Accounting Mathematics

Minggu lalu saya bertemu dengan dosen saya yang bernama Dr. Sony Warsono, MAFIS., Ak. Beliau ini adalah dosen pengampu matakuliah Sistem Informasi Akuntansi ketika saya masih kuliah dulu.

Saat bertemu, beliau berkata bahwa beliau sedang memiliki obsesi dalam suatu hal. Kemudian beliau bertanya, “Apa itu debit dan apa itu kredit? Kenapa kok akuntansi itu debit dan kredit?”

Saya menjawab bahwa istilah itu merupakan kesepakatan dalam pencatatan double entry. Double entry itu digunakan untuk menunjukkan perubahan-perubahan pada aset pemilik yang dikelola perusahaan. Sebagai contoh, kas bertambah Rp10.000 (ini penulisan Rp yang benar). Kalau tidak menggunakan double entry, pemilik tidak akan tahu kas bertambah Rp10.000 itu asalnya darimana. Hal ini sejalan dengan konsep kesatuan usaha, yaitu perusahaan terpisah dengan pemilik.

Kemudian Pak Sony bertanya lagi, “Kenapa kok kalau aset bertambah itu didebit? Terus kenapa biaya juga seperti itu?”

Saya menjawab, karena sudah secara kesepakatan bahwa aset bertambah itu didebit. Sedangkan biaya juga didebit karena untuk menunjukkan penurunan aset (dikredit) asalnya darimana. Ini hampir serupa dengan, kenapa pendapatan bertambah malah dikredit? Itu karena, untuk menunjukkan bertambahnya aset (debit), karena ada pendapatan (kredit), dan pendapatan ini meningkatkan ekuitas (ekuitas bertambah dikredit). Lebih jelasnya lagi, pendapatan naik, laba naik, laba menambah ekuitas, jadi ekuitas ikut naik.

Kemudian Pak Sony menjelaskan bahwa debit kredit itu memang benar bukan tambah dan kurang. Buktinya pendapatan bertambah itu dikredit sedangkan aset bertambah itu didebit. Debit kredit itu dari asal muasalnya berarti kiri kanan. Nah, inilah yang seharusnya dimasukkan dalam pengajaran akuntansi, sehingga mahasiswa tidak salah konsep. Lalu, kenapa kok kiri kanan? Bukan depan belakang?

Setelah bertanya itu, Pak Sony menggambar persamaan akuntansi yaitu,

Aset = Kewajiban + Ekuitas

Dari persamaan ini, Pak Sony menjabarkan lagi menjadi

Aset = Kewajiban + Ekuitas + Pendapatan – Biaya

Kemudian persamaan ini diturunkan lagi menjadi

Aset + Biaya = Kewajiban + Ekuitas + Pendapatan.

Setelah itu, Pak Sony berkata, lihat persamaan ini, ini jawaban kenapa Aset dan Biaya bertambah sama-sama didebit, sedangkan pendapatan, kewajiban dan ekuitas dikredit. Ini karena asalnya dari persamaan akuntansi. Persamaan akuntansi ini juga menjelaskan kenapa akuntansi kok kiri-kanan, karena asalnya memang dari persamaan matematika (matematika mengenal ruas kiri dan ruas kanan persamaan).

Kemudian, saya berargumen bahwa persamaan akuntansi bukan merupakan persamaan matematika, sehingga tidak bisa dibolak-balik seperti itu (baca buku Teori Akuntansi karangan Suwardjono). Kenapa kok tidak bisa? Karena sebetulnya persamaan akuntansi itu mau menunjukkan bahwa perusahaan itu mengelola aset pemilik. Oleh karena itu, yang ditunjukkan dari persamaan akuntansi adalah Aset sama dengan.

Selain itu, kalau dalam persamaan akuntansi Biaya dipindah ke kiri, esensi dari persamaan akuntansi yang mau menunjukkan bahwa perusahaan mengelola aset pemilik dan fungsi akuntansi melaporkan perubahan aset yang dikelola, jadi tidak kena lagi.

