + Ekuitas + Pendapatan – Beban. Dalam persamaan ini, Pendapatan – Beban (kinerja) ditulis di sebelah ekuitas. Hal ini dikarenakan, perusahaan didirikan agar bekerja untuk pemilik, sehingga kinerja yang dilakukan perusahaan merupakan hak pemilik (atau jika rugi, maka tanggung jawab pemilik). Logika ini yang menjadi dasar bahwa ekuitas (setoran pemilik dan pengambilan sumber daya oleh pemilik) menjadi berubah setelah adanya kinerja, sehingga perlu dilaporkan dalam laporan perubahan ekuitas, yaitu sebuah laporan yang menunjukkan perubahan ekuitas karena setoran dari pemilik (dalam bentuk setoran modal jika perusahaan perorangan, dan saham jika PT), distribusi ke pemilik (prive jika perusahaan perorangan, dan dividen jika PT), dan saldo akumulasi dari kinerja perusahaan (saldo laba – jaman dulu disebut laba ditahan).

Aset = Liabilitas + Ekuitas (yang mana ekuitas merupakan ekuitas akhir yang sudah ditambah dengan kinerja) merupakan dasar penyajian laporan posisi keuangan (dulu disebut laporan neraca).

Penjabaran singkat mengenai pelaporan keuangan di atas perlu digunakan untuk memahami apa fungsi dari saham dan obligasi yang akan dijelaskan dalam paparan berikut ini.

Dalam suatu kondisi tertentu, perusahaan mungkin membutuhkan dana yang cukup besar. Misalnya, perusahaan akan melakukan ekspansi, atau akan memproduksi produk baru, atau membeli gedung dan mesin-mesin baru.

Dalam kondisi semacam ini, perusahaan jelas tidak mungkin menggunakan kas (aset) yang dimilikinya di Bank. Hal ini dikarenakan perusahaan perlu menjaga likuiditas, atau kemampuannya untuk melakukan transaksi secara tunai (seringkali likuiditas juga dihubungkan dengan kemampuan untuk membayar utang lancar/utang yang harus dilunasi dalam jangka waktu kurang dari satu tahun).

Sehingga, opsi yang dapat digunakan untuk melakukan pendanaan adalah dengan cara mencari pinjaman, yaitu ke kreditor (dalam bentuk Liabilitas) atau ke pemilik (dalam bentuk ekuitas). Untuk pendanaan dalam jumlah besar, tentu saja perusahaan tidak mungkin melakukan pinjaman jangka pendek (liabilitas jangka pendek – jatuh tempo kurang dari satu tahun), selain karena waktu pelunasan yang sangat pendek untuk jumlah sebegitu besar, juga karena adanya faktor nilai waktu dari uang (time value of money). Pinjaman yang paling mungkin dilakukan oleh perusahaan adalah pinjaman jangka panjang (liabilitas jangka panjang), salah satunya dengan menerbitkan obligasi, atau dengan meminjam ke pemilik (menerbitkan saham – menambah jumlah kepemilikan atas perusahaan).

Sebagai liabilitas jangka panjang, obligasi memiliki waktu jatuh tempo (pasti lebih dari satu tahun) dan nilai jatuh tempo. Selain itu, jika menerbitkan obligasi, perusahaan harus membayar bunga obligasi dalam periode yang telah ditentukan dalam obligasi tersebut (biasanya tahunan atau semesteran/semi annual). Berbeda dengan utang jangka panjang lain, obligasi sangat terpengaruh oleh time value of money, dan menggunakan i atau interest rate sebagai faktor penentu nilai kini dari liabilitas masa depan. Jumlah dana yang akan diterima oleh perusahaan yang menerbitkan obligasi merupakan nilai kini dari nilai jatuh tempo yang tertera dalam obligasi yang diterbitkan. Sehingga interest rate pada saat penerbitan obligasi akan mempengaruhi jumlah dana yang diterima perusahaan.

Sebagai contoh, perusahaan menerbitkan obligasi pada tanggal 18 Juli 2011 dengan nilai jatuh tempo Rp100.000.000.000, akan jatuh tempo sepuluh tahun lagi. Setiap tahun perusahaan akan membayar bunga sebesar 10% dari nilai obligasi tersebut. Pembayaran dilakukan dua kali dalam satu tahun (semi annual). Dalam penerbitan obligasi ini, jumlah dana yang akan diterima perusahaan akan tergantung pada interest rate (biasanya dikeluarkan oleh BI) pada saat penerbitan – karena akuntansi mencatat kejadian pada saat terjadinya transaksi, jadi walaupun besok interest rate juga bisa berubah, tapi interest rate yang digunakan adalah interest rate pada saat perusahaan menerbitkan obligasi tersebut. Jumlah dana yang diterima perusahaan adalah nilai kini (present value/PV) dari nilai jatuh tempo obligasi (future value/FV) yang dihitung dengan rumus PV = FV*(1 + i)^(-n) ditambah dengan nilai kini dari bunga obligasi yang akan dibayarkan yang dihitung dengan rumus PV annuity. Secara akuntansi, obligasi ini setiap tahunnya akan diamortisasi dengan prinsip perhitungan present value.

Jika perusahaan akan melakukan pendanaan dengan cara menerbitkan obligasi, perusahaan harus memiliki sumber daya (aset) yang cukup kuat, untuk menjamin bahwa pada waktu jatuh tempo obligasi ini dapat dibayarkan sesuai nilai jatuh temponya. Penjaminan ini bisa secara eksplisit tertera dalam obligasi atau secara implisit. Obligasi yang secara eksplisit menjamin disebut sebagai secured obligation. Sedangkan penjaminan secara implisit biasanya dilakukan oleh perusahaan yang sudah kuat secara keuangannya, karena jika perusahaan gagal membayar obligasi pada waktu jatuh temponya sebesar nilai jatuh temponya, maka stakeholder lainnya dapat menilai kredibilitas perusahaan tersebut rendah, dan kepercayaan terhadap perusahaan tersebut bisa turun. Dampak dari ketidakmampuan perusahaan dalam membayar ini akan sangat besar sekali bagi perusahaan.

Selain menerbitkan obligasi, untuk pendanaan dalam jumlah besar perusahaan juga dapat menerbitkan saham. Berbeda dengan obligasi (surat utang), saham merupakan surat bukti kepemilikan atas suatu perusaahaan. Dengan membeli saham, berarti orang/perusahaan memiliki hak atas kinerja (laba) dari perusahaan yang menerbitkan saham tersebut. Pendanaan dengan menggunakan saham memiliki keunggulan dibandingkan obligasi, yaitu tidak ada jatuh tempo pengembalian. Hal ini dikarenakan hubungan antara perusahaan penerbit saham dengan pembeli saham adalah hubungan kepemilikan. Si pemilik akan mendapat keuntungan dari membeli saham jika perusahaan memutuskan untuk membagi dividen pada saat perusahaan tersebut bisa membagi dividen (saldo labanya sudah jauh melampaui batas cadangan yang diharuskan, dan manajemen memutuskan untuk membagi dividen). Berbeda dengan bunga obligasi yang didapat oleh pembeli obligasi secara tahunan, pembagian dividen untuk pemegang saham ini sifatnya belum tentu tahunan tetapi tergantung kemampuan perusahaan.

Keuntungan pendanaan dengan menerbitkan saham adalah tidak adanya jatuh tempo pengembalian dana. Tetapi kelemahannya, laba per saham (earning per share) akan turun. Hal ini karena laba yang sebelumnya dibagi sejumlah X saham, menjadi X + tambahan saham yang diterbitkan. Bagi pemegang saham lama, hal ini merupakan suatu kerugian karena sebelumnya dia mendapat Laba/X, sekarang dia hanya mendapat Laba/X + tambahan saham yang diterbitkan. Selain itu, karena saham merupakan bukti kepemilikan, maka akan semakin banyak pihak yang memiliki perusahaan penerbit tersebut. Jika ada satu perusahaan atau entitas yang membeli saham dalam jumlah besar dan memiliki lebih dari 50% saham beredar, maka pihak tersebut otomatis akan menjadi entitas pengendali yang memiliki hak dan pengendalian atas perusahaan. Dengan menerbitkan saham, akan terjadi perubahan struktur pengendalian atau kepemilikan dalam perusahaan.

Keuntungan pendanaan dengan menerbitkan obligasi adalah, tidak adanya perubahan struktur pengendalian dan kepemilikan. Selain itu, jumlah laba per saham tidak akan mengalami perubahan karena pembaginya tetap. Hanya saja, perusahaan harus dapat membayar nilai jatuh tempo obligasi pada saat jatuh temponya dan juga harus membayarkan bunga obligasi setiap periodenya. Hal ini akan membutuhkan struktur sumber daya (aset) yang cukup kuat dari perusahaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s