Pak Sony Warsono kemudian menjawab, coba buktikan kalau persamaan akuntansi memang benar-benar tidak bisa menjadi persamaan matematika. Apakah Aset + Biaya = Kewajiban + Ekuitas + Pendapatan itu salah? Benar kan secara matematika? Lalu kenapa tidak boleh?

Saya mulai berpikir lebih lanjut lagi, secara logis hal ini memang benar. Kemudian Pak Sony berkata bahwa akuntansi itu terlalu jauh dibawa ke ilmu sosial. Padahal dari asalnya, akuntansi debit kredit itu tertuang dalam buku Summa de Aritmatica, Geometrica, Proportini et Proportionalita karangan Lucas Pascioli (Bapak Akuntansi). Summa de Aritmatica itu ‘kan buku matematika, tetapi dalam perkembangannya akuntansi malah dibawa ke ilmu sosial. Ini yang membuat ilmu akuntansi perkembangannya tidak banyak (disini ditulis ilmu akuntansi, bukan standar atau praktek).

Argumen Pak Sony benar seacara logis. Tetapi kita tidak bisa memungkiri bahwa akuntansi itu memang ilmu sosial, karena akuntansi dipengaruhi unsur judgement, asumsi, perkiraan, politis. Bisa dibilang, tidak ada yang cukup eksak dari akuntansi. Bahkan secara empiris kita bisa menemukan praktek akuntansi yang berbeda-beda dari satu perusahaan dengan perusahaan yang lain, dan tidak ada yang salah dari perusahaan-perusahaan ini. Malah kalau kita lihat lebih lanjut, akuntansi memiliki standar akuntansi yang lebih mirip dengan hukum dan perundang-undangan (baik dalam pembuatannya maupun dalam penggunaannya).

Kemudian, Pak Sony mengungkit definisi dari pendapatan yaitu, pendapatan merupakan peningkatan ekuitas. Secara persamaan akuntansi, jika satu variabel dari ruas kanan persamaan matematika naik (pendapatan) bersamaan dengan naiknya variabel lain dari ruas kanan (ekuitas), tidak akan mungkin bisa. Ini jadi mungkin karena ruas kanan naik (pendapatan) kemudian ruas kiri naik dulu (aset), baru ruas kanan ikut naik (ekuitas).

Secara persamaan matematika, logika ini benar. Begitu juga secara aliran data akuntansi.

Dalam persamaan Aset + Biaya = Kewajiban + Ekuitas + Pendapatan, ruas kiri persamaan menunjukkan use of funds, sedangkan ruas kanan persamaan menunjukkan source of funds.

Setelah itu, Pak Sony menjelaskan lagi, secara persamaan matematika ada hal dalam akuntansi yang harusnya ada, malah jadi tidak ada. Beliau memberi contoh, ada dua perusahaan yaitu TVRI dan Kompas. TVRI memasang iklan di Kompas senilai Rp100.000.000, kemudian Kompas memasang iklan di TVRI dengan nilai yang sama yaitu, Rp100.000.000. Kejadian ini kemudian dicatat sebagai Biaya iklan (D) Rp100.000.000 pada Pendapatan Iklan (K) Rp100.000.000. Hal ini logis karena secara persamaan, Aset + Biaya = Kewajiban + Ekuitas + Pendapatan. Naiknya ruas kiri (biaya) diikuti naiknya ruas kanan (pendapatan). Hanya saja, kita akan jarang menemukan jurnal Biaya pada Pendapatan untuk transaksi terkait dua entitas berbeda. Inilah yang dimaksud Pak Sony, akuntansi malah membuat hal yang seharusnya ada (secara logika matematika) jadi tidak ada.

Saat itu, saya berargumen bahwa kejadian barter diatas agak absurd. Secara nyata, perusahaan jarang yang secara rasional mau melakukan barter. Tetapi secara logis, hal ini benar.

Pada akhir pembicaraan, Pak Sony masih ingin mempertahankan pemikirannya dan ingin saya mau untuk menerima hal ini. Saya sebetulnya sudah menerima pemikiran Pak Sony sejak awal pembicaraan, hanya saya menggunakan prinsip keilmuan, yaitu suatu ilmu harus tidak mudah untuk digoyahkan. Saya mengatakan hal ini pada akhir pembicaraan. Pak Sony tersenyum dan berkata, “Tapi sekarang sudah goyah kan?”

Saya tersenyum. Benar kata-kata beliau, saya jadi tertarik dengan pemikiran ini.

Kemarin, saya menceritakan hal ini dalam kuliah. Ternyata apa yang dikatakan Pak Sony dalam contoh TVRI dan Kompas (barter) dan jurnal Biaya pada Pendapatan dalam transaksi antar dua entitas berbeda, benar-benar terjadi dalam praktek.

Mahasiswa saya bercerita bahwa Ia bekerja di perusahaan developer. Perusahaan ini cukup sering melakukan barter. Contoh nyata yang dialami mahasiswa saya adalah, pemasangan teralis untuk beberapa puluh rumah yang ditukar dengan sebuah rumah jadi dengan nilai yang sama. Jurnalnya, Biaya pemasangan teralis (D) pada Pendapatan penjualan rumah (K). Secara rasional, perusahaan teralis dan developer ini merasa sama-sama untung untuk melakukan transaksi barter, jadi kedua perusahaan ini mau melakukan hal ini. Kenyataan inilah yang hilang dalam pengajaran akuntansi.

Sekarang, saya jadi benar-benar tertarik dengan Accounting Mathemathics. Anda juga tertarik? Search di Google dengan keyword: Accounting Mathematics Sony Warsono.

18 thoughts on “Accounting Mathematics

  1. Quote “Pak Sony Warsono kemudian menjawab, coba buktikan kalau persamaan akuntansi memang benar-benar tidak bisa menjadi persamaan matematika. Apakah Aset + Biaya = Kewajiban + Ekuitas + Pendapatan itu salah? Benar kan secara matematika? Lalu kenapa tidak boleh?”

    gini pak… saya dirumah pikir berkali2 pendapat saya adalah sebgai berikut:
    bukan tidak boleh tetapi kalau menurut suwardjono kan akuntansi adalah sebagai suatu teknologi…
    kalau teknologi kan seperangkat pengetahuan yang dirancang sedemikian rupa untuk menghasilkan sesuatu (produk) yang bermanfaat bagi pengguna..
    apabila akuntansi adalah sebagai teknologi maka adanya hasil yang diinginkan atau hasil yang di akan bermanfaat bagi pengguna. maka dari itu persamaan akuntansi yang digunakan sekarang adalah akuntansi yang dinalarkan oleh akademisi untuk mencapai manfaat yang akan digunakan oleh pengguna.
    maka dari itu tidaklah menutup kemungkinan bahwa accounting mathematics adalah benar tetapi yang akuntansi yang digunakan sekarang lebih tertuju kepada kebermanfaatan pertanggungjelasan aset perusahaan didapatkan darimana

  2. Quote “Kemudian, Pak Sony mengungkit definisi dari pendapatan yaitu, pendapatan merupakan peningkatan ekuitas. Secara persamaan akuntansi, jika satu variabel dari ruas kanan persamaan matematika naik (pendapatan) bersamaan dengan naiknya variabel lain dari ruas kanan (ekuitas), tidak akan mungkin bisa. Ini jadi mungkin karena ruas kanan naik (pendapatan) kemudian ruas kiri naik dulu (aset), baru ruas kanan ikut naik (ekuitas).”

    menurut saya persamaan akuntansi yang biasa digunakan kan hanya A=K+E doank…
    adanya unsur A=K+E+P-B kan ada karena persamaan tersebut digunakan untuk menunjukkan aset didapatkan dari mana bukanlah persamaan akuntansi = A=K+E+P-B.

    apabila persamaan akuntansi harus dijadikan sebagai A=K+E+P-B mengapa tidak dijadikan sebagai A=K+E+P-B+I-D seperti menurut suwarjono??? karena persamaan tersebut hanyalah persamaan untuk menunjukkan pertanggungjelasan entitas kepada pemilik.

    dan menurut saya pendapatan bukanlah variabel yang independen dalam persamaan tersebut makanya pendapatan dan biaya harus ada closing entries dimana pendapatan dan biaya akan dimasukkan kedalam ekuitas secara bertahap.

    konklusi: persamaan akuntansi hanyalah A=K+E dimana pendapatan dan biaya hanyalah temporary account untuk persamaan diatas

  3. pertama, terimakasih kepada mas Handoko atas summary diskusi kita beberapa waktu lalu. Sedangkan untuk pak Iskandar, mungkin ada pertanyaan yang perlu dijelaskan oleh akuntansi yang sekarang ini, yaitu “Mengapa Utang dan Pendapatan itu ketentuan debet dan kreditnya sama?” Kalau itu dianggap sebagai aturan, mengapa tidak dibuat kesepakatan bahwa semua bertambah di debet, berkurang di kredit? dan menariknya kesepakatan itu berlangsung selama 500 tahun lebih. Anyway, buah pikir kami terdapat di buku “Akuntansi itu ternyata logis dan mudah” ataupun di buku “Akuntansi Pengantar 1 Berbasis Matematika”.

  4. Bagus sekali tulisannya Pak Handoko, menambah referensi saya dalam belajar akuntansi menjadi lebih asik dan menarik.
    Semangat Pak Handoko, saya tunggu tulisan selanjyutnya.
    Kalau bisa fotonya di update biar saya gak kaget kalau liat aslinya, hehehe..
    Sukses Pak Handoko

  5. wah wah tulisan yang sangat berguna dan menambah wawasan..
    saya nantikan tulisan bapak yang berikutnya..

    dosen saya pernah bilang “akuntansi berbeda dengan matematik, bukan soal benar atau salah, tapi wajar atau tidak wajar”.

    boleh saya minta pendapat bapak tentang quote dosen saya di atas.?
    trims

    • Saya setuju dengan quote tersebut, karena yang dimaksudkan dosen anda dalam quote tersebut adalah informasi akuntansi dalam laporan keuangan. Coba anda baca buku auditing dan periksa conceptual framework (KDPPLK dalam SAK). Akuntansi dalam praktiknya (terutama di perusahaan besar) sangat sulit untuk dapat menyajikan informasi keuangan yang benar dalam arti secara matematis, karena ada unsur materialitas, serta karakteristik kualitatif relevansi, biaya-manfaat, dan ketepatan waktu. Penyajian informasi akuntansi yang benar secara matematis membuat seluruh transaksi harus menjadi material. Hal ini akan meningkatkan biaya penyajian laporan keuangan, menurunkan relevansi, dan ketepatan waktu. Padahal, laporan keuangan tidak perlu sebenar itu dalam menyajikan informasi. Cukup informasi yang material terhadap pengambilan keputusan.
      Jangan kaitkan pembahasan accounting mathematics dengan permasalahan kewajaran informasi akuntansi dalam laporan keuangan, karena accounting mathematics adalah suatu pendekatan dalam menjelaskan persamaan akuntansi yang berdampak pada sistem penjurnalan.
      Salam,

  6. Akuntansi itu membutuhkan matematika tetapi matematika disamakan dengan akuntansi dia menjadi tidak balance.
    contohnya: Aset + Biaya = Kewajiban + Ekuitas + Pendapatan.

    Biasanya orang menekan biaya sekecil kecilnya dan mengangkat pendapatan sebesar besarnya yang kita sebut keuntungan atau sebaliknya kerugian.
    Jadi kalau akuntansi jadi matematika teory Aset + Biaya = Kewajiban + Ekuitas + Pendapatan tidak akan balance kecuali pendapatan sama dengan biaya. Artinya kita kerja bakti.

    • Persamaan akuntansi itu asalnya dari persamaan matematika (Luca Pascioli, Bapak Akuntansi merupakan seorang matematikawan). Persamaan akuntansi dasar adalah Aset = Liabilitas + Ekuitas. Persamaan dasar ini menunjukkan kondisi awal ketika entitas belum berkinerja. Jadi, sumber aset yang dimiliki entitas asalnya dari ekuitas (modal dari pemilik) ditambah dengan liabilitas (utang ke pihak ketiga). Pahami dulu konsep awal ini.
      Ketika entitas sudah mulai beroperasi, entitas akan berupaya/mengeluarkan biaya (expense) untuk mendapatkan pendapatan (revenue). Persamaan akuntansi menjadi Aset = Liabilitas + Ekuitas + Pendapatan – Biaya. Kondisi ini menunjukkan bahwa aset yang dimiliki entitas kini berubah karena ada faktor kinerja (Pendapatan – Biaya). Bila kinerja baik (pendapatan > biaya) maka entitas mengalami laba. Jika kinerja buruk (pendapatan < biaya) maka entitas mengalami rugi. Dalam berkinerja, entitas memang tidak pernah mendapatkan biaya yang sama dengan pendapatan. Kalau biaya = pendapatan, berarti perubahan aset entitas hanya berasal dari utang, baik utang ke pihak ketiga (liabilitas) atau utang ke pemilik/modal dari pemilik (ekuitas). Konyol. Keadaannya selalu hanya dua, pendapatan lebih besar daripada biaya (bila entitasnya baik), atau bila entitasnya buruk maka biayanya yang lebih besar.
      Sekarang masuk ke konsep selanjutnya,
      Tadi sudah dibahas bahwa dalam keadaan awal, sumber aset dari entitas sumbernya dari ekuitas (modal dari pemilik) dan liabilitas (utang ke pihak ketiga). Kemudian, entitas berkinerja, entitas mulai melakukan upaya untuk mendapatkan hasil, atau mengeluarkan biaya (expense) untuk mendapatkan pendapatan (revenue). Dari konsep ini, biaya muncul karena upaya untuk mendapatkan pendapatan. Bila tidak berupaya (mengeluarkan biaya), maka tidak akan mendapatkan pendapatan. Oleh karena itu, istilah expense tidak pas bila disebut sebagai beban (baca artikel cost-kos, expense-biaya). Dalam berupaya, entitas tidak selalu mendapatkan pendapatan yang sama (baca lagi paragraf sebelumnya). Nah, biaya yang dikeluarkan entitas ini merupakan tanggungan dari pemilik (akan mengurangi elemen ekuitas). Sedangkan pendapatan akan menjadi hak pemilik (akan menambah elemen ekuitas). Kenapa? Karena entitas bekerja untuk pemilik (konsep kesatuan usaha atau entity concept). Oleh karena itu, dalam SAK pendapatan didefinisikan sebagai peningkatan aset (aliran masuk aset), penurunan kewajiban, atau peningkatan ekuitas yang berasal dari kegiatan selain kegiatan distribusi dari pemilik. Sedangkan biaya didefinisikan sebagai penurunan aset (aliran keluar aset), peningkatan kewajiban, atau penurunan ekuitas yang berasal dari kegiatan selain kegiatan distribusi ke pemilik.
      Hal ini dapat dijelaskan dengan mudah lagi seperti ini,
      Ketika entitas mengeluarkan biaya (expense), entitas otomatis pasti mengeluarkan kas (atau utang bila secara kredit). Contohnya, membayar biaya listrik, pasti menggunakan kas. Maka dari persamaan akuntansi, yang berubah adalah elemen aset (kas berkurang) dan elemen biaya (biaya bertambah). Jadi kalau dilihat ke persamaan akuntansinya:
      Aset (-) = Liabilitas + Ekuitas + Pendapatan – Biaya (+)
      ekuivalen dengan:
      Aset (-) + Biaya (+) = Liabilitas + Ekuitas + Pendapatan.
      Anda lihat di sini, ruas kiri (debit) tetap sama dengan ruas kanan (kredit). Persamaan tetap balance. Itulah kenapa persamaan akuntansi merupakan dasar dari sistem jurnal double entry yang saat ini digunakan.
      Kemudian, jika biaya keluar terus, tanpa adanya pendapatan masuk. Persamaan akuntansinya akan tetap balance (saya tidak perlu menjelaskan lebih jelas lagi, karena saya yakin bahwa logika anda sekarang sudah jalan).
      Sekarang, bila ada pendapatan, maka yang terjadi adalah, muncul pendapatan yang diiringi dengan bertambahnya kas (atau piutang bila pendapatan kredit). Persamaan akuntansinya menjadi:
      Aset (+) = Liabilitas + Ekuitas + Pendapatan (+) – Biaya
      atau ekuivalen dengan
      Aset (+) + Biaya = Liabilitas + Ekuitas + Pendapatan (+).
      Anda lihat, sekali lagi persamaan akuntansi tetap balance.
      Jadi, persamaan akuntansi akan tetap balance walaupun biaya lebih banyak dari pendapatan sekalipun.

      Saudara kelihatannya bukan dari bidang akuntansi. Jadi, mohon dipelajari dulu akuntansi pengantar dan Teori Akuntansi. Atau mungkin saudara bisa bertanya ke divisi akuntansi di heibatam.
      Salam,

  7. Ulasan yang menarik !
    Semenarik membaca tulisan Pak Sony Warsono dalam “Reformasi Akuntansi: Membongkar Bounded Rationality Pengembangan Akuntansi”
    Juga semenarik membaca tulisan Pak Sony lainnya (“Mathematics in Accounting; A Big Unanswered Question”).

    Membaca kedua tulisan Pak sony tersebut (ditambah lagi membaca ulasan Pak Y. Handoko ini), saya merasa terprovokasi untuk memiliki suatu rasionalitas; bahwa akuntansi sebenarnya adalah turunan dari matematika. Dan karenanya sudah seharusnya segala logika matematika (dengan logikanya yang universal) dapat berlaku di dunia akuntansi.

    Tapi kenapa yaaa ??? Sesuatu yang menjadi turunan matematika (baca: akuntansi) masih harus memiliki rasionalitas terbelenggu (saya pinjam istilah Pak Sony) yang membatasi logika universal…

    Anyway, pikiran awam saya secara iseng bisa aja bilang; justru karena ada rasionalitas terbelenggu inilah dari ranah akuntansi bisa lahir turunan-turunan disiplin seperti audit dan akuntansi forensik.

    Terima kasih Pak Handoko,
    Salam

    • Hehehe, hidup Pak Sony! Selama ini kita melupakan bahwa persamaan akuntansi dasarnya dari persamaan matematika, tetapi kita punya Pak Sony Warsono. Pertemuan dengan beliau waktu itu tidak akan saya lupakan.
      Jangan lupa baca juga debere-credere di tulisan ini. Persamaan akuntansi itu sebetulnya bisa dilihat dari 2 sudut, satu sudut (accounting mathematics) untuk menjelaskan aturan penjurnalan, satu sudut untuk menjelaskan laporan keuangan dan konsep entitas.
      Coba baca juga buku Teori Akuntansi karangan Pak Prof.Suwardjono. Prinsip-prinsip akuntansi yang ada di buku itu, ditambah accounting mathematicsnya Pak Sony Warsono, telah memudahkan saya dalam mengajar orang-orang yang masih awam di bidang akuntansi, maupun menyelesaikan kasus-kasus di bidang akuntansi. Plus, baca buku Pemrograman Akuntansi berbasis Microsoft Access karangan Pak Sumiyana. Buku-buku ini sangat membantu saya dalam memahami logika pemrograman akuntansi menggunakan database terintegrasi. Bahkan saya sudah mencoba membuat aplikasi akuntansi yang berbasis database terintegrasi menggunakan Microsoft Access.
      Jangan berhenti di persamaan matematika, akuntansi jauh lebih besar dan lebih menyenangkan dari itu. Tujuan Pak Sony dengan accounting mathematicsnya adalah mengantarkan kita menuju jalan akuntansi yang benar. Prinsip-prinsip akuntansi, pengukuran transaksi, penilaian transaksi, pengakuan transaksi, banyak hal yang masih perlu kita pecahkan di bidang akuntansi.
      Salam

      • Ada baiknya anda juga membaca Suwardjono “Akuntansi Pengantar 1: Proses Penciptaa Data, Pendekatan Sistem” (BPFE, 2002) khususnya Bab 4 dan 5 agar diperoleh pemahaman tentang makna persamaan akuntansi yang sebenarnya dalam konteks pertanggungjawaban entitas kepada pihak yang berkepentingan. Perlu dicatat bahwa logika dapat mengecoh kalau kita tidak memperhatikan asumsi tersembunyi yang tidak valid atau relevan. Silakan baca kembali apa yang disebut “stratagem” dan “salah nalar/logika” dalam Teori Akuntansi Suwardjono (Bab 2) agar anda tidak terkecoh.

        • Baik Pak, terima kasih. Saya sudah membuat perumusan barunya. Waktu itu sudah pernah didiskusikan juga dengan Bapak di ruangan Bapak. Kalau tidak salah sekitar tahun 2011 saya mampir & diberi minuman kaleng pocari sweat karena saya ceritanya berapi-api…

          • Wah saya senang dapat berjumpa lagi dengan anda melalui media ini. Dari berbagai penjelasan anda terhadap beberapa penanya, saya menangkap kesan bahwa anda memang menguasai teori akuntansi (tidak harus dari buku saya bahkan mungkin dari buku lain yang lebih kaya). Saya dapat merasakan apa yang anda alami ketika bertemu dengan orang yang tidak menguasai teori akuntansi membahas masalah yang memerlukan landasan teoretis yang kuat sehingga argumen-argumen yang diajukan sangat nalar dan valid. Saya dapat membayangkan frustrasi anda kalau harus berdiskusi dengan misalnya anggota DSAK.
            Pertanyaan-pertanyaan dan sanggahan anda terhadap gagasan Pak Sony sangat jitu (seperti yang anda ceritakan di awal artikel anda). Hanya anda tampaknya tidak berusaha untuk menjawab argumen yang bersifat “stratagem”.
            Saya yakin anda telah membaca dengan saksama buku Pak Sony “Reformasi Akuntansi: Membongkar Bounded Rationality”. Setelah membaca “Bab Penalaran” saya, coba anda identifikasi mana penalaran dalam “Reformasi Akuntansi” yang sebenarnya merupakan “stratagem”, “dilema semu”, “kecohan logika”, “argumen dengan analogi yang tidak tepat”, dan “ketaksesuaian premis dengan konklusi”!
            Banyak hal yang perlu dipertanyakan (“questionable”) dalam penalaran yang digunakan dalam buku tersebut. Kita bisa diskusi lebih lanjut (bukan debat kusir untuk menang-menangan) untuk mendapatkan solusi yang paling valid.
            Apakah saya dapat menghubungi anda melalui pos-el dalam blog anda ini?
            Oh ya, apakah anda pernah menengok website saya di suwardjono.staff.ugm.ac.id?

            Salam,

            Suwardjono

          • Saya juga senang sekali Bapak tiba-tiba mengunjungi blog ini dan langsung meninggalkan komentar pada pukul 00.54 kemarin (luar biasa). Saya jadi ingin pulang ke Jogja dan mampir ke ruangan Bapak lagi.
            Saya sudah tengok blog Bapak. Mohon izin untuk saya tautkan dengan blog ini Pak.
            Mengenai diskusi, saya senang jika bisa berdiskusi dengan Bapak. Saya coba kirim email ke email kantor Bapak.

            Salam,
            Handoko

  8. Terima kasih Pak Handoko…
    Nanti saya coba berburu buku-buku atau tulisan yang Pak Handoko sebut tadi.
    Saya bukan seorang akuntan, tapi kebetulan udah pernah kecebur beberapa tahun di praktek-praktek akuntansi di industri.
    Dan baru-baru ini mengubah haluan karir menjadi calon akademisi di bidang akuntansi juga.

    Sebenarnya saya juga pengen tau jawaban Pak Sony, Pak Handoko, dan accounting scholar lainnya di Indonesia terhadap pertanyaan-pertanyaan (yang kemudian menjadi judul dari tulisan) Joel S. Demski dan John C. Fellingham; Is Accounting an Academic Discipline? khususnya dalam ranah pendidikan di Indonesia.

    Kalau ada diskusi-diskusi seru mengenai hal-hal seperti ini jangan lupa ajak saya sebagai pendengar atau penonton yaaa Pak Handoko.

    Terima kasih sebelumnya.

  9. mungkin sebetulnya bukan lucas pacioli yang menemukan prinsip akuntansi
    masih ada sejarahnya lagi, andai bisa ketemu pak sony untuk mengembangkan hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s